Wednesday, October 2, 2019

NILAI YANG TERKANDUNG DALAM SEHELAI BATIK


NILAI YANG TERKANDUNG DALAM SEHELAI BATIK

Hari Batik Nasional diperingati setiap tanggal 2 Oktober setiap tahunnya. Dimulai dari 2 Oktober tahun 2009 lalu hingga saat ini. Bertempat di Abu Dhabi, UNESCO saat sidang ke empat tentang Komite Antar Pemerintah tentang Warisan Budaya Non benda. “Batik”? Begitu mendengar kata “Batik” identic sekali dengan nuansa Budaya Indonesia. Ya, batik sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia. Keris dan wayang sudah diakui oleh UNESCO sebelumnya sebagai salah satu warisan budaya kita. Lalu bagaimana jika fashion trend masa kini dipadukan dengan batik. Sekilas, mendengar kata batik yang terpikirkan adalah “Tradisional, kuno, ketinggalan jaman”. Kata siapa sesuatu yang tradisional seperti batik selalu kuno dan ketinggalan jaman? Buktinya, banyak di antara designer-designer local seperti Oscar Lawalata, Denny Wirawan, Edward Hutabarat memperkenalkan batik sebagai salah satu trend fashion masa kini hingga kancah internasional. Oscar lawalata tidak lama ini sekitar juni 2018 sukses menggelar pameran “Batik for The World, Paris”. Denny Wirawan, sebelumnya sukses menggelar fashion show di Fashion Gallery New York Fashion Week di New York pada Februari 2016 lalu. Denny Wirawan lebih memperkenalkan batik kudus dalam fashion shownya. Lalu ada Edward Hutabarat yang telah berjasa dalam memperkenalkan batik motif mega mendung. Dengan kepiawaiannya dalam merancang busana yang modern, berkelas dan elegan, rancangan busana karya Edward Hutabarat ini mampu bersanding dengan tas-tas ataupun sepatu bermerk kelas dunia seperti, Hermes ataupun Gucci.

Tokoh-tokoh besar seperti mereka sudah berperan penting dalam memperkenalkan batik sebagai suatu Warisan Budaya yang layak di lestarikan hingga kancah internasional. Lalu apa kontribusi kita, warga Bangsa Indonesia sebagai pemilik budaya tersebut dalam melestarikan Warisan Budaya yang begitu mahal harganya sehingga tidak bisa dibeli oleh apapun dan siapapun. Banyak dari bangsa lain yang iri terhadap bangsa kita karena kekayaan budayanya. Hingga mereka ingin mengklaim warisan kita “Batik” sebagai Warisan Budaya miliknya. Apakah kita hanya bisa diam dan tidak melakukan apa-apa untuk Warisan Budaya ini? Setidaknya, kita sebagai bangsa Indonesia lestarikanlah dengan cara memakainya, kalau perlu belajar cara membuatnya agar kelak nanti dapat disalurkan dan diwariskan oleh anak cucu kita. Itu sebagai salah satu contoh kontribusi kita dalam melestarikan “Batik Kita”.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari  kain batik ini. Tidak hanya melihat dari mahal atau murahnya saja, akan tetapi nilai-nilai yang terkandung dalam kain tersebut. Setiap kain batik yang berbeda memiliki arti yang berbeda pula. Kain batik yang berasal dari Kudus berbeda maknanya dengan Kain Batik dari Cirebon yang terkenal dengan kain batik mega mendungnya. Kain batik mampu mewakikili bagaimana keadaan social dari tempat kain Batik itu berasal. Secara tidak langsung kain batik mampu menggambarkan keadaan di setiap daerahnya. Batik pun mampu menggambarkan kondisi Negara. Jaman dulu batik tidak hanya dipakai untuk acara-acara resmi seperti sekarang. Tapi batik pun dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Lalu nilai estetik yang terdapat dalam kain batik seperti tekstur dan bentuk, keindahan, warnanya hingga aroma lilin yang khas terdapat dalam batik yang tidak dapat ditemukan di dalam jenis kain yang lain. Perasaan bangga yang muncul ketika kita mengenakannya sebagai suatu identitas.  Kain batik pun mampu menyimpan pesan-pesan yang tersembunyi sehingga mampu menunjukkan kepribadian seseorang khususnya yang membuatnya.

Penulis   : Adhwa Amalia Nabiila
NIM       : A15.2018.01227
keyword : sejarah batik unesco

No comments:

Post a Comment