Thursday, November 7, 2019

Dwiki yogastyan w. (A15.2018.01232)


RA Kartini

RA kartini lahir pada tanggal 21 April tahun 1879 di  Jepara. Nama lengkap dari RA Kartini adalah Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Mengenai sejarah RA Kartini dan kisah hidup Kartini, ia lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan oleh sebab itu ia memperoleh gelar R.A (Raden Ajeng)

     Ayahnya RA Kartini yang bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati jepara. Beliau ini merupakan kakek dari RA Kartini. Ayahnya R.M. Sosroningrat merupakan orang yang terpandang sebab posisinya kala itu sebagai bupati Jepara. dan Ibu kartini yang bernama M.A. Ngasirah.

       M.A. Ngasirah sendiri bukan keturunan bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa saja. Oleh karena itu peraturan kolonial Belanda ketika itu mengharuskan seorang Bupati harus menikah dengan bangsawan juga. Hingga akhirnya ayah  Kartini kemudian mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan seorang bangsawan keturunan langsung dari Raja Madura ketika itu. Pendidikan RA Kartini

       Riwayat pendidikan RA Kartini, Ayahnya menyekolahkan anaknya di ELS (Europese Lagere School). Disinilah RA kartini  ia kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah di ELS hingga ia berusia 12 tahun.
        Apa yang telah diperjuangkan oleh RA Kartini ternyata memiliki pengaruh yang besar positif dalam menginspirasi seluruh wanita di Indonesia. Raden Ajeng Kartini merupakan tokoh wanita yang akan selalu menjadi inspirasi sepanjang masa.Perjuangan dan semangat hidup RA Kartini tidak akan pernah lekang oleh waktu. Untuk meneruskan perjuangannya, sekarang ini bangsa Indonesia memperingati hari kartini pada tanggal 21 April, yaitu di hari itu  Raden Ajeng Kartini ilahir Pada hari Kartini,,seluruh bangsa Indonesia terutama pada kaum perempuan memperingatinya berbagai cara, seperti melestarikan batik, kebaya,  dan kain tenun sebagai busana yang dapat digunakan sehari-hari. Selain itu, pastinya peringatan hari Kartini juga bermakna dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh seluruh perempuan di Indonesia, di mana perempuan juga bisa beraktualisasi dan memberikan kontribusi nyata dalam setiap aspek kehidupan.Pemikiran-pemikiran Kartini yang sangat berani, kritis, sistemik terlihat dari semua surat-surat dan artikel yang sudah menyebar di majalah-majalah wanita Eropa harus didampingi oleh orang Belanda agar tidak keluar dari visi penjajahan kerajaan Belanda di Hindia Belanda. Khususnya pemikiran tentang gugatan emansipasi di zaman yang sudah mendunia kala itu bahwa pemikiran tentang kewanitaan sangat mengagetkan wanita-wanita Eropa. Penjajahan tidak hanya feodalisme dan kapitalis dunia, akan tetapi diskriminasi terhadap kaum wanita di seluruh dunia bisa dikatakan bagi kaum wanita merupakan era penjajahen gender, bahkan untuk negara penjajah sendiri seperti Belanda dan Eropa lainnya, kaum wanita merasa terjajah oleh sistem negerinya sendiri. Dan Kartini ibarat sinar yang mampu menggugah pemikiran wanita-wanita Eropa untuk bangkit menjadi kaum yang mandiri yang tidak hanya takluk oleh kaum pria dan system yang melingkupi budaya kewanitaan. Namun, banyak kalangan yang menganggap peran Kartini hanya sebatas mitos. Seperti pendapat yang dikemukakan sejarawan Tiar Anwar Bahtiar (2009:1) yang mengatakan “mengapa harus Kartini yang menjadi simbol kebangkitan wanita Indonesia?”. Hal yang sama juga dikemukakan Harsja (2009:1), Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Terlepas dari kontroversi tersebut, kita juga tidak bisa membantah bahwa Kartini sudah terlanjur dijadikan simbol kebangkitan wanita di Indonesia. Hidup yang singkat tidak menjadikan pemikiran Kartini (1879-1904) terbelenggu dan hilang ditelan zaman. Kepeduliannya terhadap pendidikan bagi kaum perempuan membuat ia senantiasa menjadi pusat perhatian. Kartini menjadi sebuah simbol perlawanan terhadap ketertindasan dan ketidakadilan yang dirasakan kaum perempuan. Semasa hidupnya, Kartini tumbuh dan berkembang di kalangan priyayi. Sebagai anak bupati, masa kecilnya erat dengan ketatnya aturan yang mengekang. Berawal dari kondisi inilah ia lalu aktif mengemukakan gagasan-gagasan tentang pendidikan bagi perempuan. Ia berhasil menjadi inspirasi bagi kemunculan pendidikan bagi perempuan, seperti sekolah Dewi Sartika (1904), Putri Mardika (1912), dan banyak sekolah bagi perempuan pada masa pergerakan nasional. Bahkan pada 1912, didirikan sekolah Kartini di banyak kota di Jawa atas dorongan Van Deventer, seorang penggagas politik etis (Soelaiman, 2005:18). Gagasan-gagasannya kian deras meluncur ketika ia berkenalan dengan pemikiran-pemikiran barat yang liberal melalui kolega ayahnya, seperti J.H. Abendanon dan Dr. Adriani. Hal lain yang turut mendorong perkembangan Kartini adalah semangat Politik Etis yang pada saat itu berkembang. Dari sanalah, Kartini aktif melakukan korespondensi selama lima tahun sejak 1899 dengan kenalannya dari Belanda, seperti Stella Zeehandelaar, Prof. dan Ny F.K. Anton, dan Ny. Abendanon. Tulisan-tulisannya banyak berisi tentang kehidupan keluarga, adat, keterbelakangan wanita, serta yang paling utama adalah pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Berangkat dari fenomena di atas, dan terlepas dari pro-kontra tentang mitos peran Kartini, kita juga tidak bisa memungkiri kalau simbol tersebut selama ini telah membangkitkan semangat wanita Indonesia untuk maju dan berkarya seperti kaum pria. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian dalam bentuk penulisan skripsi dengan judul “Peran Raden Adjeng Kartini dalam Memperjuangkan Emansipasi Wanita tahun 1879 – 1904 .”

No comments:

Post a Comment