Thursday, November 7, 2019

Dari Kenyamanan Menjadi Kesuksesan

“Saat aku menjalani sebuah pekerjaan sebagai penyiar itu nyaman dan dari kenyamanan di dunia radio itulah yang membuatku menjadi lebih menikmati hidup dan mensyukuri segala sesuatu hingga terbilang sukses saat ini,” ungkap Ririn Susanti seorang Operations Manager Gajahmada Group Semarang yang telah lama bergelut di dunia penyiaran terutama radio.

Sebagai seorang penyiar bukanlah suatu hal yang mudah bagi seseorang. Namun menjadi seorang penyiar sudah menjadi darah daging bagi Ririn Susanti yang telah lama berkecimpung di dunia penyiaran khusunya radio. Wanita yang memiliki satu anak perempuan bernama Putri Aira Kinasih ini sekarang menjadi seorang Operations Manager di Gajahmada Group Semarang. Menjadi seorang penyiar, Ririn mengaku senang ketika ia menyapa para pendengar radio. Berawal dari kesukaannya mendengarkan radio di malam hari ia menjadi tertarik menjadi seorang penyiar radio. Saat di bangku SMA, di sela-sela membantu orang tuanya beternak ayam, wanita cantik ini mengikuti gaya ala penyiar radio. Seolah ia adalah seorang penyiar yang sedang menyapa para penderngarnya.

Awal Menjadi Seorang Penyiar Radio

Wanita yang hampir menginjak usia 47 tahun ini mulai berkecimpung di dunia penyiaran ketika ia menginjak semester III di Akademi Bahasa 17 Agustus Semarang (sekarang Universitas 17 Agustus Semarang). Saat itu ia mengirim surat lamaran di salah radio di Semarang yakni Gajahmada FM sebagai seorang penyiar.

“Awal mula dulu aku mulai siaran tuh, pas aku semester tiga di Akaba 17 Agustus Semarang, ngirim cv di Gajahmada FM yang saat itu lagi penyiar baru. Nah aku lolos waktu itu, dan aku seneng banget dong,” ujar Ririn yang saat itu antusias sekali menceritakan kehidupannya.

Disnilah kehidupannya sebagai seorang penyiar dimulai. Setelah ia diterima, wanita cantik berambut panjang ini menjalani masa training. Melakukan observasi, melihat para seniornya saat on air di radio, bagaimana memilih lagu yang enak di dengar, hingga cara menyampaikan segala infomasi untuk pendengar.

Dengan menekuni pekerjaannya sebagai seorang penyiar radio, tidak membuat kuliahnya terganggu. Malah ia berhasil lulus tepat waktu dari pendidikannya. Tidak hanya sebagai seorang penyiar, saat itu ia juga merangkap sebagai seorang ‘Redaktur Kata’ (sekarang scriptwritter) yang tugasnya membuat naskah atau tulisan yang berisi segala kebutuhan informasi untuk penyiar lainnya. Ia mengaku senang karena dengan menjadi redaktur kata, dirinya menjadi terlihat pintar karena ia tahu segala informasi mengenai lagu, tips, berita, dan lain sebagainya.

Nyaman  di Radio

Wanita yang terlihat awet muda ini mengaku, selama siaran di radio ia pernah mendaftar di salah satu bank di Kota Semarang. Ketika mengikuti tes wawancara, ternyata ia diterima dan menjalani masa training. Namun sayangmya, kesempatan ia bekerja di bank di biarkan begitu saja. Ini dikarenakan ia sudah terlanjur berada di zona nyamannya dunia siaran. “ Dulu juga sempet ikut tes di bank, keterima dan disuruh training kan. Tapi aku tidak datengin, hahaha bodoh banget ya aku, karena aku udah seneng siaran nyaman gitu,” ungkapnya diikuti ketawa keras.

Banyak yang memberi masukan dari orang lain kepadanya agar ia lebih terbuka lagi dengan pekerjaan. Diakuinya, kalau menjadi seorang penyiar radio itu gajinya tidak seberapa. Maka dari itulah masukan dari teman-temannya membuat ia mencoba mencari pekerjaan lain. Akhirnya ia bekerja di salah satu perusahaan freight forwarding. Tidak lama ia di perusahaan freight forwarding ia kembali ke dunia siaran radio.

