Rizqi Puji Lestari
A15.2018.01224
Dari
Petani Untuk Calon Sarjana
Kesadaran
bahwa pendidikan begitu penting bagi anak-anaknya dan kewajiban menuntut ilmu
menjadi penyemangat bagi Supardi untuk memperjuangkan keinginan anaknya menjadi
pekrja kantoran. Tak mengenal apa pekerjaan yang ia lakoni dan tak perduli
berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk membiayai sekolah anaknya.
Sejak
tahun 2016, anaknya mulai duduk dibangku perkuliahan. Bermodalkan hasil kebun
lada yang didapatkannya ketika musim panen lalu, ia mampu memasok kebutuhan
biaya yang harus dibayarnya. Mulai dari pembayaran SPP yang cukup terjangkau ,Supardi
adalah seorang petani di sebuah desa yang terletak di kecamatanMarga tiga,
kabupatenLampung timur. Umurnya yang sudah menginjak kepala lima tak
mengahalangi niat baik anaknya untuk menuntut ilmu. Dia tak pernah bosan
menjalankan rutinitas yang sudah lama ia lakoni sejak kecil. Mulai berangkat ke
kebun sebelum matahari terbit kemudian pulang untuk sholat dhuhur dan kembali
lagi kesawah sampai sebelum matahari tenggelam.“Begitulah rutinitas saya setiap
hari, saya tak menyebutnya ke kebun melainkan ke kantor. Bukan hanya orang kota
saja yang ke kantor. Petani seperti saya juga ke kantor, yakni kebun,” ucapnya
dengan sedikit tawa.
Bapak
beranak dua ini tak ingin nasib anaknya berakhir seperti dirinya yang harus
putus sekolah sejak Sekolah Menengah atas lantaran keterbatasan dana. Ia memang
lahir dari keluarga miskin pasangan petani Diswan (alm) dan Kuning. Semua
pekerjaan ia lakoni untuk menutupi biaya hidupnya. Mulai menjadi petani, tukang
panggul hingga menjadi buruh Jika petani lain akan kaya dengan hasil panennya
ketika waktu panen tiba, tidak dengan petani yang satu ini.. Dia harus
mengangkut hasil bumi nya , satu-persatu diangkutnya ke gudang dengan motor
Astrea yang sudah tua. Karung demi karung diangkatnya ke atas timbangan untuk
ditimbang. Kemudian ditatanya dengan rapi tumpukan lada itu didalam gudang
menunggu giliran untuk dijemur dan menunggu waktu yang tepat untuk dijual agar
mendapatkan keuntungan yang sepadan. Akan tetapi, tak jarang juga ia mengalami
kerugian jika sewaktu-waktu harga lada atau kakao turun.
Baginya,
tak gampang menjadi seorang petani. Iaharus mampu memutar otak agar hasil panen
bisa mencukupi semua kebutuhan hidup. Meskipun hasil panen jika dihitung tidak
terlalu banyak , tetapi sebenarnya keuntungan yang didapatkannya sudah
sebanding dengan hasil jerih payahnya sebagai petani.
Meskipun
ia hanya seorang petani, tetapi dia begitu mengerti akan pentingnya pendidikan
bagi anak-anaknya. Ia paham bahwa perkembangan dunia tidak dapat dipungkiri
akan bertambah maju. Jika anak-anaknya tidak mengenyam pendidikan, maka akan
jauh tertinggal dibelakang. Ini semua dilakukannya lantaran memang sudah
kewajibannya sebagai orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Sedikit bercerita
tentang keadaan kampungnya, supardi mengatakan bahwa dari ratusan anak muda di
desa, bisa diitung dengan jari yang mau meneruskan pendidikannya dan tau arti
pentingnya pendidikan. Sebagian dari orang tua masih belum mengerti akan
pentingnya menuntut ilmu, begitu juga dengan anak-anaknya. Yang terlintas
dipikiran masyarakat hanya bagaimana mendapatkan kerja bermodalkan ijazah SMA.
