Yusri Syauqil Islam
A15.2018.01260
Tugas Ujian Praktik Creative Writing
A15.2018.01260
Tugas Ujian Praktik Creative Writing
Salah satu kisah nggak kalah inspiratif datang dari
Suripto, pria paruh baya yang berprofesi sebagai tukang sayur emperan di salah
satu sudut Pasar Bulu, Bulustalan, Semarang. Dilihat dari penampilannya dan
juga dagangan yang hanya beralaskan plastik, barangkali orang-orang nggak bakal
nyangka kalau bapak satu ini sukses membuat anak-anak mereka memiliki profesi
mentereng.
Pria berusia 66 tahun ini sudah sekitar
20 tahun berjualan sayur. Meski tidak memiliki lapak permanen, namun tiap
harinya tanpa kenal lelah pria yang biasa disapa Pak De ini tak gentar bersaing
dengan pedagang lain. Selama lima tahun pertama berjualan sayur, ekonomi Pak De
memang mengalami peningkatan. Bahkan, Pak De sempat memutuskan untuk menyewa
kios untuk berdagang.
Namun sayang, niat ingin laris justru
sebaliknya. Saat berjualan di kios, dagangannya justru tidak begitu laku.
Terlebih, harga sewa kios di pasar begitu mahal. Akhirnya, pria tengah baya ini
pun kembali berjualan lagi di emperan, dengan menggelar plastik dan menjejer
sayuran segar sekenanya. Justru, dalam posisi itulah pembeli lebih tertarik
untuk datang.
Sebelum hijrah ke Semarang, Suripto
merupakan petani yang tiap harinya menggarap sawah. Merasa jika pekerjaannya
sebagai petani tidak cukup untuk menghidupi istri dan kedua anaknya, Suripto
memutuskan untuk pergi ke besar untuk mencari peruntungan. Namun sayang, kenyataannya
tidak demikian. Selama di kota, Suripto justru kesulitan mencari pekerjaan.
Pria dua anak ini bahkan sempat
menganggur selama satu tahun. Saat kehidupan di kota makin tak menentu,
datanglah seorang kerabat yang mengajak Suripto untuk berkunjung ke rumahnya.
Ternyata kerabatnya tersebut seorang pedagang di Pasar Bulu. Melihat temannya
itu yang berdagang, Suripto merasa terilhami. Meski melihat temannya tak begitu
banyak mendapat untung, tapi setidaknya masih ada pendatapan uang ia peroleh.
Membulatkan tekat untuk berdagang di Pasar Bulu, Pak De
memberanikan diri untuk meminjam uang untuk berdagang sayur di emperan. Dan
rupanya, melalui berdagang, Suripto mendapat penghasilan yang lumayan. Setelah
dua tahun lamaanya, akhirnya Pak De bisa memboyong keluarganya dari kampung.
Meski pas-pasan, tapi setidaknya Pak De bisa berkumpul kembali dengan keluarga.
Ia mengontrak rumah petak yang lokasinya tak jauh dari pasar.
Melalui berdagang pula, istrinya bisa menyisihkan
uang yang dialokasikan untuk biaya pendidikan anak. Dan benar saja, keuletan
Pak De berhasil mengantarkan semua anak-anaknya mendapat pendidikan yang layak.
Keduanya lulus SMA, dan lebih beruntung lagi, karena kedua anak Suripto
memiliki otak yang encer. Setelah lulus dari SMA N 5 Semarang, keduanya
mendapat beasiswa kuliah yang luar biasa.
Perjuangan memang tak pernah mengkhianati hasil. Kerja
keras dan keuletan Suripto juga terbukti mencetak anak-anaknya jadi orang yang
sukses. Beruntung, bukan hanya karir saja yang gemilang, bakti anaknya juga
jempolan. Setelah berhasil menyelesaikan studi dan jadi dokter, anak pertama
Suripto yang bernama Lili Setiawan resmi jadi dokter di Semarang.
Saat ini, Suripto dan
istrinya tak lagi mengontrak rumah, karena anak pertamanya yang telah
membelikan rumah yang layak. Pak De sama sekali tak menyangka, meski kedua
orangtuanya hanya penjual sayur emperan, namun penerusnya bisa sukses dan hidup
mapan.
Nggak kalah mentereng dari kakaknya,
anak kedua Suripto yang bernama Aristianti juga punya prestasi yang nggak
main-main. Sama seperti sebelumnya, anak kedua pasangan penjual sayur ini juga
mendapat beasiswa di di Akpindo Pariwisata, Semarang. Dan lebih tak menyangka
lagi, karena saat ini Aris bekerja di Belgia sebagai fotografer. Meski jarang
pulang karena masalah jarak, namun Surito mengaku bangga dan bersyukur dengan
karir anak-anaknya yang gemilang.
Ia juga berharap jika
cucu-cucunya bisa lebih sukses lagi. Yang lebih menakjubkan lagi, meski
memiliki anak-anak yang sukses, Suripto dan istrinya tidak pernah berniat
berhenti berjualan sayur. Bagaimanapun, sayuran itulah yang telah mengantarkan
anak-anak Suripto menuju cita-cita yang mereka dambakan.
Apapun profesinya, jika dilakoni dengan
kesungguhan dan ketelatenan, tentu akan menghasilkan buah yang sepadang. Dari
kisah hidup Suripto, semoga menjadi inspirasi bagi kita bahwa semua impian
besar bisa dimulai dari hal kecil.

No comments:
Post a Comment