“Saat
aku menjalani sebuah pekerjaan sebagai penyiar itu nyaman dan dari kenyamanan
di dunia radio itulah yang membuatku menjadi lebih menikmati hidup dan mensyukuri
segala sesuatu hingga terbilang sukses saat ini,” ungkap Ririn Susanti seorang
Operations Manager Gajahmada Group Semarang yang telah lama bergelut di dunia
penyiaran terutama radio.
Sebagai
seorang penyiar bukanlah suatu hal yang mudah bagi seseorang. Namun menjadi
seorang penyiar sudah menjadi darah daging bagi Ririn Susanti yang telah lama
berkecimpung di dunia penyiaran khusunya radio. Wanita yang memiliki satu anak
perempuan bernama Putri Aira Kinasih ini sekarang menjadi seorang Operations
Manager di Gajahmada Group Semarang. Menjadi seorang penyiar, Ririn mengaku
senang ketika ia menyapa para pendengar radio. Berawal dari kesukaannya
mendengarkan radio di malam hari ia menjadi tertarik menjadi seorang penyiar
radio. Saat di bangku SMA, di sela-sela membantu orang tuanya beternak ayam, wanita
cantik ini mengikuti gaya ala penyiar radio. Seolah ia adalah seorang penyiar
yang sedang menyapa para penderngarnya.
Awal Menjadi Seorang Penyiar Radio
Wanita
yang hampir menginjak usia 47 tahun ini mulai berkecimpung di dunia penyiaran
ketika ia menginjak semester III di Akademi Bahasa 17 Agustus Semarang
(sekarang Universitas 17 Agustus Semarang). Saat itu ia mengirim surat lamaran di
salah radio di Semarang yakni Gajahmada FM sebagai seorang penyiar.
“Awal
mula dulu aku mulai siaran tuh, pas aku semester tiga di Akaba 17 Agustus
Semarang, ngirim cv di Gajahmada FM yang saat itu lagi penyiar baru. Nah aku
lolos waktu itu, dan aku seneng banget dong,” ujar Ririn yang saat itu antusias
sekali menceritakan kehidupannya.
Disnilah
kehidupannya sebagai seorang penyiar dimulai. Setelah ia diterima, wanita
cantik berambut panjang ini menjalani masa training. Melakukan observasi,
melihat para seniornya saat on air di
radio, bagaimana memilih lagu yang enak di dengar, hingga cara menyampaikan
segala infomasi untuk pendengar.
Dengan
menekuni pekerjaannya sebagai seorang penyiar radio, tidak membuat kuliahnya
terganggu. Malah ia berhasil lulus tepat waktu dari pendidikannya. Tidak hanya
sebagai seorang penyiar, saat itu ia juga merangkap sebagai seorang ‘Redaktur
Kata’ (sekarang scriptwritter) yang
tugasnya membuat naskah atau tulisan yang berisi segala kebutuhan informasi
untuk penyiar lainnya. Ia mengaku senang karena dengan menjadi redaktur kata,
dirinya menjadi terlihat pintar karena ia tahu segala informasi mengenai lagu,
tips, berita, dan lain sebagainya.
Nyaman di Radio
Wanita
yang terlihat awet muda ini mengaku, selama siaran di radio ia pernah mendaftar
di salah satu bank di Kota Semarang. Ketika mengikuti tes wawancara, ternyata
ia diterima dan menjalani masa training. Namun sayangmya, kesempatan ia bekerja
di bank di biarkan begitu saja. Ini dikarenakan ia sudah terlanjur berada di zona
nyamannya dunia siaran. “ Dulu juga sempet ikut tes di bank, keterima dan
disuruh training kan. Tapi aku tidak datengin, hahaha bodoh banget ya aku,
karena aku udah seneng siaran nyaman gitu,” ungkapnya diikuti ketawa keras.
Banyak
yang memberi masukan dari orang lain kepadanya agar ia lebih terbuka lagi
dengan pekerjaan. Diakuinya, kalau menjadi seorang penyiar radio itu gajinya
tidak seberapa. Maka dari itulah masukan dari teman-temannya membuat ia mencoba
mencari pekerjaan lain. Akhirnya ia bekerja di salah satu perusahaan freight forwarding. Tidak lama ia di
perusahaan freight forwarding ia
kembali ke dunia siaran radio.
