Thursday, October 31, 2019

HIRUK PIKUK AKTIVITAS PEMULUNG IBU KOTA


HIRUK PIKUK AKTIVITAS PEMULUNG IBU KOTA



Malam hari di sudut Ibu Kota, Slamet Prihatin (68) bersama istri tengah duduk santai bersama gerobaknya yang berisikan barang-barang bekas di depan gereja kecil Kampung Kali. Pria yang berprofesi sebagai pemulung ini setiap hari mengelilingi jalanan di Kota Semarang demi mencari sesuap nasi. Bekerja mulai pukul 5 pagi sampai pukul 8 malam yang selalu ditemani istrinya, Slamet juga menjelaskan rute yang di tempuh bersama istrinya mulai dari jalan gajah mada, jalan pemuda, jalan dr soetomo, simpang lima, tugu muda dan terakhir ke klenteng sam poo kong hingga kembali lagi ke depan gereja kecil Kampung Kali karena disitulah mereka tinggal dengan beralaskan kardus-kardus.

Sempat bapak mengenyam Pendidikan hingga STM dengan jurusan Teknik Mesin di Jakarta. Setelah lulus, merantaulah 1 tahun ke Kota Pekalongan bekerja sebagai bengkel mobil dan bekerja sebagai supir truk pasir. Bekerja sebagai nelayan ikan sampai negara Singapore, Brunei, Bangkok, Jepang dengan kontrak kerja 4 tahun dan mendapat gaji 400 juta juga pernah ia coba. “tadinya saya juga seorang supir bis di Comal, karena mata saya yang sebelah katarak bingung mau kerja apa karena saya sudah tua akhirnya jadi pemulung, yang penting buat makan dan halal sudah cukup bagi saya dan istri” - ucap bapak Slamet.

Pada tahun 1974 suami dari ibu Sri Hastuti memutuskan untuk merantau ke Semarang dan mulai bekerja sebagai pemulung menggunakan karung. Barang-barang bekas yang dicari mereka kumpulkan lalu dibawalah ke pengepul Kota Lama Semarang tepatnya di pasar johar. Pendapatan yang mereka hasilkan setiap harinya sekitar 25.000-30.000 per hari dan hanya cukup untuk 2 kali makan. Ibu dan Bapak merasa senang jika ada orang-orang yang memberikan mereka makanan di jalan sewaktu sedang mencari barang-barang bekas. Bapak juga menjelaskan pada tahun 1976 sewaktu lebaran, mereka diberi uang orang-orang sampai terkumpul 600 ribu dan langsung ia belikan gerobak seharga 300 ribu untuk barang-barang bekasnya. Lalu sisanya mereka tabung.

Istri dari bapak Slamet Prihatin ini asli orang Comal, mereka bercerita sering pulang ke rumah mertua dari Semarang ke Comal menggunakan gerobaknya. Perjalanan 4 hari 4 malam mereka tempuh,  biasanya ibu dan bapak menginap selama 10 hari karena mencari barang-barang bekas untuk dikumpulkan ke pengepul. Bapak Slamet juga bercerita bahwa sebenarnya ia mempunyai satu anak dari istri pertamanya yang sudah lama bercerai. Namanya Firmansyah, sekarang berusia 32 tahun yang bekerja sebagai Ketua Mekanik di Kota Bandung dan sudah mempunyai 2 anak. Jika firman bertanya kepada ibunya dimana bapak, pasti ibu akan menjawab “tidak tahu”, karena mereka tidak ingin melihat firman bersedih jika tau bapaknya seorang pemulung.

Ibu Hastuti (43) menjelaskan pernah operasi penyakit kista, dan jika ibu berjalan jauh perutnya akan terasa sakit dan terkena penyakit tipes. Akhirnya bapak menyuruh untuk duduk dan tidur di dalam gerobak dengan berat 3 kwintal tersebut. “kalau ibu sakit pasti saya pinjam uang ke bos pengepul 50 ribu untuk berobat, karena bpjs nya cuma berlaku di Comal” – ujar bapak.

Pada saat itu, pernah mereka bangun kesiangan akhirnya diusir oleh orang-orang. Tetapi tidak menjadi masalah bagi ibu dan bapak untuk semangat bekerja. Untuk masalah mandi dan mencuci pakaian ibu dan bapak selalu mandi di wc umum dengan membayar 2 ribu, dan mencuci pakaian selalu mereka cuci di kali. Bapak juga bercerita, mereka pernah di palak oleh preman-preman, hebatnya bapak melawan karena saat itu mereka belum mengumpulkan barang-barang bekas menjadikan mereka belum mempunyai uang.

Prinsip hidup bapak dan ibu sangat menjadikan hati saya terenyuh, “jika ada orang lain yang mengejek saya, saya cuma diam, saya biarkan. Yang penting saya nggak minta-minta sama dia, tetapi saya cari sendiri. Dan saya tidak menggambil barang-barang orang, tetapi saya menggambil barang-barang yang mereka buang lalu saya ambil, kalau tidak dibuang ya saya tidak akan ambil” -ucap bapak umur 68 tahun.

Pada akhir perbincangan, bapak Slamet mengaku bahagia menjadi pemulung, walaupun untuk makan saja kurang, tetapi mereka tidak mempunyai niatan untuk berbuat jahat di kerasnya Ibu Kota Jawa Tengah ini. Jika sedang mencari barang-barang bekas dan bertemu pak polisi, kadang membantu bapak dan ibu untuk mendorong gerobaknya, dan ia menuturkan bahwa kalian lebih berharga daripada maling. “kita semua di mata Allah sama, cuma lainnya dari harta” -ujar bapak Slamet Prihatin.

Nama : Devara Berlianti
NIM    : A15.2018.01102




No comments:

Post a Comment