Model
dalam berbusana terus mengalami perubahan. Pola recycling mulai
dikembangkan pula dalam dunia fashion. Begitu pula yang dilakukan oleh Ade
Nurma, atau yang lebih akrab disapa Ads, yang membuka usaha bisnis online thrift store. Usaha ini dilatarbelakangi
dari kegemarannya dalam membeli pakaian bekas.
Mahasiswi
Universitas Lampung ini bercerita, awal mula ia thrifting bersama temannya pada tahun lalu. Mereka berencana untuk
mendirikan thrift store bersama-sama,
tetapi temannya tersebut terlalu lama berpikir untuk mendirikan sebuah usaha.
Meski
begitu, gadis berumur 21 tahun ini mengaku senang mendirikan thrift store-nya sendiri yang berbasis di Instagram, @localthriftstores. Dari situ ia belajar, bahwa mengenakan pakaian recycled dapat membantu menjaga lingkungan.
“Dengan buka bisnis thrift store,
permintaan akan pakaian baru menjadi tidak terlalu tinggi lagi. Pabrik juga
bakal ngurangin produksinya karena permintaanya
berkurang,” terangnya.
“Walaupun ini berefek negatif ke ekonomi negeri,
tapi bandingin aja dari keadaan bumi
kita sekarang. Mana, sih, yang lebih
gawat? Setidaknya, ini yang bisa aku lakukan untuk menjaga lingkunganku.”
Sebelum
menjual produknya, perempuan berbehel ini mengatakan bahwa ia telah melakukan riset
pasar. “Selain thrifting di pasar,
aku juga pernah belanja di online thrift
stores. Dan aku baru sadar kalau itu mahal semenjak aku tau ada tempat thrifting yang ada di kotaku. Dari situ
aku berniat, andai aku buka online thrift
store, aku nggak bakal jual semahal
yang pernah aku dapat dulu,” kenangnya.
“Lalu
aku riset harga barang di pasar, riset biaya laundry, biaya packaging, biaya transportasi, dan biaya
lelahku menghabiskan waktu untuk mencari barang di pasar. Alhamdulillah, sampai
sekarang aku belum menjual barang di atas Rp. 100.000.”
Saat
ditanya modal yang diperoleh untuk memulai bisnisnya, Ads mengatakan bahwa
modal yang ia gunakan berasal dari tabungannya. "Modal yang aku gunakan
untuk bisnis thrift ini berasal dari tabunganku sendiri. Orang tua hanya
menyediakan listrik dan air untuk aku laundry.
Biasanya sebelum aku laundry, aku
rendam dulu pakai air panas agar bakteri dan kuman yang menempel mati.”
Ads
memang berpakaian unik daripada orang lain, karena ia gemar memadupadakan
pakaian-pakaian hasil thrift-nya. "Suka
aja, sih, pakai pakaian kaya gini. Vintage. Nggak ada yang
nyamain," ujarnya. "Kalau di thrift shopping, barang
yang kita dapetin itu jarang ditemukan orang lain karena super limited.”
Ads juga memiliki
tips tersendiri dalam thrift shopping. “Kuncinya
teliti dan sabar. Aku menghabiskan waktu dua jam untuk memilih barang yang
bagus. Aku selalu masuk ke dalam toko dan memilih barang satu-satu, karena
biasanya barang-barang bagus itu terselip. Alhasil nggak kelihatan sama orang yang cuma lihat dari luar saja. Kemudian
baru dicek, deh, kondisinya gimana.”
Ads tidak
mengambil semua barang yang bagus, karena prinsipnya, barang yang dijual harus
yang ia inginkan dan berpotensial untuk pasar. Namun, Ads mengaku sering kalap
saat berbelanja, sehingga dia bingung untuk memadupadakan pakaian tersebut. “Aku
selalu usaha agar barang yang aku ambil akan dipakai terus sama costumer-ku.”
Namun, usaha
milik Ads ini memiliki poin plus tersendiri.
Ia menggunakan Polybag sebagai pembungkus untuk produk-produknya. “Our recent packaging is using Avani Eco’s Polybag! Alias polybag berbahan dasar pati singkong. Bungkusnya
bisa jadi kompos karena terbuat dari bahan-bahan organik dan bisa hancur ketika
ditimbun di dalam tanah,” ujarnya menjelaskan kelebihan polybag.
Perjuangan
Ads dalam menjalani bisnisnya membuahkan hasil yang memuaskan. Ia dapat
melunasi ponselnya dengan menggunakan uang hasil jualan dan pergi tanpa meminta
uang orang tuanya. Uang dari bisnisnya juga ia gunakan untuk membayar wifi keluarga di rumah. Selain itu, Ads
mengaku bangga telah berperan sebagai eco-hero.
“Bangga banget sama diri sendiri. Walaupun sederhana, tapi nyatanya belum
banyak yang melakukannya,” ucapnya terharu.
“Recycled clothes and compostable packaging? Perfect
matchhh!”
Kania Intan
Rahadiani
A15.2018.01273
Ujian Praktik Creative Writing

No comments:
Post a Comment