Friday, November 8, 2019


Nama : Bima Renald Pramudya
NIM : A15.2018.01247


 Asap Tebal Akibat Kebakaran Hutan
Di Kalimantan yang sebagian besar wilayahnya adalah hutan terjadi kebakaran di banyak titik, kebakaran hutan ini terjadi pada bulan September, sudah banyak akibat yang ditimbulkan dari kebakaran hutan ini yaitu penyakit bagi masyarakat sekitar, hilangnya hutan dan terbunuhnya berbagai macam binatang.
Ada berbagai pendapat tentang terjadinya kebakaran hutan ini mulai dari hutan terbakar karena musim kemarau yang berkepanjangan sehingga mudahnya menyulut api dan ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kebakaran hutan ini diperbuat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk dijadikan lahan oleh mereka, pemerintah harus menghukum tegas bagi mereka yang dengan sengaja menbakar hutan ini untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan seperti ini di tahun-tahun yang akan datang.
Perjuangan petugas gabungan untuk memdamkan api di lokasi kebakaran hutan harus diapresiasi, sulitnya medamkan api ditemapat kejadian membuat mereka harus mempertaruhkan nyawa untuk memadamkannya, kesehatan dan keselamatan yang menjadi ancaman tidak membuat petugas gabungan mundur untuk memadamkan api. Demi keselamatan banyak orang dan untuk generasi-generasi muda di indonesia agar penyakit dari asap kebakaran hutan tidak menjadi penyakit yang diderita banyak masyarakat disekitarnya.
Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai Senin, 16 September 2019, pukul 16.00 WIB, titik panas ditemukan di Riau sebanyak 58, Jambi (62), Sumatera Selatan (115), Kalimantan Barat (384), Kalimantan Tengah (513) dan Kalimantan Selatan (178). Jumlah titik panas atau hotspot itu menurun dibandingkan data BNPB per 15 September 2019, pukul 16.00 WIB. Pada Minggu kemarin, jumlah titik panas di Riau ada 59, Jambi (222), Sumatera Selatan (366), Kalimantan Barat (527), Kalimantan Tengah (954) dan Kalimantan Selatan (119).
Sementara luas karhutla di Indonesia selama 2019, sesuai data KLHK, sudah mencapai 328.722 hektare. Dari data itu, kebakaran di Kalimantan Tengah tercatat seluas 44.769 hektare, Kalbar (25.900 ha), Kalsel (19.490 ha), Sumsel (11.826 ha), Jambi (11.022 ha) dan Riau (49.266 ha).
Data BMKG yang dilansir harian berdasar parameter konsentrasi PM10, juga menunjukkan kualitas udara di Pekanbaru (Riau) pada 16 September 2019, pukul 18.00 WIB, mencapai level Berbahaya atau angka 327 µgram/m3. Tingkat konsentrasi PM10 makin parah pada pukul 21.00 WIB. Di Pontianak, konsentrasi PM10 sempat menyentuh level Berbahaya pada Senin, pukul 16.00 WIB, yakni 383,81 µgram/m3. Angka itu menurun ke level Sangat Tidak Sehat atau 293,73 µgram/m3 pada pukul 18.00 WIB. Kualitas udara di Sampit (Kalbar), yang Berbahaya pada Senin pagi, turun ke level Sangat Tidak Sehat dengan konsentrasi PM10 226,6 µgram/m3, saat pukul 18.00 WIB.
Dari kebakaran hutan ini menimbulkan asap yang sangat tebal karena luasnya kebakaran hutan sehingga aktifitas masyarakat di sekitar terganggu oleh asap yang sangat pekat dan juga ketika warga banyak menghirup asap dari kebakaran hutan ini menjadikan sebuah penyakit, karena tebalnya asap juga membuat matahari tidak terlihat dan menjadikan suansana di sekitar seperti mendung yang berlangsung secara lama. Banyaknya asap juga mengakibatkan terganggunya transportasi di wilayah yang berasap.
Kebakaran hutan ini juga menjadi sorotan oleh nasa dan di potret oleh satelit nasa dan dalam gambar tersebut memperlihatkan betapa luasnya awan berwarna putih yang itu adalah asap dari kebakaran hutan, hampir seluruh kalimantan tertutup oleh asap kebakaran hutan.

No comments:

Post a Comment