HIRUK PIKUK AKTIVITAS
PEMULUNG IBU KOTA
Malam hari di sudut Ibu Kota, Slamet Prihatin (68)
bersama istri tengah duduk santai bersama gerobaknya yang berisikan
barang-barang bekas di depan gereja kecil Kampung Kali. Pria yang berprofesi
sebagai pemulung ini setiap hari mengelilingi jalanan di Kota Semarang demi mencari
sesuap nasi. Bekerja mulai pukul 5 pagi sampai pukul 8 malam yang selalu ditemani
istrinya, Slamet juga menjelaskan rute yang di tempuh bersama istrinya mulai dari
jalan gajah mada, jalan pemuda, jalan dr soetomo, simpang lima, tugu muda dan
terakhir ke klenteng sam poo kong hingga kembali lagi ke depan gereja kecil
Kampung Kali karena disitulah mereka tinggal dengan beralaskan kardus-kardus.
Sempat bapak mengenyam Pendidikan hingga STM dengan
jurusan Teknik Mesin di Jakarta. Setelah lulus, merantaulah 1 tahun ke Kota
Pekalongan bekerja sebagai bengkel mobil dan bekerja sebagai supir truk pasir. Bekerja sebagai nelayan ikan sampai negara Singapore, Brunei,
Bangkok, Jepang dengan kontrak kerja 4 tahun dan mendapat gaji 400 juta juga pernah ia
coba. “tadinya saya juga seorang supir bis di Comal, karena mata saya yang
sebelah katarak bingung mau kerja apa karena saya sudah tua akhirnya jadi
pemulung, yang penting buat makan dan halal sudah cukup bagi saya dan istri” - ucap
bapak Slamet.
Pada tahun 1974 suami dari ibu Sri Hastuti memutuskan
untuk merantau ke Semarang dan mulai bekerja sebagai pemulung menggunakan
karung. Barang-barang bekas yang dicari mereka kumpulkan lalu dibawalah ke
pengepul Kota Lama Semarang tepatnya di pasar johar. Pendapatan yang mereka
hasilkan setiap harinya sekitar 25.000-30.000 per hari dan hanya cukup untuk 2
kali makan. Ibu dan Bapak merasa senang jika ada orang-orang yang memberikan
mereka makanan di jalan sewaktu sedang mencari barang-barang bekas. Bapak juga
menjelaskan pada tahun 1976 sewaktu lebaran, mereka diberi uang orang-orang
sampai terkumpul 600 ribu dan langsung ia belikan gerobak seharga 300 ribu untuk
barang-barang bekasnya. Lalu sisanya mereka tabung.
Istri dari bapak Slamet Prihatin ini asli orang Comal,
mereka bercerita sering pulang ke rumah mertua dari Semarang ke Comal
menggunakan gerobaknya. Perjalanan 4 hari 4 malam mereka tempuh, biasanya ibu dan bapak menginap selama 10 hari
karena mencari barang-barang bekas untuk dikumpulkan ke pengepul. Bapak Slamet juga
bercerita bahwa sebenarnya ia mempunyai satu anak dari istri pertamanya yang
sudah lama bercerai. Namanya Firmansyah, sekarang berusia 32 tahun yang bekerja
sebagai Ketua Mekanik di Kota Bandung dan sudah mempunyai 2 anak. Jika firman
bertanya kepada ibunya dimana bapak, pasti ibu akan menjawab “tidak tahu”,
karena mereka tidak ingin melihat firman bersedih jika tau bapaknya seorang
pemulung.
Ibu Hastuti (43) menjelaskan pernah operasi penyakit
kista, dan jika ibu berjalan jauh perutnya akan terasa sakit dan terkena
penyakit tipes. Akhirnya bapak menyuruh untuk duduk dan tidur di dalam gerobak dengan
berat 3 kwintal tersebut. “kalau ibu sakit pasti saya pinjam uang ke bos pengepul
50 ribu untuk berobat, karena bpjs nya cuma berlaku di Comal” – ujar bapak.
Pada saat itu, pernah mereka bangun kesiangan akhirnya
diusir oleh orang-orang. Tetapi tidak menjadi masalah bagi ibu dan bapak untuk
semangat bekerja. Untuk masalah mandi dan mencuci pakaian ibu dan bapak selalu
mandi di wc umum dengan membayar 2 ribu, dan mencuci pakaian selalu mereka cuci
di kali. Bapak juga bercerita, mereka pernah di palak oleh preman-preman, hebatnya
bapak melawan karena saat itu mereka belum mengumpulkan barang-barang bekas menjadikan
mereka belum mempunyai uang.
Prinsip hidup bapak dan ibu sangat menjadikan hati
saya terenyuh, “jika ada orang lain yang mengejek saya, saya cuma diam, saya
biarkan. Yang penting saya nggak minta-minta sama dia, tetapi saya cari
sendiri. Dan saya tidak menggambil barang-barang orang, tetapi saya menggambil
barang-barang yang mereka buang lalu saya ambil, kalau tidak dibuang ya saya
tidak akan ambil” -ucap bapak umur 68 tahun.
Pada akhir perbincangan, bapak Slamet mengaku bahagia
menjadi pemulung, walaupun untuk makan saja kurang, tetapi mereka tidak mempunyai
niatan untuk berbuat jahat di kerasnya Ibu Kota Jawa Tengah ini. Jika sedang
mencari barang-barang bekas dan bertemu pak polisi, kadang membantu bapak dan
ibu untuk mendorong gerobaknya, dan ia menuturkan bahwa kalian lebih berharga
daripada maling. “kita semua di mata Allah sama, cuma lainnya dari harta” -ujar
bapak Slamet Prihatin.
Nama : Devara Berlianti
NIM : A15.2018.01102
No comments:
Post a Comment