“Aku
dulu daftar di perusahaan freight forwarding, yang saat itu belum banyak,
apalagi perekrutannya di seluruh Indonesia di Kota Semarang hanya dicari tujuh
orang saja. Aku jadi salah satunya, okee aku jalani sebulan dan sebulan itu
gajinya udah wow banget dong, itu jaman dulu berjuta-juta udah banyak banget.
Tapi apa yang terjadi? Aku tinggalkan pekerjaan itu aku kembali ke radio, saking
cintanya aku di radio,” jelas Ririn yang ketika itu ditemui di kantornya pada
Rabu (6/11/2019).
Di
sisi lain ia sebagai penyiar radio, ia juga aktif di dunia public relation,
terutama MC. Dirinya menekuni peekerjaannya itu disela-sela ia siaran. Ketika
tidak ada jadwal jika ada tawaran menjadi MC ia menerimanya. Itulah yang
menjadi salah satu penghasilannya selain sebagai penyiar.
Beda Penyiar Dulu dan Sekarang
Saat
ditemui di kantornya di Jln. Bukit Puncak II No. 7 Bukit Sari Semarang, ia
menceritakan berbagai pengalamannya di dunia penyiaran. Ia yang sudah aktif
sejak tahun 1994 ini, mengetahui berbagai perkambangan radio dulu hingga saat
ini. Ia merasakan bahwa sangat jauh berbeda fungsi dari radio dulu dan
sekarang.
Ia
menjelaskan bahwa dulu radio menjadi satu-satu nya media informasi dimana orang
mengetahui berbagai hal yang belum diketahui
oleh banyak orang. Karena ketika itu TV, majalah, dan media lainnya
belum muncul. Sehingga ketika itu, ia merasa senang menjalaninya. Kalau
sekarang radio hanya sebagai sebagai media dimana masyarakat tahu lagu baru,
menemani ketika sendirian, dan sebagai hiburan.
“Jadi
dulu radio itu hanya menjadi satu-satunya media informasi bagi masyarakat saat
itu, orang-orang jadi tahu informasi tentang lagu, tips, berita, dan lain-lain.
Sehingga kita dulu bener-bener menjadi orang yang announcer bagi masyarakat. Kita jadi lebih pintar dan itulah
bedanya penyiar dulu dan sekarang. Have fun lah kalau dulu, dan kalau sekarang
kan penyiar tinggal cari lagu muterin udah, sekedar ngomong gitu kan, ya
seperti itulah. Hahahah duh jadi kangen siaran,” cerita Ririn sangat
bersemangat.
Disela
sela perbincangan antara kami berdua, ketika ditanyai program pas siaran yang
paling disukai waktu on air ia menawab, yakni ‘Catch the Word’ dimana program ini menyajikan pendengarnya untuk
menanngkap kata-kata dalam lirik lagu inggris yang diudarakan oleh penyiar. Tidak
disangka ia seolah menjadi guru untuk semua orang yang mendengarkan radio. Bagaimana
tidak dengan ia menjadi penyiar, secara tidak langsung ia juga mendidik para
pendengarnya.
Resign dari Dunia Penyiaran
Tidak
disangka bertahun tahun ia bergulat di radio, ia resign dari Gajahmada FM
sebagai seorang penyiar. Sempat bekerja sama dengan temannya yang berada di
Surabaya untuk membuat radio sendiri, dengan tema perempuan ‘Cosmonita’. Berhasil bertahan selama dua
tahun diudara, ternyata ia tidak betah dengan lingkungannya disana. Ia mengaku
bahwa tidak cocok apabila ia terus tinggal disana, semenjak saat itulah ia
kembali lagi ke Semarang.
Di
tahun 2001 setelah ia kembali ke Semarang dari Surabaya, ia bekerja lagi di
Gajahmada FM. Dua tahun setelah itu ia ditempatkan di Imelda FM, salah satu
radio naungan Gajahmada Group sebagai trainer untuk mentraingin penyiar baru. Ia
juga pernah menjadi Program Director di Imelda FM sekitar tahun 2007 hingga
2014. Bolak balik di tarik dari Gajahmada ke Imelda, lalu kembali lagi ke
Gajahmada tidak membuat wanita satu anak ini bosan. Ia malah menikmati
kehidupannya. Sejak diangkat lagi di Gajahmada Group ia memegang posisi Operational
Division Head (sekarang menjadi Operations Manager) yang bertugas untuk
memastikan semua radio di grup Gajahmada (Gajahmada FM, Imelda, Swara Semarang)
berjalan lancar hingga saat ini.
