Nama : Novi Rahmayanti
NIM : A15.2018.01210
Tugas : UTS Praktik Creative Writing (Human Interest)
WANITA PERKASA
Seorang
wanita yang selalu tampak gembira, senyum ramah dan wajah riang yang selalu ia
perlihatkan kepada semua pelanggan nya, sebut saja Bu Ida. Ia adalah seorang
penjual lontong sayur dan buryam di gg.Magersari, Soegiyopranoto, Semarang yang
berumur 47 tahun dan mempunyai 2 orang anak. Adapun suami Bu Ida sudah
meninggal sejak 2 tahun lalu karena sakit.
Ia
bekerja demi menghidupi kebutuhan keluarga kecilnya. Mulai dari makanan yang
dimakan setiap harinya, biaya untuk sekolah anaknya, dll ditanggung sendiri
olehnya. Bu Ida berjualan menggunakan gerobak. Dengan gerobak andalan nya, Bu
Ida selalu berjualan tiap hari Sabtu dan Minggu. Ia berjualan di trotoar depan gang dengan
ditambah beberapa meja dan kursi untuk pelanggan yang makan ditempat.
Di
meja tempat pelanggan makan, selalu tersedia mendoan, teh anget dan satu kardus
aqua gelas. Ia menjual harga mendoan 1.000 rupiah, khusus untuk teh anget dan
aqua gelas selalu ia gratiskan bagi pembeli. Menurutnya, sedekah itu tidak
memandang besar dari barang atau jasa yang kita keluarkan, melainkan iklhas
ketika kita memberi.
Sedekah
teh anget dan aqua gelas itu tidak seberapa baginya, karena ia berjualan pun
dengan tujuan mencari pahala juga. Ia sendiri pun cerita bahwa dengan
bersedekah, pembeli juga merasa nyaman dan senang berada di tempatnya, sehingga
ia dapat menemukan relasi-relasi lainnya terutama untuk membuat usaha baru.
Saya
beserta anak kos lainnya lumayan sering makan lontong sayur ketika hari Minggu.
Harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Bu Ida menjual lontong sayur 10.000
per porsi, dan untuk bubur ayam 12.000 per porsi. Dengan pelayanan yang sangat
ramah dari Bu Ida, jualan nya selalu habis setiap saat.
Menurut
Putri, teman kos saya “Bu Ida orangnya sangat baik sekali, ia juga tidak pelit.
Pernah saya pada hari sabtu sekitar jam 9-an beli lontong ke tempatnya yang
dikira tutup, tapi ternyata belum tutup.
Pada saat itu saya membeli 1 porsi lontong, ketika ingin membayar saya lupa
membawa uang, dan akhirnya saya memberanikan diri untuk ngomong sejujurnya
kepada Bu Ida. Ternyata ia tidak marah dan malah tersenyum, lalu ia pun
menggratiskan makanan yang telah saya makan tadi karena pada saat itu Bu Ida
juga terlihat mau menutup warung nya. Merasa tidak enak hati, lalu saya pun
membantu nya membereskan barang jualan nya tersebut dan Bu Ida merasa sangat
terbantu akan kehadiran ku”.
Bu
Ida ini juga terlihat sangat pekerja keras, mulai dari mendorong gerobak
sendiri, menghidupi keluarga kecilnya sendiri, bahkan untuk berjualan pun hanya
ia sendiri tidak ada yang membantu. Anak-anaknya membantu pekerjan rumah ketika
ia sedang berjualan. Menjadi tulang punggung keluarga tidaklah mudah, tapi ia
berhasil menunjukkan ke anaknya bahwa ia bekerja sebagai sosok ayah dan ibu.
Kehadiran
dua orang anak, dapat membuat hidupnya lebih berwarna, tidak ada kata mengeluh
untuk membesarkan mereka, bisa berperan menjadi sosok ayah dan ibu, bisa
menjadi seorang wanita yang sedang berjuang, mereka merupakan pelita kehidupan
yang selalu menerangi hidup Bu Ida.
Apapun
masalah yang sedang kamu hadapi, jangan lupa bersyukur, jangan lupa bersedekah.
Karena sedekah itu merupakan jemabatan amal untuk penghantar masa depan dan
ingatlah selalu orang-orang yang berada di sekitar mu, karena mereka akan
menjadi penolong mu pada suatu saat nanti.
No comments:
Post a Comment