Ketekunan akan membuahkan hasil dari apa yang di
impikan, meski menggapai itu merupakan hal yang tidak mudah dan melalui proses
yang Panjang.
Seperti
yang di rasakan komariyah. Nenek berusia 67 tahun, kelahiran Bulakamba, Brebes,
25 Mei 1947. lahir sebagai anak ke 4 dari 5 bersaudara yang memiliki 3 anak dan
2 cucu. Nenek yang berusia 67 tahun itu merawat 2 cucunya yang bernama Nur dan
Haikal yang telah di tinggal merantau oleh orang tuanya saat Nur berumur 7
tahun dan Haiklal berumur 10 tahun, saat ini Haikal duduk di kelas 1 SMA dan
Nur duduk di kelas 2 SMP. Di mata cucunya, Beliau adalah pahlawan karena telah menjaga,
menghidupi, merawat dan menyekolahkan kedua cucunya hanya seorang diri tanpa
mengandalkan orang lain.
Beliau sekarang tinggal di sebuah gubuk kecil yang di tempati bersama kedua cucunya di desa Cipelem kecamatan Bulakamba
kabupaten Brebes, gubuk yang kecil ini terdapat lubang di mana-mana . tak ada
barang berharga di dalam gubuk miliknya. Namun beliau tetap bersyukur dengan
keadaan yang di di rasakannya saat ini dan tidak pernah ada kata mengeluh yang
keluar dari perkataan beliau.
Menjadi seorang petani sudah di tekuni nenek
komariyah selama 40 tahun, bekerja sebagai seorang petani bukan sekedar untuk
mencari nafkah saja namun juga beliau bekerja untuk menyekolahkan kedua cucunya,
nenek Komariyah dengan sabar dan tanpa
mengenal lelah setiap pagi saat orang-orang masih tertidur beliau sudah
berangkat berkerja di sawah, hal itu di lakukan hampir setiap hari. Beliau
berhasil mengumpulkan uang sedikit demi sedikit selama 40 tahun untuk membiayai
cucunya sekolah, bahkan beliau tidak hanya mengandalkan tanaman bawangnya saja,
namun ada bibit cabai yang tumbuh di pekarangannya, tentu untuk menambah
penghasilannya.
“yang
membuat saya senang berkerja sebagai petani dan tidak pernah mengeluh dengan
pekerjaan petani ini karena teman-teman saya yang kerja di sawah ini orangnya
ramah dan sangat baik terhadap saya” ucapannya dengan logat jawa yang kental.
Bukan hanya nenek komariyah saja, rupanya petani
bawang lain bernama mbah Leni pun merasakan nasib yang sama, mereka berusaha
mengumpulkan uang dari hasil bawangnya untuk menghidupi dan menyekolahkan
cucunya. Mbah Leni adalah teman nenek Komariyah yang juga berkerja sebagai
petani bawang, menurut beliau nenek komariyah seorang yang sangar penyabar dan
tidak pernah putus semangat dalam menjalani pekerjaannya,”walaupun ujian
hidupnya sangat banyak tapi beliau orang yang tidak pernah merasa memiliki
beban hidup karena dalam hidupnya hanya ada kata bersyukur dan tidak pernah
mengeluh” ujar mbah Leni dengan senyuman hangat.
Di saat harga bawang dan cabai murah, beliau membuat
inovasi di mana bawang-bawangnya di olah menjadi bawang goreng yang lezat yang
memiliki harga nilai yang tinggi,meski menambah modal namun itu salah satu cara
beliau agar bawang laku terjual di pasaran dan menimalisir kerugian, jika modal
tidak memungkinkan dengan terpaksa nenek komariyah mencari pekerjaan sampingan,
dari mulai memasak di warung-warung atau catering, mencari pekerjaan tambahan
untuk tetap memenui kebutuhan hidup beliau dan cucunya.
“Pekerjaan
apapun akan saya lakukan untuk menghidupi dan menyekolahkan
kedua cucu saya sampai sarjana agar bisa menjadi orang yang pintar dan berguna
bagi Negara, tudak seperti saya yang hanya tamat SD , selain itu saat melakukan suatu pekerjaan yang terpenting adalah halal dan di ridhoi oleh allah agar hidup
selalu berkah” tutur beliau.
Meskipun orang tua dari cucu-cucunya mengirimkan
sepeser uang untuk nenek Komariyah, beliau mempergunakannya hanya untuk
kebutuhan sekolahnya saja, dan hanya sesekali saja mendapat kiriman dari
anaknya, itupun jika ada. Pernah ketika cucunya sakit terkena DBD dan nenek kKmariyah
tidak mempunyai biaya yang cukup untuk membayar puskesmas dan beliau
menghubungi anaknya agar secepatnya mengirimkan uang untuk biaya pengobatan
cucunya, namun suara isak tangis terdengar jelas dari suara nenek komariyah,
”Saya cuman dengar tangisnya saja mbak, kata anak saya di sana mereka tidak
punya uang untuk di kirim, untuk makan sehari-hari pun taka ada, saya bingung
akhirnya saya pinjam uang ke tetanga dulu, untung saja tetangga saya mau
bantu.”
Banyak sekali pelajaran penting yang bisa kita petik
dari nenek komariyah ini, beliau telah mengajarkan arti dan nilai kehidupan
yang sesungguhnya kepada kita untuk senantiasa selalu rendah hati dan bersyukur
bagaimanapun keadannnya.
Nama: Jazila Chaerun Nisa
Nim:
A15.2018.01264
Mata
kuliah: Creative writing

No comments:
Post a Comment