Thursday, October 31, 2019


Laki-laki tua mantan pembersih sungai



            Semarang - Pak Aziz (60), satu orang yang tidak banyak orang kenal ia adalah seorang warga Purwadinata Rt.02/ Rw.01 Semarang, Aziz bekerja sebagai pembersih sungai, ia membersihkan sampah yang ada di sungai dari sungai Tugu Muda sampai daerah Layur di Semarang, Aziz selama sepuluh tahun ia bekerja sendirian untuk membersihkan sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat Semarang, Pekerjaan itu dia lakukan dari tahun 2003 sampai 2013, pekerjaan ini terbilang menjijikan tapi ia menekuni pekerjaanya selama sepuluh tahun lamanya ia tetap senang dan tidak pernah mengeluh sedikitpun.

           Hanya bekal karung dan cangkul dia menyusuri sungai yang ada di kota Semarang ini dengan gaji limaratus ribu rupiah (Rp. 500.000)/ perbulan pada tahun itu. Walaupu terbilang dengan gaji yang sangat kecil, Sutikno melakukan denga senang hati, karena dia berprinsip yang penting pekerjaan ini halal dan dia senang kalau melihat sungai yang ada di Semarang bersih.

           Tetatpi Aziz sekarang sudah tidak lagi bekerja sebagai pembersih sampah di sungai Semarang karena faktor usia dan terlalu banyak menghirup udara dari sungai yang kotor itu tidak baik untuk kesehatanya terkadang Aziz merasa sesak nafas saat melakukan pembersihan karena bau sampah yang ia bersihkan, maka dari itu ia memilih untuk tidak lagi bekerja membersihkan Sungai di Semarang. Tetapi untuk  mencukupi kehidupan sehari-harinya sekarang ini ia melakukan pekerjaan lain secara serabutan dan juga di bantu istrinya.

              Saat ini Aziz bekerja sebagai kuli bangunan di tetangganya, ia digaji tidak bulanan tapi mingguan itupun penghasilanya tidak tetap kadang seminggu 200.000-300.000 walaupun dirasa kurang tapi Aziz tetap bersyukur dan itu dilakukan Sutikno sampai sekarang setelah tidak bekerja lagi sebagai pembersih sungai. Aziz memiliki 14 anak, dimana mereka sekarang yang tinggal di Purwadinata sebanyak 10 anak, sedangkan yang lain sudah berkeluarga sendiri. Dan 10 anak ini sekarang semua bersekolah, dia ingin anaknya sekolah semua biar tidak seperti dia nasibnya dan sekarang ini Aziz hanya tinggal di rumah berukuran 4 m2.

          Tak bisa di bayangkan bahwa rumah yang hanya berkuran 4 m2 dihuni oleh 12 orang dalam satu keluarga. Dengan luas seperti itu, memang dulunya rumah Aziz dibuat 3 lantai tapi karena terkena angin kencang hingga atapnya beterbangan dan sekarang rumah Sutikno hanya dibuat menjadi 2 lantai saja. Keluarga ini hanya membangun apa adanya saja dan perlengkapan yang ada juga seadanya saja. Tapi kalau urusan mandi dan buang hajat keluarga Aziz terpaksa harus menggunakan kamar mandi umum atau wc umum dan harus membayar setiap harinya hal itu juga agak memberatkan Aziz, tapi ia cuma pasrah karena tidak memiliki lahan untuk membuat kamar mandi.
         Istri Aziz yang bernama ibu Sri (51), ia juga bekerja serabutan seperti suaminya ia bekerja sebagai asisten rumah tangga yang pekerjaanya seperti mencuci pakaian, menyapu mengepel dll, hasil uang yang didapat sebagai asisten rumah tangga tidak seberapa, gaji perbulanya kisaran 500.000 itupun tidak pasti. Selain bekerja sebagai asisten rumah tangga Sri bekerja lagi di warung makan dekat rumahnya ia bekerja sebagai pelayan biasanya Sri  bekerja hingga malam hari, Sri juga menerima pekerjaan jasa apa saja yang terpenting halal dan dia mampu melakukanya. Walaupun keluarga ini hidup serba kekurangan tetapi Aziz dan Sri selalu bersyukur oleh apa yang dia miliki karena itu semua pemberian oleh Tuhan dan yang terpenting adalah halal.

         Aziz tidak berharap belas kasihan kepada orang lain ataupun tetangganya sendiri karena ia berprinsip selama dia masih bisa bekerja dan menghidupi anak-anaknya ia tidak akan meminta belas kasihan kepada orang lain, apalagi ia harus meminta-minta di pinggir jalan karena ia masih memiliki anggota tubuh yang masih ia gunakan untuk bekerja apapun pekerjaanya yang terpenting halal.

         Aziz hanya berharap kepada pemerintah agar ia dibantu untuk dibuatkan kamar mandi karena itu sangat penting baginya dan keluarganya ia merasa sedih ketika anak-anaknya harus mandi bergantian di kamar mandi umum atau wc umum dekat rumahnya. Dan itu harus membayar setiap ke kamar mandi hal itu akan mengganggu keuangan Aziz, yang uangnya harus ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari tapi harus digunakan untuk membayar sewa kamar mandi umum.

        Untuk listrik Aziz hanya memanfaatkan gardu tiang listrik dan sewaktu-waktu itu bisa membuat Aziz dimarahi oleh pihak PLN karena ia menyalahi aturan pemerintah, tapi Aziz hanya bisa pasrah karena kebutuhan yang membuatnya harus menyalahi aturan yang di tetapkan oleh PLN. Tetapi Aziz merasa beruntung karena ia masih mempunyai keluarga yang tidak pernah merasa mengeluh dengan kodisi keluarganya saat ini yang serba kekurangan.
        
NAMA : Dwiki Johan Ardianto
NIM      : A15.2018.01207

No comments:

Post a Comment