Riyanto (57) memilih menjadi serabutan sejak sepuluh tahun yang lalu. Ia memilih menjadi serabutan karena ia tidak mempunyai ijazah SMA yang dapat digunakan untuk melamar pekerjaan. Awalnya ia hanya bekerja sebagai kuli bangunan, pencari kayu, dan tukang las dikampungnya saja. Namun menurut Riyanto, upah yang didapatkan kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kemudian, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta.
Namun, karena keterbatasan biaya untuk berangkat merantau, mengharuskan Bapak
dua orang anak ini menjual sepeda yang biasa digunakan untuk mencari nafkah.
Setelah kurang lebih 3 hari di Jakarta, Riyanto mendapatkan pekerjaan yang
lebih layak dari sebelumnya, yaitu sebagai pelayan rumah makan.
Selama bekerja di rumah makan, ia tidak hanya
mengandalkan upah sebagai pelayan saja. Riyanto berinisiatif membuka usaha
kecil yaitu warung sembako. Modal yang didapatkan untuk membuka warung sembako
tersebut dari upah pekerjaannya menjadi pelayan rumah makan.
Namun, usaha warung sembako miliknya tidak bertahan
lama, hanya sekitar 3 bulan saja. Hal itu karena banyak tetangga yang berhutang
di warungnya. “Ya gimana ya mbak, saya kan di Jakarta ngekos, dan lingkungan
saya penghasilannya rata-rata sama seperti saya, jadi mereka pada ngutang. Saya
suka gak enak kalo mau nagih soalnya saya juga tau ekonomi mereka kayak gimana”
kata Riyanto (21/10/19).
Riyanto berusaha untuk mengikhlaskan hutang
tetangganya yang belum terlunasi. Belum cukup nasib buruk yang dialami Riyanto,
lalu ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia dikeluarkan dari pekerjaannya
sebagai pelayan warung makan. Ia dikeluarkan karena sering datang terlambat.
“Jadi saya waktu itu dipecat karena sering terlambat, soalnya kan warung saya
udah tutup, terus saya sambi serabutan lagi mbak. Jadi kadang saya jadi kuli
panggul dulu dipasar atau bantu-bantu tetangga dulu gitu sebelum berangkat
kerja, makannya saya sering telat” ujarnya.
Nasib baik, Riyanto dikelilingi oleh orang yang
baik. Tidak lama setelah ia mengalami nasib buruknya itu, salah satu
tetangganya menawarkan pekerjaan kepada Riyanto sebagai cleaning service di salah
satu rumah sakit . Kemudian ia mulai menjalani profesi barunya dengan penuh
semangat dan rasa bersyukur.
Tak pantang menyerah, ia selalu tidak mau bergantung
pada upah pekerjaan pokoknya saja. Ia selalu ingin memiliki pekerjaan
sampingan, tetapi kali ini berbeda. Riyanto ingin istrinya saja yang memulai
usaha, lalu ia meminta istrinya membuka usaha warung sate kecil-kecilan dengan
modal hasil dari kerjanya. “Karena istri saya pinter masak, dan istri saya
pernah bilang pengin punya kegiatan yang bisa bantu keuangan, dia bahkan sampe
rela jual emasnya buat nambahin modal usaha sate, apalagi anak udah gede-gede
kan mba, udah mau pada kuliah, saya pengin anak saya kuliah biar ngga kaya
bapaknya serba susah”.
Tidak disangka, 2 tahun kemudian usaha sate yang
dimiliki Riyanto dan istrinya sangat berkembang. Riyanto memilih pulang ke
kampung halaman dan membantu istrinya berjualan sate. Hingga akhirnya ia
mempunyai dua warung sate. Ia pun memulai usaha barunya yaitu membuka showroom
motor dari hasil berjualan sate dan dari relasi yang ia jalin dengan beberapa
pelanggan di warung satenya. “Jadi kalo ada orang makan tuh kadan
ngobrol-ngobrol mbak, trus kadang ngomongin jual beli motor, eh akhirnya
tertarik terus diajarin sama pelanggan sendiri ya alhamdulillah”. Kata Riyanto
Omset penjualan sate semakin meningkat, omset usaha
barunya pun dapat dikatakan cukup banyak. Bahkan ia dan istrinya berniat untuk
membuka warung sate yang ketiga.
Kehidupan Riyanto dan keluarganya saat ini jauh lebih baik daripada
sebelumnya saat ia masih menjadi serabutan. Meski begitu, ia tidak pernah
sombong atas pencapaiannya saat ini. Ia selalu rendah hati, dan selalu
memotivasi orang-orang disekitarnya.
Riyanto selalu bertekad untuk menyekolahkan anaknya
hingga menjadi sarjana, dengan harapan agar anaknya tidak merasakan apa yang ia
rasakan. Menurut Riyanto, kebahagiaan keluarga, terutama anak-anaknya merupakan
hal yang penting baginya. Ia rela melakukan apa saja demi keluarganya. “Saya
gak pernah malu kerja apa aja yang penting halal, yang penting anak istri saya
bisa makan, bisa sekolah. Saya cuma pengin liat anak saya sekolah yang bener sampai
sukses biar bisa menghargai hasil kerja bapaknya yang susah-susah cari duit
biar mereka gak putus sekolah”. Ujar lelaki berusia 57 tahun tersebut.
No comments:
Post a Comment