NILAI YANG TERKANDUNG DALAM SEHELAI BATIK
Hari
Batik Nasional diperingati setiap tanggal 2 Oktober setiap tahunnya. Dimulai dari
2 Oktober tahun 2009 lalu hingga saat ini. Bertempat di Abu Dhabi, UNESCO saat sidang
ke empat tentang Komite Antar Pemerintah tentang Warisan Budaya Non benda. “Batik”?
Begitu mendengar kata “Batik” identic sekali dengan nuansa Budaya Indonesia. Ya,
batik sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia. Keris
dan wayang sudah diakui oleh UNESCO sebelumnya sebagai salah satu warisan
budaya kita. Lalu bagaimana jika fashion trend masa kini dipadukan dengan
batik. Sekilas, mendengar kata batik yang terpikirkan adalah “Tradisional,
kuno, ketinggalan jaman”. Kata siapa sesuatu yang tradisional seperti batik selalu
kuno dan ketinggalan jaman? Buktinya, banyak di antara designer-designer local seperti
Oscar Lawalata, Denny Wirawan, Edward Hutabarat memperkenalkan batik sebagai
salah satu trend fashion masa kini hingga kancah internasional. Oscar lawalata
tidak lama ini sekitar juni 2018 sukses menggelar pameran “Batik for The World,
Paris”. Denny Wirawan, sebelumnya sukses menggelar fashion show di Fashion
Gallery New York Fashion Week di New York pada Februari 2016 lalu. Denny
Wirawan lebih memperkenalkan batik kudus dalam fashion shownya. Lalu ada Edward
Hutabarat yang telah berjasa dalam memperkenalkan batik motif mega mendung. Dengan
kepiawaiannya dalam merancang busana yang modern, berkelas dan elegan,
rancangan busana karya Edward Hutabarat ini mampu bersanding dengan tas-tas
ataupun sepatu bermerk kelas dunia seperti, Hermes ataupun Gucci.
Tokoh-tokoh
besar seperti mereka sudah berperan penting dalam memperkenalkan batik sebagai
suatu Warisan Budaya yang layak di lestarikan hingga kancah internasional. Lalu
apa kontribusi kita, warga Bangsa Indonesia sebagai pemilik budaya tersebut dalam
melestarikan Warisan Budaya yang begitu mahal harganya sehingga tidak bisa
dibeli oleh apapun dan siapapun. Banyak dari bangsa lain yang iri terhadap
bangsa kita karena kekayaan budayanya. Hingga mereka ingin mengklaim warisan
kita “Batik” sebagai Warisan Budaya miliknya. Apakah kita hanya bisa diam dan
tidak melakukan apa-apa untuk Warisan Budaya ini? Setidaknya, kita sebagai
bangsa Indonesia lestarikanlah dengan cara memakainya, kalau perlu belajar cara
membuatnya agar kelak nanti dapat disalurkan dan diwariskan oleh anak cucu
kita. Itu sebagai salah satu contoh kontribusi kita dalam melestarikan “Batik
Kita”.
Banyak
pelajaran yang bisa kita ambil dari kain
batik ini. Tidak hanya melihat dari mahal atau murahnya saja, akan tetapi
nilai-nilai yang terkandung dalam kain tersebut. Setiap kain batik yang berbeda
memiliki arti yang berbeda pula. Kain batik yang berasal dari Kudus berbeda
maknanya dengan Kain Batik dari Cirebon yang terkenal dengan kain batik mega
mendungnya. Kain batik mampu mewakikili bagaimana keadaan social dari tempat
kain Batik itu berasal. Secara tidak langsung kain batik mampu menggambarkan
keadaan di setiap daerahnya. Batik pun mampu menggambarkan kondisi Negara. Jaman
dulu batik tidak hanya dipakai untuk acara-acara resmi seperti sekarang. Tapi batik
pun dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Lalu nilai estetik yang terdapat dalam
kain batik seperti tekstur dan bentuk, keindahan, warnanya hingga aroma lilin
yang khas terdapat dalam batik yang tidak dapat ditemukan di dalam jenis kain
yang lain. Perasaan bangga yang muncul ketika kita mengenakannya sebagai suatu
identitas. Kain batik pun mampu
menyimpan pesan-pesan yang tersembunyi sehingga mampu menunjukkan kepribadian
seseorang khususnya yang membuatnya.
Penulis : Adhwa Amalia Nabiila
NIM : A15.2018.01227
keyword : sejarah batik unesco
keyword : sejarah batik unesco
No comments:
Post a Comment