“Aku dulu daftar di perusahaan freight forwarding, yang saat itu belum banyak, apalagi perekrutannya di seluruh Indonesia di Kota Semarang hanya dicari tujuh orang saja. Aku jadi salah satunya, okee aku jalani sebulan dan sebulan itu gajinya udah wow banget dong, itu jaman dulu berjuta-juta udah banyak banget. Tapi apa yang terjadi? Aku tinggalkan pekerjaan itu aku kembali ke radio, saking cintanya aku di radio,” jelas Ririn yang ketika itu ditemui di kantornya pada Rabu (6/11/2019).

Di sisi lain ia sebagai penyiar radio, ia juga aktif di dunia public relation, terutama MC. Dirinya menekuni peekerjaannya itu disela-sela ia siaran. Ketika tidak ada jadwal jika ada tawaran menjadi MC ia menerimanya. Itulah yang menjadi salah satu penghasilannya selain sebagai penyiar.

Beda Penyiar Dulu dan Sekarang

Saat ditemui di kantornya di Jln. Bukit Puncak II No. 7 Bukit Sari Semarang, ia menceritakan berbagai pengalamannya di dunia penyiaran. Ia yang sudah aktif sejak tahun 1994 ini, mengetahui berbagai perkambangan radio dulu hingga saat ini. Ia merasakan bahwa sangat jauh berbeda fungsi dari radio dulu dan sekarang.

Ia menjelaskan bahwa dulu radio menjadi satu-satu nya media informasi dimana orang mengetahui berbagai hal yang belum diketahui  oleh banyak orang. Karena ketika itu TV, majalah, dan media lainnya belum muncul. Sehingga ketika itu, ia merasa senang menjalaninya. Kalau sekarang radio hanya sebagai sebagai media dimana masyarakat tahu lagu baru, menemani ketika sendirian, dan sebagai hiburan.

“Jadi dulu radio itu hanya menjadi satu-satunya media informasi bagi masyarakat saat itu, orang-orang jadi tahu informasi tentang lagu, tips, berita, dan lain-lain. Sehingga kita dulu bener-bener menjadi orang yang announcer bagi masyarakat. Kita jadi lebih pintar dan itulah bedanya penyiar dulu dan sekarang. Have fun lah kalau dulu, dan kalau sekarang kan penyiar tinggal cari lagu muterin udah, sekedar ngomong gitu kan, ya seperti itulah. Hahahah duh jadi kangen siaran,” cerita Ririn sangat bersemangat.

Disela sela perbincangan antara kami berdua, ketika ditanyai program pas siaran yang paling disukai waktu on air  ia menawab, yakni ‘Catch the Word’ dimana program ini menyajikan pendengarnya untuk menanngkap kata-kata dalam lirik lagu inggris yang diudarakan oleh penyiar. Tidak disangka ia seolah menjadi guru untuk semua orang yang mendengarkan radio. Bagaimana tidak dengan ia menjadi penyiar, secara tidak langsung ia juga mendidik para pendengarnya.

Resign dari Dunia Penyiaran

Tidak disangka bertahun tahun ia bergulat di radio, ia resign dari Gajahmada FM sebagai seorang penyiar. Sempat bekerja sama dengan temannya yang berada di Surabaya untuk membuat radio sendiri, dengan tema perempuan ‘Cosmonita’. Berhasil bertahan selama dua tahun diudara, ternyata ia tidak betah dengan lingkungannya disana. Ia mengaku bahwa tidak cocok apabila ia terus tinggal disana, semenjak saat itulah ia kembali lagi ke Semarang.

Di tahun 2001 setelah ia kembali ke Semarang dari Surabaya, ia bekerja lagi di Gajahmada FM. Dua tahun setelah itu ia ditempatkan di Imelda FM, salah satu radio naungan Gajahmada Group sebagai trainer untuk mentraingin penyiar baru. Ia juga pernah menjadi Program Director di Imelda FM sekitar tahun 2007 hingga 2014. Bolak balik di tarik dari Gajahmada ke Imelda, lalu kembali lagi ke Gajahmada tidak membuat wanita satu anak ini bosan. Ia malah menikmati kehidupannya. Sejak diangkat lagi di Gajahmada Group ia memegang posisi Operational Division Head (sekarang menjadi Operations Manager) yang bertugas untuk memastikan semua radio di grup Gajahmada (Gajahmada FM, Imelda, Swara Semarang)  berjalan lancar hingga saat ini.

