Muhammad Aan Khunayfi
A15.2018.01274
Mas Duwik adalah seseorang yang
berprofesi sebagai tukang parkir di kampus UDINUS, Mas Duwik berprofesi sebagai
tukang parker di UDINUS kurang lebih sudah 3 tahun, usia Mas Duwik terbilang cukup
muda, yaitu 24 tahun, di usianya yang cukup muda itu Mas Duwik lebih
memilih bekerja keras di banding hahahehe layaknya orang seumurannya.
Mas Duwik merasa betah dan nyaman menjalani
profesi tersebut, dan alasan Mas Duwik tentang itu ialah karena mahasiswa/I
UDINUS cukup tertib dalam pinataan parkir, namun ternyata ada juga sesekali
yang membuat Mas Duwik gasuka, yaitu mahasiswa/I terkadang sangat sulit untuk menunjukkan
STNK, “padahal menunjukkan STNK tidak sesusah itu kan mas.” Ujar Mas Duwik.
Mas Duwik mensyukuri apa yang dia dapat
dari profesinya saat ini untuk melengkapi kebutuhannya sehari-hari,meskipun ia
belum menikah tetapi ia merasa kebutuhannya semakin hari semakin banyak, Mas Duwik
merasa cukup akan pekerjaan yang ia jalani saat ini hal itu meski di usianya saat
ini bisa dibilang titik terboros dalam hidupnya, godaan ini itu agar keinginannya
terpenuhi, namun Mas Duwik bisa mengontrol hal itu, pada saat melamar pekerjaan mas Duwik merasa malu
dan khawatir kalau ia tidak diterima karena ia hanya lulusan smp dan belum
punya pengalaman bekerja sama sekali, meskipun saingannya banyak pada waktu
melamar pekerjaan namun ia tidak pernah berhenti berdoa dan berusaha untuk
mencari pekerjaan ditempat lainnya. Pada waktu diundang untuk interview dia pun
hanya bias jujur kalau dia belum pernah bekerja dan belum mempunyai pengalaman
bekerja yang cukup, hanya bermodalkan nekat ia pun tidak pantang menyerah dan
akhirnya dia diterima bekerja di Udinus. Selama bekerja ia mengalami banyak
permasalahan, ia pernah dikucilkan oleh teman bekejanya karena ia selalu dipuji
oleh para karyawan kampus karena kegigihannya dalam bekerja. Ia sangat rajin
untuk menata motor yang pakirnya kurang teratur agar bisa ditempati oleh orang lain. Pada waktu dikucilkan teman
kerjanya ia hanya bisa diam dan sabar dan ia menyadari kalau semua pekerjaan
pasti ada resikonya entah itu dari factor internal maupun dari factor
eksternalnya. Terkadang ia juga merasa jengkel pada mahasiswa karena parkirnya
tidak teratur dan sembarangan, pada saat meminta mahasiswa untyuk melihatkan
stnk, banyak mahasiswa yang menolak dan ngeyel untuk di berhentikan karena tidak membawa stnk.
Namun ia menghadang jalan keluarnya menyuruh mahasiswa tersebut untuk meninggal
kartu identitasnya.
No comments:
Post a Comment