BGBJ adalah singkatan dari Bantar Gebang Biji.
Maksud nama tersebut adalah sebagai simbol bahwa semua anak-anak disini bisa
menjadi benih atau bibit untuk masa depan yang lebih baik dan berguna. BGBJ
tersebut biasa dikenal sebagai sanggar belajar untuk anak-anak Bantar Gebang.
Kegiatan tersebut berlangsung pada setiap hari minggu dan mendatangkan relawan
pengajar dari lokal maupun turis. Mereka mengajarkan banyak ilmu pengetahuan
seperti Bahasa Inggris, Matematika, Mendongeng, dan Baca Tulis.
Pendiri BGBJ Resa Beonard mengatakan “Anak-anak disini kurang literasi, mereka yang bersekolah kelas 6 SD tingkat kecerdasannya belum sampai pada tingkat tersebut. Maka dari itu fungsi BGBJ yaitu meningkatkan kecerdasan pendidikan mereka”. Anak-anak disini juga diajarkan untuk tidak membuang sampah pada tempatnya walaupun sekelilingnya adalah sampah semua. Mereka juga diajarkan untuk membawa botol minuman dan membawa tempat makanan sendiri. Di sela aktivitas, tak lupa Resa mengingatkan adik asuhnya untuk pintar mengelola sampah dan membiasakan hal tersebut di rumah masing-masing. Sering kali, hasil pemisahan sampah dibawa pulang oleh mereka untuk dijual kembali.
Pendiri BGBJ Resa Beonard mengatakan “Anak-anak disini kurang literasi, mereka yang bersekolah kelas 6 SD tingkat kecerdasannya belum sampai pada tingkat tersebut. Maka dari itu fungsi BGBJ yaitu meningkatkan kecerdasan pendidikan mereka”. Anak-anak disini juga diajarkan untuk tidak membuang sampah pada tempatnya walaupun sekelilingnya adalah sampah semua. Mereka juga diajarkan untuk membawa botol minuman dan membawa tempat makanan sendiri. Di sela aktivitas, tak lupa Resa mengingatkan adik asuhnya untuk pintar mengelola sampah dan membiasakan hal tersebut di rumah masing-masing. Sering kali, hasil pemisahan sampah dibawa pulang oleh mereka untuk dijual kembali.
Untuk mengubah persepsi anak-anak terhadap lingkungannya, Dara Permata, seorang relawan pengajar kelas kreativitas di komunitas BGBJ, memperkenalkan hal-hal baru, termasuk mendaur ulang sampah agar bisa menjadi kreasi baru yang keren dan unik. Yang diajarkan Dara kepada anak-anak ini antara lain mendaur ulang sampah plastik dan kertas yang tidak dimanfaatkan lagi. Misalnya, botol plastik yang tak terpakai lagi dihias menjadi mainan atau ban bekas yang dicat dan dibentuk menjadi bangku maupun sampah kertas yang didaur ulang menjadi hiasan. Tak hanya mendaur ulang sampah yang ada di sekitar menjadi kreasi seni, furnitur yang digunakan di komunitas tersebut juga menggunakan kayu yang dibeli dari pemulung Bantar Gebang.
Dengan usaha untuk mengubah pola pikir masyarakat,
bangunan yang ditempati komunitas BGBJ dulunya adalah lokasi untuk pembuangan
plastik namun kini bertransformasi menjadi rumah tinggal sementara atau
homestay, yang penghasilannya digunakan untuk biaya operasional komunita.
Tidak
ada biaya untuk bergabung belajar di BGBJ, disini terbuka sangat lebar untuk
menjadi relawan. Setiap harinya akan terus bertambah anak-anak untuk bergabung
belajar di BGBJ. Tempat BGBJ tersebut dilengkapi dengan tembok yang
berwarna-warni berisi mural dari tangan para relawan. Selain itu di dalamnya
banyak tanaman hidroponik yang ditanam dan dirawat oleh anak-anak.
BGBJ yang dahulunya adalah rumah milik Resa, seorang perempuan penduduk yang sejak usia 6 tahun tinggal di Bantar Gebang. Saat itu Bantar Gabang masih kota biasa belum ada sampah yang menggunung, tetapi pada saat usia 8 tahun sampah-sampah mulai berdatangan dan menggunung hingga saat ini. Karena daerah tempat tinggalnya yang sekarang itu, ia jadi sering diejek teman-temannya dengan julukan 'Putri Sampah'. Tapi, ejekan itu bukan membuatnya semakin mundur, justru ia malah semakin memotivasi dan ingin maju ke depan. Ia berkeinginan kuat untuk bersekolah tinggi dan kembali menjadi orang yang bermanfaat di lingkungan tempat tinggalnya.
Saat ini organisasi sosial milik Resa masih mendapat
pendanaan yang di dominasi dari luar negeri. Banyak bule yang tertarik untuk
memberi bantuan dari mulai uang, hingga buku bacaan untuk anak-anak. Ia
menghabiskan masa sekolahnya dengan merantau di daerah Sumatera. Setelah
selesai pendidikan, ia kembali ke rumah sampahnya dan mendirikan BGBJ. Karena
keahlian dalam berbisnis dan berbahasa Inggris, ia banyak ditawari pekerjaan
dari perusahaan ternama dalam maupun luar negeri. Tapi demi BGBJ, ia rela
menolak semua tawaran agar tetap bisa mengurus dan membesarkan BGBJ.
Resa mengungkapkan "hanya ingin anak-anak di Bantar Gebang tidak menjadi anak-anak keterbelakangan. Mereka hanya anak-anak yang tempat tinggalnya yang berbeda dengan anak-anak yang lainnya, tapi potensinya sama. Maka dari itu kita harus memotivasi dan menanamkan pola pikir yang positif kepada anak-anak BGBJ."
Pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan, sebab pendidikan selalu akan digunakan dalam menjalani kehidupan. Bahkan, diibaratkan pendidikan bisa mengubah dunia itu memang benar.
Resa mengungkapkan "hanya ingin anak-anak di Bantar Gebang tidak menjadi anak-anak keterbelakangan. Mereka hanya anak-anak yang tempat tinggalnya yang berbeda dengan anak-anak yang lainnya, tapi potensinya sama. Maka dari itu kita harus memotivasi dan menanamkan pola pikir yang positif kepada anak-anak BGBJ."
Pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan, sebab pendidikan selalu akan digunakan dalam menjalani kehidupan. Bahkan, diibaratkan pendidikan bisa mengubah dunia itu memang benar.
IRFAN SETIA NN (A15.2018.01051)


No comments:
Post a Comment