Wednesday, October 30, 2019

RASA MALAS MEMBAWA BERKAH


Terkadang kita memang sering lupa sebelum ditampar oleh kenyataan. Semesta mempunyai banyak cara untuk menyadarkan kita. Dengan mempertemukan dengan orang yang tak terkira melewati postingan yang menjadi viral di media sosial.

Di tengah pertumbuhan startup yang semakin menggila sampe bisa disebut sebagai fase kemaceta jalan. Ada cerita yang sangat berbeda sekali dari orang-orang yang dikata sangat kurang rejekinya yaitu merekayang tidak termasuk dalam jajaran pesan-antar aplikasi di handphone. Mereka yang masih memilih sistem konvensional, bukan berarti mereka tidak ingin memanfaatkan kesempatan tekhnologi saat ini. Tetapi memang karena penuh dengan keterbatasan pengetahuan. Sistem yang sangat penuh dengan terobosan ini jelas sangat memudahkan. Namun pernahkan kalian berfikir atas nasib mereka ?

Pak Soleh sangat beruntung sekali. Kisahnya yang ‘menyentuh’ tapi sebenarnya tak langka, akhirnya mendapatkan sorotan


Postingan Dewi Rachmayani di Facebook tentang keadaan Pak Soleh, seorang tukang ojek yang sudah tidak muda lagi dan mulai kehilangan banyak pelanggan, menjadi viral di berbagai sosial media, dan identiknya orang Indonesia yaitu sesuatu yang menyentuh hati memang akan menjadi pusat perhatin di mana-mana.
Beliau beruntung bertemu dengan Dewi yang sangat punya pengaruh besar di sosial media. Postingan Dewi di media sosial ini (facebook) di bagikan setidaknya 5 ribu orang sampai saat kisah yang ia tulis dilansir oleh berbagai khalayak. Belum lagi screen capture yang ditulis Dewi yang menyebar ke berbagai sosial media lain, membuat efek ‘tinggalkan pesan ojek modern- beralih ke Pak Soleh’ semakin kuat.
Mungkin saja saat ini handphone pak soleh tidak berheti berbunyi, karena ada tanda pesan masuk dari para pelanggan yang tersentuh hatinya saat membaca screen capture dewi. Atau mungkin pak sholeh banyak mendapatkan bantuan dari masyarakat yang membaca screen capture dewi. Pak sholeh sangatlah beruntung. Akan tetapi diluar sana masih sangat banyak orang yang bernama sholeh yang nasibnya kian murung.
kita semua terlalu dimanja oleh kemudahan yang ada di mana-mana. Lupa. Kadang yang kuasa menitipkan rejeki nya di tangan kita
seberapa sering kita mampir ke warung sebelah rumah ataupun di seberang rumah untuk membeli kebutuhan diri kita pribadi ? atau mungkin seringkali kita memanggil pedagang kaki lima saat perut kita dilanda kelaparan ? atau bahkan kita lebih sering memesan via online yang tentu rasanya sudah pasti enak dan berkualitas ?
Minimarket yang tempatnya sangat sejuk dan sudah pasti kelengkapannyasering kali menjadi andalan kita semua. Dan juga restoran yang mempunyai keja sama dengan layanan pesan antar tentu sebagai penyelamat perut kita yang lapar. Memang, kita semua terkadang sering sekali melupakan bahwa rejeki itu dititipkan TUHAN di mana saja. Dan salah satunya yaitu melalui tangan kita sendiri.
Memang ini bukan tentang rasa atau kepastian dan kedatangannya, melainkan dengan bagaimana kita saling membantu, sesederha itu.
Setiap ingin berhenti di tempat perbelanjaan yang besar atau memanfaatkan aplikasi yang sangat memudahkan kita untuk memesan, sebaiknya relakah kita sedikit untuk direpotkan ? untuk rejeki mereka yang sebenarnya sangat lebih membutuhkan
Jika kita seminggu- dua minggu tidak memesan makanan dari layanan pesan-antar menggunakan sepeda motor yang sering membagikan vocher gratisan itu kita pun juga tidak akan kekurangan apa-apa. Jika kita hijrah dari yang semula membeli kebutuhannya di minimarket ke warung yang lebih sederhana hidup kita juga akan lebih hemat. Perubahan sekecil apapun dari kita jika ditiru oleh orang banyak maka akan membawa makna untuk merubah hidup mereka.
Pak sholeh sudah sangat terbantu saat ini. Tapi perlu kita ketahui masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita. Manusia bisa dikatakan berhasil jika mereka yang hari ini belum terposting di sosial media, akan tetapi tetap bisa mendapat bantuan dari orang lain. Pelukan hangat tetap bisa dirasakan bahkan kepada mereka yang sudah  tidak bisa lagi mengikuti perkembangan jaman.
Bukankah tujuan hidup untuk menjadi manusia yang sederhana saja tetapi bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama?

No comments:

Post a Comment