Wednesday, October 30, 2019

Usang Namun Membara


USANG NAMUN MEMBARA



Pagi itu dikala semua orang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing, tak terkecuali Bu Dwi yang telah membuka toko miliknya. Ya, beginilah aktivitas sehari-hari seorang ibu berusia 48 tahun tersebut. Mengelola toko kelontong yang telah ia dirikan sejak tahun 2013, ibu beranak dua ini hampir semua waktunya ia curahkan untuk usahanya.

Sejak ditinggal oleh suaminya pada tahun 2012 karena terkena penyakit kanker, kini Ibu Dwi mau tidak mau menjadi tulang punggung keluarga. Selain harus mengurus tokonya, beliau juga menyempatkan waktu untuk bersama anaknya. Bukan hal yang mudah menjadi single parent. Bahkan, beliau harus memikirkan biaya kuliah putranya.

Namun, itu semua tak begitu menjadi beban Ibu Dwi. Baginya bisa mengurus dan melihat kedua anaknya berhasil adalah kebahagiaan bagi beliau. Putrinya sekarang bekerja di Jakarta. Setidaknya, hal ini dapat meringankan beban biaya kuliah anak kedua yang ditanggung beliau.

Butuh modal yang tidak sedikit dalam menjalankan usaha toko kelontong. Terkadang Ibu Dwi harus pintar-pintar memutar uang agar semua kebutuhannya terpenuhi. Dari kepenuhan pribadi sampai perputaran modal semua beliau kelola. Betapa sosok yang enggan untuk bermalas-malasan. Hal ini beliau terapkan kepada anak-anaknya. Ibu setengah baya ini selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa siapa yang suka bermalas-malasan akan tidak mendapat rejeki di kemudian waktu.

Ketika stok barang habis, Ibu Dwi harus membelinya di pasar. Kadang waktu istirahat ia pergunakan untuk membeli persediaan barang di pasar. Ya, dikarenakan putranya sibuk kuliah hal ini yang membuat Ibu Dwi harus pontang-panting ke pasar untuk memenuhi stok barang di toko. Memang ada sales yang datang ke toko, namun tidak semua barang memiliki sales. Ada sebagian merk rokok, snack, maupun minuman serbuk yang harus beliau beli di pasar.

Toko kelontong milik Ibu Dwi ini dibuka tepat di garasi rumahnya. Dulunya garasi tersebut merupakan tempat untuk menyimpan mobil milik mendiang suami Ibu Dwi. Namun, beberapa bulan setelah almarhum meninggal Ibu Dwi memutuskan untuk menjual mobil tersebut dan uangnya dijadikan modal usaha toko kelontong ini.

Setiap hari toko ini buka dari jam delapan pagi sampai jam 12 siang. Setelah itu, jam istirahat sampai jam setengah empat sore. Disinalah Ibu Dwi memanfaatkan waktunya dengan menyetok barang maupun sekedar mengistirahatkan badan ataupun juga memasak. Kemudian jam empat sore toko kembali dibuka sampai menjelang maghrib. Ya, aktivitas tiada henti ketika hari silih berganti. Namun, beliau tidak ada bosannya menjalani ini semua. Seakan ini semua ia lakukan demi mencari nafkah untuk keluarganya.

Dalam melayani para pembeli di tokonya, ibu Dwi sangatlah ramah. Beliau percaya bahwa semakin ramah seseorang akan memberikan banyak kebaikan. Dan ia yakin bahwa keramahannya akan membuat siapa saja yang datang ke tokonya akan merasa senang. Banyak kalangan yang datang ke toko milik Ibu Dwi. Mulai dari kalangan menengah sampai atas. Dan Ibu Dwi tidak pernah menilai dari kalangan mana pembelinya datang. Yang pasti mereka merasa senang dan puas atas harga maupun keramahan yang beliau berikan.

Walaupun senang dan duka mengahmpiri Ibu Dwi dalam menjalani usahanya, Beliau percaya bahwa duka yang ia alaminya bahwa suatu saat Allah SWT telah menyiapkan sesuatu yang menyenangkan. Hal yang menyenangkan tersebut tidaklah harus besar, namun hal sekecil apapun itu asal bisa membuat hati senang bagi beliau adalah suatu nikmat tersendiri. Bertemu dengan putrinya dirumah merupakan suatu kegembiraan bagi Ibu Dwi dan keluarga. Bisa becanda bersama dan meluangkan waktu bersama keluarga di hari libur merupakan hiburan tersendiri baginya.

Sempat bingung di benak Ibu Dwi kala ditinggal oleh suaminya. Putrinya yang masih di bangku kuliah dan putranya di bangku SMP. Hal ini yang terkadang membuat beliau pusing lantaran harus memikirkan biaya pendidikan kedua anaknya, Namun, seiring berjalannya waktu, seakan ia mendapat jalannya sendiri. Bagai misteri yang terpecahkan, kini Ibu Dwi hanya perlu memikirkan biaya kuliah putranya. Walaupun sudah ditanggung oleh putrinya, namun Ibu Dwi tidak mau menaruh harapan kepada putrinya tersebut karena beliau merasa kasihan. Jadi, dengan tekad bulat, Ibu Dwi membantu sedikit biaya kuliah putranya.

Usaha yang beliau jalani kini sudah genap berusia 4 tahun. Tentunya banyak rintangan yang ia hadapi. Untung maupun rugi sudah menjadi teman bagi Ibu Dwi. Dan beliau tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Selain untuk mencari nafkah, usaha ini tercetus dari ide beliau sendiri lantaran ingin mengisi kegiatan dirumah. Berdasarkan latar belakang sebagai ibu rumah tangga, Ibu Dwi memberanikan diri untuk membuka usaha ini. Dari modal awal yang beliau gunakan untuk membeli estalase, lemari, maupun barang dagangan yang pada akhirnya Bulan Mei 2013 Ibu Dwi membuka usaha ini. Masih teringat di benaknya kala itu di hari pertama pembukaan tokonya sama sekali tidak ada pembeli yang masuk. Barulah di hari berikutnya ada seorang pembeli dalam satu hari jualan. Itu saja sudah membuat senang dan optimis usahanya akan dikenal.

Memang pada akhirnya Ibu Dwi hanyalah seorang manusia biasa. Namun ijinkanlah kita untuk melihatnya lebih jauh ke dalam tiap usahanya. Beliau banyak mencurahkan tenaga, keringat, bahkan emosi yang dia luapkan untuk menjalani hidupnya sebagai single parent. Apresiasi? Sangat pantas jika kita berikan kepada Ibu Dwi, sang Kartini dalam perjuangannya. Yakinilah, bahwa setiap usahamu pasti tidak akan ada yang sia-sia.











No comments:

Post a Comment