Monday, November 4, 2019

"Abadi Mengudara di Indonesia"


Hari berkabung nasional kembali diperingati seluruh rakyat Indonesia karena kehilangan salah satu tokoh bangsa terbaiknya. Pengibaran  bendera setengah tiang pun kembali dilakukan. Bapak Teknologi yang tidak lain Presiden Indonesia ke 3, Bacharuddin Jusuf Habibie telah menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Rabu, 11 September 2019 lalu pada usia 83tahun. "Beliau yang sering disapa “Eyang”, banyak dijadikan panutan serta tauladan karena telah menginspirasi banyak orang.” Ujar Presiden RI saat ini, Ir. H Joko Widodo saat upacara pemakaman B.J. Habibie. Banyak yang terkejut sekaligus tidak menyangka, tokoh yang sangat berjasa dalam sejarah kedirgantaraan Indonesia itu kini telah tiada. Bagaimana tidak, karena kecerdasan yang beliau miliki, Indonesia bisa lebih maju seperti sekarang ini.
Untuk bisa bisa menjadi inspirasi banyak orang seperti sekarang ini, ia mengenyam pendidikan hingga ke Jerman.  Pada tahun 1955 - 1965, Habibie menempuh pendidikan di Jerman dengan mengambil jurusan spesialisasi konstruksi pesawat ( teknik penerbangan ) di Rhein Westfalen Aachen Technise Hochscule ( RWATH ) untuk menempuh pendidikannya hingga jenjang S3. 2th kemudian, tepatnya pada tahun 1967, Habibie mendapat gelar Profesor Kehormatan atau Guru Besar dan gelar tertinggi yaitu Ganesha Praja Manggala di ITB. Lembaga internasional pun juga memberi banyak pengakuan untuk Habibie. Lebih menyita perhatian lagi, semasa ia menempuh pendidikan dan berhasil menyerap ilmu - ilmu kerdigantaraan, Habibie berhasil menemukan rumus untuk menghitung keretakan atau Crack Propagation On Random sampai ke atom - atomnya. “Tak khayal, untuk menghargai kecerdasan dan kontribusinya, Habibie mendapat julukan "Mr. Crack" oleh para spesialis penerbangan.” Ungkap Najwa  Shihab dalam acara  Mata  Najwa  Tribute To  Eyang  Habibie.
Setelah 10tahun menempuh pendidikan di Jerman, Habibie mendapat panggilan dari Presiden Indonesia, Pak Soeharto.  Hal itu bertujuan untuk penunjukannya sebagai Menteri Negara Ristek/ Kepala BPPT.  Beliau menjabat sebagai menteri selama 20 tahun dan juga memimpin perusahaan BUMN Industri Strategis selama 10 tahun. Pada tahun 1995, Habibie berhasil memimpin proyek pembuatan pesawat yang diberi nama N250 Gatot Kaca sebagai pesawat pertama buatan Indonesia. Pesawat hasil rancangan Habibie ini menggunakan teknologi Fly By Wire yang hanya ada terdapat pada N250 di dunia kedirgantaraan. Ditengah - tengah masa kejayaan N250 yang hendak mendapat sertifikasi dari Federal Aviation Administration, Presiden Soeharto menghentikan industri PT IPTN (perusahaan dimana N250 dirancang), karena alasan krisis moneter.
Namun, selepas perusahaan itu ditutup, Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden pada tanggal 14 Maret 1998. Belum lama Habibie menjabat, pada tanggal 21 Mei 1998, Habibie diangkat menjadi Presiden Indonesia ke 3 setelah Soeharto mundur karena tuntutan rakyat. Habibie menjabat sebagai Presiden Indonesia ke 3 hanya selama 1,5tahun. Selama ia menjabat sebagai Presiden, Habibie melahirkan UU tentang Otonomi Daerah agar rakyat bebas untuk beraspirasi. Selain itu, Habibie berhasil menekan mata uang Indonesia menjadi 10rb / dolar yang awalnya 15rb/dolarnya. Setelah beliau lengser dari jabatannya sebagai presiden, beliau kembali menjadi rakyat biasa. Namun hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk selalu berusaha membuat kedirgantaraan Indonesia lebih maju dan lebih maju lagi. Bahkan berapa tahun lalu, Habibie merancang pesawat R80 yang disebutnya sebagai harapan terakhir pesawat buatan Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2022 pesawat tersebut pengerjaannya telah selesai dan siap untuk diterbangkan.
Semua kontribusi yang diberikan oleh Eyang Habibie dilakukan karena beliau sangat mencintai tanah airnya sendiri. Eyang Habibie berhasil membuat Indonesia setara dengan China dan Korea berkat ilmu pengetahuan serta kecerdasannya yang ia tularkan kepada rakyat Indonesia di bidang kedirgantaraan. Para penerus bangsa tentunya tidak akan melupakan jasa - jasa Eyang Habibie. Mantan Presiden Indonesia ke 3 yang banyak dijadikan tauladan ini akan selalu dikenang melalui karya - karyanya. Meski sudah tiada, jasa Eyang Habibie akan selalu abadi mengudara di bumi Indonesia yang tercinta ini.


Sarah Natasha                          
A15.2018. 01077                        
Ujian Tengah Semester Praktek  Creative Writing

No comments:

Post a Comment