Nama : Bima Renald Pramudya
NIM : A15.2018.01247
Asap Tebal Akibat Kebakaran Hutan
Di
Kalimantan yang sebagian besar wilayahnya adalah hutan terjadi kebakaran di
banyak titik, kebakaran hutan ini terjadi pada bulan September, sudah banyak
akibat yang ditimbulkan dari kebakaran hutan ini yaitu penyakit bagi masyarakat
sekitar, hilangnya hutan dan terbunuhnya berbagai macam binatang.
Ada
berbagai pendapat tentang terjadinya kebakaran hutan ini mulai dari hutan
terbakar karena musim kemarau yang berkepanjangan sehingga mudahnya menyulut api
dan ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kebakaran hutan ini diperbuat oleh
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk dijadikan lahan oleh mereka,
pemerintah harus menghukum tegas bagi mereka yang dengan sengaja menbakar hutan
ini untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan seperti ini di tahun-tahun yang
akan datang.
Perjuangan
petugas gabungan untuk memdamkan api di lokasi kebakaran hutan harus
diapresiasi, sulitnya medamkan api ditemapat kejadian membuat mereka harus mempertaruhkan
nyawa untuk memadamkannya, kesehatan dan keselamatan yang menjadi ancaman tidak
membuat petugas gabungan mundur untuk memadamkan api. Demi keselamatan banyak
orang dan untuk generasi-generasi muda di indonesia agar penyakit dari asap
kebakaran hutan tidak menjadi penyakit yang diderita banyak masyarakat
disekitarnya.
Berdasar
data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai Senin, 16 September
2019, pukul 16.00 WIB, titik panas ditemukan di Riau sebanyak 58, Jambi (62),
Sumatera Selatan (115), Kalimantan Barat (384), Kalimantan Tengah (513) dan
Kalimantan Selatan (178). Jumlah titik panas atau hotspot itu menurun
dibandingkan data BNPB per 15 September 2019, pukul 16.00 WIB. Pada Minggu
kemarin, jumlah titik panas di Riau ada 59, Jambi (222), Sumatera Selatan
(366), Kalimantan Barat (527), Kalimantan Tengah (954) dan Kalimantan Selatan
(119).
Sementara
luas karhutla di Indonesia selama 2019, sesuai data KLHK, sudah mencapai
328.722 hektare. Dari data itu, kebakaran di Kalimantan Tengah tercatat seluas
44.769 hektare, Kalbar (25.900 ha), Kalsel (19.490 ha), Sumsel (11.826 ha),
Jambi (11.022 ha) dan Riau (49.266 ha).
Data
BMKG yang dilansir harian berdasar parameter konsentrasi PM10, juga menunjukkan
kualitas udara di Pekanbaru (Riau) pada 16 September 2019, pukul 18.00 WIB,
mencapai level Berbahaya atau angka 327 µgram/m3. Tingkat konsentrasi PM10
makin parah pada pukul 21.00 WIB. Di Pontianak, konsentrasi PM10 sempat
menyentuh level Berbahaya pada Senin, pukul 16.00 WIB, yakni 383,81 µgram/m3.
Angka itu menurun ke level Sangat Tidak Sehat atau 293,73 µgram/m3 pada pukul
18.00 WIB. Kualitas udara di Sampit (Kalbar), yang Berbahaya pada Senin pagi,
turun ke level Sangat Tidak Sehat dengan konsentrasi PM10 226,6 µgram/m3, saat
pukul 18.00 WIB.
Dari
kebakaran hutan ini menimbulkan asap yang sangat tebal karena luasnya kebakaran
hutan sehingga aktifitas masyarakat di sekitar terganggu oleh asap yang sangat
pekat dan juga ketika warga banyak menghirup asap dari kebakaran hutan ini menjadikan
sebuah penyakit, karena tebalnya asap juga membuat matahari tidak terlihat dan
menjadikan suansana di sekitar seperti mendung yang berlangsung secara lama.
Banyaknya asap juga mengakibatkan terganggunya transportasi di wilayah yang
berasap.
Kebakaran
hutan ini juga menjadi sorotan oleh nasa dan di potret oleh satelit nasa dan
dalam gambar tersebut memperlihatkan betapa luasnya awan berwarna putih yang
itu adalah asap dari kebakaran hutan, hampir seluruh kalimantan tertutup oleh
asap kebakaran hutan.
No comments:
Post a Comment