“Dulu sempat di tahun 2006 hiingga 2007 aku bolak balik Bali-Semarang, untuk mentraining penyiar penyiar setiap bulannya. Akhirnya setelah itu aku full tinggal di Semarang diangkat tuh bagian mengurus agar semua radio di Gajahmada Group sampai saat ini” ungkap wanita yang memiliki seorang suami berkewarganegaraan asing itu.

Untuk diluar jam kantor, terkadang ia mengisi acara seminar di berbagai universitas. Tidak hanya itu  wanita cantik asal Kudus ini, dulu juga pernah menjadi host dalam program acara talkshow di salah satu TV lokal di Kota Semarang. 

Pandangan Orang Lain

Bertahun-tahun menjalani hidupya didunia penyiaran, tak mungkin jika ia tidak dikenal. Arin Purple adalah namanya ketika on air diudara. Suara yang khas dengan karakter cempreng dan fasih dalam bahasa inggris membuatnya dikenal oleh banyak orang. Salah satu pendengar setia dan sekarang menjadi rekan kerja di kantornya, Kristina R Wulandari mengungkapkan bahwa ia adalah wanita yang tegas, walaupun keras tapi itu niatnya untuk mendidik.

“Bunda (sapaan untuk Ririn di kantornya) itu orangnya tegas, keras sih, tapi itu niatnya mendidik kita yang disini supaya lebih baik lagi, dulu aku sering banget pas waktu bunda siaran malem di ‘Catch the Word’ aku selalu ngikutin tuh, nyiapin kertas sama pensil buat nyatet lirik lagunya,” ujar Kristin rekan kerja Ririn.

Selain itu Bunda dikenal sebagai pribadi yang ramah dan komunikatif. Di tempat kerjaannya ia adalah sosok yang keibuan. Selalu menjadi pendengar yang baik dan tak jarag pula ia memberikan masukan ataupun solusi kepada rekan kerjanya. Sebagai salah satu senior di bidang penyiaran, terkadang ia diundang untuk mengisi seminar yang diadakan di kampus kampus.

Diakhir perbincangan kami, yang kala itu duduk santai di ruang tamu Gajahmada Building ia meyakinkan bahwa radio itu akan terus ada walau pendengarnya akan bergeser dengan yang lain. “Radio itu bakalan terus ada, saya yakin itu. Walaupun musuh saat ini bukan hanya tv saja, tapi karena zaman sudah berganti dengan era yang modern ya internet sudah ada, tapi kalau orang yang udah suka dengan radio, orang itu akan selalu setia dengan radio,” pungkasnya.

Memang suatu pekerjaan apabila sudah merasa di zona nyaman dan sudah di takdirkan dijalannya akan menuai kesuksesan yang besar. Bekerja didunia penyiaran yang menurut orang lain itu adalah hal yang biasa. Namun bagi Ririn Suasanti, itu adalah pekerjaan yang luar biasa bukan materi yang didapat tapi juga pelajaran hidup yang diperoleh. Seperti lagu ‘Desert Rose’ yang dinyanyikan Sting, penyanyi favorit Arin Purple.

“I dream of rain, I dream of gardens in the desert sand, I wake in pain, I dream of love as time runs through my hand, (Aku memimpikan hujan, aku bermimpi kebun di gurun pasir, Aku terbangun dengan rasa sakit, Aku memimpikan cinta seiring berjalannya waktu melalui tanganku),penggalan lagu ‘Desert Rose’ yang saat itu mengalun di radio.

Memaknai bahwa setiap orang harus memiliki mimpi, apapun mimpi itu. Ketika sudah berada di jalannya, hal apapun pasti akan membawamu kembali di jalan itu. Untuk kesuksesan.

Penulis : Lily Tania Innezaputri (A15.2018.01279)

No comments:

Post a Comment