Thursday, October 31, 2019

SERABUTAN JADI BOS


            Riyanto (57)  memilih menjadi serabutan sejak sepuluh tahun yang lalu. Ia memilih menjadi serabutan karena ia tidak mempunyai ijazah SMA yang dapat digunakan untuk melamar pekerjaan. Awalnya ia hanya bekerja sebagai kuli bangunan, pencari kayu, dan tukang las dikampungnya saja. Namun menurut Riyanto, upah yang didapatkan kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kemudian, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Namun, karena keterbatasan biaya untuk berangkat merantau, mengharuskan Bapak dua orang anak ini menjual sepeda yang biasa digunakan untuk mencari nafkah. Setelah kurang lebih 3 hari di Jakarta, Riyanto mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari sebelumnya, yaitu sebagai pelayan rumah makan.
Selama bekerja di rumah makan, ia tidak hanya mengandalkan upah sebagai pelayan saja. Riyanto berinisiatif membuka usaha kecil yaitu warung sembako. Modal yang didapatkan untuk membuka warung sembako tersebut dari upah pekerjaannya menjadi pelayan rumah makan.
Namun, usaha warung sembako miliknya tidak bertahan lama, hanya sekitar 3 bulan saja. Hal itu karena banyak tetangga yang berhutang di warungnya. “Ya gimana ya mbak, saya kan di Jakarta ngekos, dan lingkungan saya penghasilannya rata-rata sama seperti saya, jadi mereka pada ngutang. Saya suka gak enak kalo mau nagih soalnya saya juga tau ekonomi mereka kayak gimana” kata Riyanto (21/10/19).
Riyanto berusaha untuk mengikhlaskan hutang tetangganya yang belum terlunasi. Belum cukup nasib buruk yang dialami Riyanto, lalu ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia dikeluarkan dari pekerjaannya sebagai pelayan warung makan. Ia dikeluarkan karena sering datang terlambat. “Jadi saya waktu itu dipecat karena sering terlambat, soalnya kan warung saya udah tutup, terus saya sambi serabutan lagi mbak. Jadi kadang saya jadi kuli panggul dulu dipasar atau bantu-bantu tetangga dulu gitu sebelum berangkat kerja, makannya saya sering telat” ujarnya.
Nasib baik, Riyanto dikelilingi oleh orang yang baik. Tidak lama setelah ia mengalami nasib buruknya itu, salah satu tetangganya menawarkan pekerjaan kepada Riyanto sebagai cleaning service di salah satu rumah sakit . Kemudian ia mulai menjalani profesi barunya dengan penuh semangat dan rasa bersyukur.
Tak pantang menyerah, ia selalu tidak mau bergantung pada upah pekerjaan pokoknya saja. Ia selalu ingin memiliki pekerjaan sampingan, tetapi kali ini berbeda. Riyanto ingin istrinya saja yang memulai usaha, lalu ia meminta istrinya membuka usaha warung sate kecil-kecilan dengan modal hasil dari kerjanya. “Karena istri saya pinter masak, dan istri saya pernah bilang pengin punya kegiatan yang bisa bantu keuangan, dia bahkan sampe rela jual emasnya buat nambahin modal usaha sate, apalagi anak udah gede-gede kan mba, udah mau pada kuliah, saya pengin anak saya kuliah biar ngga kaya bapaknya serba susah”.
Tidak disangka, 2 tahun kemudian usaha sate yang dimiliki Riyanto dan istrinya sangat berkembang. Riyanto memilih pulang ke kampung halaman dan membantu istrinya berjualan sate. Hingga akhirnya ia mempunyai dua warung sate. Ia pun memulai usaha barunya yaitu membuka showroom motor dari hasil berjualan sate dan dari relasi yang ia jalin dengan beberapa pelanggan di warung satenya. “Jadi kalo ada orang makan tuh kadan ngobrol-ngobrol mbak, trus kadang ngomongin jual beli motor, eh akhirnya tertarik terus diajarin sama pelanggan sendiri ya alhamdulillah”. Kata Riyanto
Omset penjualan sate semakin meningkat, omset usaha barunya pun dapat dikatakan cukup banyak. Bahkan ia dan istrinya berniat untuk membuka warung sate yang ketiga.  Kehidupan Riyanto dan keluarganya saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya saat ia masih menjadi serabutan. Meski begitu, ia tidak pernah sombong atas pencapaiannya saat ini. Ia selalu rendah hati, dan selalu memotivasi orang-orang disekitarnya.
Riyanto selalu bertekad untuk menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana, dengan harapan agar anaknya tidak merasakan apa yang ia rasakan. Menurut Riyanto, kebahagiaan keluarga, terutama anak-anaknya merupakan hal yang penting baginya. Ia rela melakukan apa saja demi keluarganya. “Saya gak pernah malu kerja apa aja yang penting halal, yang penting anak istri saya bisa makan, bisa sekolah. Saya cuma pengin liat anak saya sekolah yang bener sampai sukses biar bisa menghargai hasil kerja bapaknya yang susah-susah cari duit biar mereka gak putus sekolah”. Ujar lelaki berusia 57 tahun tersebut.


Oleh: Yayang Sekar Kinanti (A15.2018.01085) 

No comments:

Post a Comment