“Dulu
sempat di tahun 2006 hiingga 2007 aku bolak balik Bali-Semarang, untuk
mentraining penyiar penyiar setiap bulannya. Akhirnya setelah itu aku full
tinggal di Semarang diangkat tuh bagian mengurus agar semua radio di Gajahmada
Group sampai saat ini” ungkap wanita yang memiliki seorang suami berkewarganegaraan
asing itu.
Untuk
diluar jam kantor, terkadang ia mengisi acara seminar di berbagai universitas. Tidak hanya
itu wanita cantik asal Kudus ini, dulu juga pernah menjadi host dalam program acara talkshow di salah satu TV
lokal di Kota Semarang.
Pandangan Orang Lain
Bertahun-tahun
menjalani hidupya didunia penyiaran, tak mungkin jika ia tidak dikenal. Arin
Purple adalah namanya ketika on air diudara. Suara yang khas dengan karakter
cempreng dan fasih dalam bahasa inggris membuatnya dikenal oleh banyak orang. Salah
satu pendengar setia dan sekarang menjadi rekan kerja di kantornya, Kristina R
Wulandari mengungkapkan bahwa ia adalah wanita yang tegas, walaupun keras tapi
itu niatnya untuk mendidik.
“Bunda
(sapaan untuk Ririn di kantornya) itu orangnya tegas, keras sih, tapi itu
niatnya mendidik kita yang disini supaya lebih baik lagi, dulu aku sering
banget pas waktu bunda siaran malem di ‘Catch the Word’ aku selalu ngikutin
tuh, nyiapin kertas sama pensil buat nyatet lirik lagunya,” ujar Kristin rekan
kerja Ririn.
Selain
itu Bunda dikenal sebagai pribadi yang ramah dan komunikatif. Di tempat
kerjaannya ia adalah sosok yang keibuan. Selalu menjadi pendengar yang baik dan
tak jarag pula ia memberikan masukan ataupun solusi kepada rekan kerjanya. Sebagai
salah satu senior di bidang penyiaran, terkadang ia diundang untuk mengisi
seminar yang diadakan di kampus kampus.
Diakhir
perbincangan kami, yang kala itu duduk santai di ruang tamu Gajahmada Building
ia meyakinkan bahwa radio itu akan terus ada walau pendengarnya akan bergeser
dengan yang lain. “Radio
itu bakalan terus ada, saya yakin itu. Walaupun musuh saat ini bukan hanya tv
saja, tapi karena zaman sudah berganti dengan era yang modern ya internet sudah
ada, tapi kalau orang yang udah suka dengan radio, orang itu akan selalu setia
dengan radio,” pungkasnya.
Memang
suatu pekerjaan apabila sudah merasa di zona nyaman dan sudah di takdirkan
dijalannya akan menuai kesuksesan yang besar. Bekerja didunia penyiaran yang
menurut orang lain itu adalah hal yang biasa. Namun bagi Ririn Suasanti, itu
adalah pekerjaan yang luar biasa bukan materi yang didapat tapi juga pelajaran
hidup yang diperoleh. Seperti lagu ‘Desert Rose’ yang dinyanyikan Sting,
penyanyi favorit Arin Purple.
“I dream of rain, I dream of
gardens in the desert sand, I wake in pain, I dream of love as time runs
through my hand, (Aku memimpikan
hujan, aku bermimpi kebun di gurun pasir, Aku terbangun dengan rasa sakit, Aku
memimpikan cinta seiring berjalannya waktu melalui tanganku),” penggalan lagu ‘Desert Rose’ yang saat
itu mengalun di radio.
Memaknai
bahwa setiap orang harus memiliki mimpi, apapun mimpi itu. Ketika sudah berada
di jalannya, hal apapun pasti akan membawamu kembali di jalan itu. Untuk kesuksesan.
Penulis
: Lily Tania Innezaputri (A15.2018.01279)
No comments:
Post a Comment