Thursday, November 7, 2019

Terbang Tinggi Dalam Angan

Setiawan Triantoro
A15.2018.01285

Terbang Tinggi Dalam Angan
B.J Habibie, nama yang begitu melekat pada ingatan masyarakat Indonesia. Bukan hanya sebagai mantan presiden ke-3, tapi prestasinya yang begitu besar, membuat dirinya bukan hanya dikenal di Indonesia namun di kancah Internasional, khususnya para ilmuwan penerbangan. Beliaulah yang mengajarkan apa itu arti dari cinta sejati pada khlayak yang selalu beliau tunjukan terhadap istri tercintanya, Ainun. Namun, bangsa Indonesia berkabung secara nasional. Tepat hari Rabu, 11 September 2019, orang yang akrab disapa ‘eyang’ ini menghembuskan nafas terakhir pada usianya yang ke-83.
Pada 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan, lahirlah seorang anak yang memiliki nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie. Lahir menjadi anak ke-4 dari 8 bersaudara, Habibie kecil besar di keluarga yang religius. Beliau mengaku akan merasa tenang ketika sang ayah melafalkan ayat - ayat suci di hadapannya yang tak mengherakan kalau inilah alasan dibalik kefasihan beliau membaca Al – qur’an ketika berumur 3 tahun. Memiliki kegemaran membaca dan menunggang kuda, Habibie kecil terkenal cerdas bahkan memiliki banyak prestasi semasa di sekolah dasar.
Gigih dan cerdas, itulah kata-kata yang mampu menggambarkan beliau. Bagaimana tidak, memiliki segudang prestasi, bahkan ketika sedang berkuliah di Institut Teknologi Bandung, beliau mendapat beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaab untuk melanjut Pendidikan di Jerman. Dari tahun 1955 sampai 1965, Habibie menempuh pendidikan di Jerman, mengambil spesialisasi konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technisce Hochschule. Kuliah di luar negeri bukanlah hal mudah, selain lingkungan yang berbeda, waktu liburanpun beliau pakai untuk mengerjakan ujian – ujian dan mencari uang untuk membeli buku materi pendidikannya. Berkat kerja kerasnya, beliau lulus dengan predikat terbaik sampai S3. ‘Mr. Crack’ lah julukan beliau yang diberikan oleh para ahli penerbangan karena berhasil menemukan rumus menghitung keretakan. Tak hanya di luar negeri, beliau pun mendapat penghargaan yaitu gelar Guru Besar dan Ganesha Praja Manggala di Institut Teknologi Bandung.
10 Tahun pendidikan ditempuh oleh pemuda yang akrab disapa Rudy di Jerman, akhirnya beliau pulang ke Indonesia karena panggilan oleh Presiden Indonesia kala itu, Soeharto. Panggilan itu dilakukan untuk mengangkat Habibie sebagai Menteri Negara Ristek selama 20 tahun dan memimpin perusahaan BUMN Industri Strategis selama 10 tahun. Terciptalah pesawat pertama Indonesia yang bernama N250 Gatot Kaca hasil dari proyek pembuatan pesawat yang dipimpin Habibie. Pada masa itu, satu – satunya pesawat yang mampu terbang tanpa guncangan berlebih karena teknologi mutakhir yaitu fly by wire. Tapi karena alasan krisis moneter, Presiden Soeharto menghentikan industri PT.IPTN dimana perusahaan ini yang menjadi tempat kelahiran N250 Gatot Kaca walaupun pesawat ini sedang berada dalam masa jayanya.
Pada tanggal 14 Maret 1998, Habibie diangkat menjadi pendamping Presiden Soeharto, dan tak selang waktu yang lama, beliau pun langsung diangkat menjadi Presiden Indonesia ke – 3 menggantikan Soeharto karena tuntutan rakyat pada tanggal 21 Mei 1998. Banyak hal yang beliau lakukan untuk bangsa ini sebagai Presiden Indonesia waktu itu sampai ia mampu mengeluarkan 113 undang-undang baru per hari, seperti menekan nilai mata uang dolar yang tadinya 15 ribu rupiah per dolar sampai 10 ribu rupiah per dolar. Beliau pun mengeluarkan peraturan Otonomi Daerah untuk membuat rakyat bisa bebas beraspirasi. Namun, beliau hanya menjabat selama 1,5 tahun karena harus mundur diakibatkan referendum Timor Timur yang memilih merdeka pada tanggal 30 Agustus 1999.
Hanya menjabat dalam waktu yang terbilang singkat dan menjadi rakyat biasa kembali, Habibie sempat tinggal dan menetap kembali di Jerman. Lalu, di era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, kembali aktif menjadi penasihat presiden dan mendirikan Habibie Center. Tak hanya berhenti disitu beliau pun merancang pesawat harapan terakhir Indonesia yaitu R80 yang diperkirakan dapat terbang pada tahun 2022.
Peranan Habibie dalam memberi banyak hal karena kencitaannya terhadap Indonesia yang begitu besar. Banyak penghargaan yang beliau raih terkait teknik mesin dan pesawat dari luar negeri. Beliau pun menerima penghargaan ‘Das Grosse Verdenstkreuz Mit Stern und Schulterband’ dan ‘Das Grosse Verdienstkreuz’ dari Pemerintah Federal Republik Jerman. Di Indonesia sendiri dia mendapatkan penghargaan ‘Lifetime Achievement Award’ dari Komisi Pemilihan Umum. Namanya pun abadi dan akan terus dikenang, karena ada dimana-mana. Di jalan, monument, bahkan kisah cintanya bersama sang istri tercinta Ainun. Walaupun sudah tiada, nama Habibie akan terus terbang tinggi dalam angan.

No comments:

Post a Comment