Bahkan masyarakat sudah pesimis terlebih dahulu tidak akan mampu menyelesaikan
administrasi pembayaran selama sekolah. “Padahal, kalau mereka niat dan mau
pasti akan dipermudah jalannya oleh Allah, rezeki itu sudah ada yang mengatur,
apalagi buat pendidikan ada saja rezeki yang datang ketika tiba waktu
pembayaran” ujarnya dengan yakin.
Supardi
begitu bersyukur anak-anaknya mengerti akan pentingnya pendidikan. Ia hanya
perlu mendukung dan mendoakan. Sosok yang begitu ramah ini tak ingin apa yang
ia alami dialami pula oleh anaknya. Ia berusaha sekuat tenaga bahkan rela
mengorbankan apapun demi anaknya. Satu hal yang dipikirkannya hanyalah
bagaimana mencari rezeki yang barokah untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Tak
peduli bagaimana keadaan tembok rumah yang mulai mengelupas, tak peduli atap
rumah yang mulai bocor dan tak peduli betapa tuanya motor yang menemani
aktivitasnya sehari-hari. Baginya kalau semua masih bisa digunakan, ia tidak
akan mengganti dengan yang baru.
Menurutnya,
menuntut ilmu sampai setinggi-tingginya itu penting. Karn baginya Orang
yang berilmu dan dapat bermanfaat bagi masyarakat akan mempunyai derajat
tersendiri. Tak mau kalah dengan anak-anaknya, ia juga menuntut ilmu dengan
caranya sendiri. Suami dari Siti rokanah ini secara rutin mengikuti
organisasi yang ada di desanya . Dengan begitu, berarti ia sudah menambahkan
sedikit ilmu ke memory yang dipunyainya untuk diamalkan suatu saat nanti ketika
dibutuhkan.
Pandangannya
Tentang dunia desainer Supardi sebagai sosok ayah sekaligus kepala keluarga tak
memaksakan anaknya untuk mengikuti kehendaknya dalam menentukan masa depan. Ia
percayakah semua masa depan kepada anaknya masing-masing. Karena menurutnya,
yang akan menjalani kehidupan itu anaknya bukan dirinya, ia hanya perlu mengarahkan
apa yang dilakukan anaknya untuk meraih masa depan yang diinginkan.
Baginya
menjadi seorang desainer itu cukup berat, seorang desainer harus mau berusaha
dan berani terhadap masalah yang akan mendatanginya . Seorang yang sukses harus
dituntut untuk berkreatif sebaik mungkin . Seorang desainer tentu bakal banyak
menghabiskan waktunya di depan layar komputer “Sebenarnya saya lebih setuju
kelak anak saya menjadi seorang arsitek lantaran saya dulu pernah bermimpi
menjadi seorang arsitek ,” ucap pria ramah ini. Namun, ia sadar tak mungkin ia
memaksakan kehendaknya. Ia begitu menyayangi putra-putrinya dengan caranya
sendiri. Sosok ayah satu ini membiarkan anaknya untuk menempuh jalan
kesuksesannya masing-masing. Entah apa yang bakal dilakukan anaknya, asalkan
itu pekerjaan yang halal dengan sepenuh hati orang tua akan mendukung dan
senantiasa mendoakan.”Kita tak akan tau apa yang akan terjadi dimasa depan,
yang terpenting sekarang kita berusaha dan berdoa. Semua sudah ada yang
menentukan,” lontar Supardi dengan yakin dan mantap.
Mengakhiri
ceritanya, sebagai orang tua ia berharap dimanapun putra – putrinya berada,
kelak anak-anaknya mampu mengamalkan ilmu yang diperolehnya saat ini untuk
turut memajukan bangsa dan Negara. Ia berharap kelak anaknya akan bermanfaat
bagi masyarakat. Sebab ia percaya bahwa sebaik manusia adalah yang bermanfaat
bagi manusia yang lainnya.
No comments:
Post a Comment