Monday, November 4, 2019

WANITA PERKASA


Nama   :           Novi Rahmayanti
NIM    :           A15.2018.01210
Tugas   :           UTS Praktik Creative Writing (Human Interest)

WANITA PERKASA
Seorang wanita yang selalu tampak gembira, senyum ramah dan wajah riang yang selalu ia perlihatkan kepada semua pelanggan nya, sebut saja Bu Ida. Ia adalah seorang penjual lontong sayur dan buryam di gg.Magersari, Soegiyopranoto, Semarang yang berumur 47 tahun dan mempunyai 2 orang anak. Adapun suami Bu Ida sudah meninggal sejak 2 tahun lalu karena sakit.
Ia bekerja demi menghidupi kebutuhan keluarga kecilnya. Mulai dari makanan yang dimakan setiap harinya, biaya untuk sekolah anaknya, dll ditanggung sendiri olehnya. Bu Ida berjualan menggunakan gerobak. Dengan gerobak andalan nya, Bu Ida selalu berjualan tiap hari Sabtu dan Minggu.  Ia berjualan di trotoar depan gang dengan ditambah beberapa meja dan kursi untuk pelanggan yang makan ditempat.
Di meja tempat pelanggan makan, selalu tersedia mendoan, teh anget dan satu kardus aqua gelas. Ia menjual harga mendoan 1.000 rupiah, khusus untuk teh anget dan aqua gelas selalu ia gratiskan bagi pembeli. Menurutnya, sedekah itu tidak memandang besar dari barang atau jasa yang kita keluarkan, melainkan iklhas ketika kita memberi.
Sedekah teh anget dan aqua gelas itu tidak seberapa baginya, karena ia berjualan pun dengan tujuan mencari pahala juga. Ia sendiri pun cerita bahwa dengan bersedekah, pembeli juga merasa nyaman dan senang berada di tempatnya, sehingga ia dapat menemukan relasi-relasi lainnya terutama untuk membuat usaha baru.
Saya beserta anak kos lainnya lumayan sering makan lontong sayur ketika hari Minggu. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Bu Ida menjual lontong sayur 10.000 per porsi, dan untuk bubur ayam 12.000 per porsi. Dengan pelayanan yang sangat ramah dari Bu Ida, jualan nya selalu habis setiap saat.
Menurut Putri, teman kos saya “Bu Ida orangnya sangat baik sekali, ia juga tidak pelit. Pernah saya pada hari sabtu sekitar jam 9-an beli lontong ke tempatnya yang dikira tutup, tapi  ternyata belum tutup. Pada saat itu saya membeli 1 porsi lontong, ketika ingin membayar saya lupa membawa uang, dan akhirnya saya memberanikan diri untuk ngomong sejujurnya kepada Bu Ida. Ternyata ia tidak marah dan malah tersenyum, lalu ia pun menggratiskan makanan yang telah saya makan tadi karena pada saat itu Bu Ida juga terlihat mau menutup warung nya. Merasa tidak enak hati, lalu saya pun membantu nya membereskan barang jualan nya tersebut dan Bu Ida merasa sangat terbantu akan kehadiran ku”. 
Bu Ida ini juga terlihat sangat pekerja keras, mulai dari mendorong gerobak sendiri, menghidupi keluarga kecilnya sendiri, bahkan untuk berjualan pun hanya ia sendiri tidak ada yang membantu. Anak-anaknya membantu pekerjan rumah ketika ia sedang berjualan. Menjadi tulang punggung keluarga tidaklah mudah, tapi ia berhasil menunjukkan ke anaknya bahwa ia bekerja sebagai sosok ayah dan ibu.
Kehadiran dua orang anak, dapat membuat hidupnya lebih berwarna, tidak ada kata mengeluh untuk membesarkan mereka, bisa berperan menjadi sosok ayah dan ibu, bisa menjadi seorang wanita yang sedang berjuang, mereka merupakan pelita kehidupan yang selalu menerangi hidup Bu Ida.
Apapun masalah yang sedang kamu hadapi, jangan lupa bersyukur, jangan lupa bersedekah. Karena sedekah itu merupakan jemabatan amal untuk penghantar masa depan dan ingatlah selalu orang-orang yang berada di sekitar mu, karena mereka akan menjadi penolong mu pada suatu saat nanti.


No comments:

Post a Comment