Friday, December 6, 2019

Kerja Keras Tukang Siomay Demi Sang Anak


Sabian Ray Dhista Almayda
A15.2018.01244
Ujian Praktik Creative Writing (Susulan)

Kerja Keras Tukang Siomay Demi Sang Anak
         
          Siomay adalah makanan pengganjal perut yang terbuat dari tepung dan berisi daging ikan. Meskipun makanan ini bukan berasal dari negeri ini tetapi para pedagang biasanya dari pedesaan dan kota kota kecil. Kebanyakan para penduduk Ngijo, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang mengenal pedagang siomay yang jadi favorit mereka. Sebut saja Pak Eko, ia sebetulnya tidak ingin kisahnya saya tulis disini tetapi setelah saya bujuk akhirnya dia mau. Pak Eko adalah pedagang yang bersifat baik dan ia sangat ramah dengan pambelinya. Ia mulai memasak siomay dari pukul lima pagi dan mulai berjualan keliling pukul sepuluh. Penjualan siomay beliau hampir setiap hari berakhir pada pukul tujuh malam.

Sebelum menjadi pedagang siomay, awalnya pak Eko bekerja serabutan di kota Brebes dia berpenghasilan lebih kecil daripada sekarang. Beliau diajak merantau ke Semarang dengan teman sekampungnya dan bekerja sebagai tukang bangunan disebuah perumahan. Energi dan tenaganya terkuras habis menjadi tukang diperumahan itu. Akhirnya beliau pertama kali belajar membuat siomay dengan seorang pedagang yang dikenal pada saat naik bis menuju Brebes. Pak eko pun berteman dengan pedagang siomay tersebut yang bernama Mas Arie dan tinggal bersama disebuah kontrakan yang sederhana di daerah Gunungpati.

Dengan semangat Pak Eko mulai berjualan dari daerah Ngijo hingga ke sekitaran kampus Unnes dengan berjalan kaki. Belasan kilometer ia hadapi demi mencari uang untuk dia dan anaknya yang berada di kota asalnya, Brebes. Apabila siomaynya terjual sampai habis beliau bisa mendapatkan keuntungan tiga ratus ribu per hari, jika tidak habis beliau hanya mendapatkan keuntungan seratus ribu. Beliau memiliki kesulitan berjualan siomay dikarenakan belum mempunyai benda benda untuk melindungi dirinya dan dagangannya. Jika terjadi hujan ia tidak mempunyai payung beliau cuma bisa berteduh diberbagai tempat. Ia pun pernah terpeleset dan luka luka ketika ingin kembali ke kontrakan, dikarenakan licinnya jalan yang beraspal jelek dibeberapa daerah Gunungpati.   

Hebatnya beliau tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur atas berapa pun uang yang didapat. Pak Eko juga merasa beruntung beliau masih diberikan umur yang panjang oleh Tuhan Yang Maha Esa dan masih bisa bertemu dengan anaknya. Beliau mempunyai mimpi dengan berjualan siomay ini dia bisa meluluskan anaknya dan membeli motor untuk berjualan. Ia berkata “Syukur syukur aku bisa Umrah, pingin banget ke Mekkah” itulah keinginan dari pak Eko yang terakhir. Beliau mengaku sangat mengutamakan anaknya daripada dirinya.

Di kampung halamannya Pak Eko hidup berdua dengan putranya yang masih duduk di Sekolah Menengah Atas. Ia sudah berpisah dengan istrinya karena sang istri sudah tidak kuat merasakan kekurangan ekonomi yang mereka derita. Akibat perpisahan itu putranya sekarang hidup dengan nenek dan keluarga pak Eko yang tinggal disalah satu desa di kota Brebes. Walaupun begitu ia masih tetap ceria dan berdagang dengan sepenuh hati demi membiayai kehidupan dirinya dan anaknya. Saya sempat bertanya kepada beliau, “Bapak sering pulang ke Brebes?” terus pak Eko menjawab “Ndak sih jarang banget, aku sampe kangen sama anakku. Dia satu satunya yang aku punya”. Pada saat itu walaupun beliau tersenyum tetapi rautnya berisi kesedihan dan sinaran yang mendalam. Pak Eko mengajarkan banyak hal yang menjadi inspirasi bagi saya. Kerja kerasnya menggambarkan seorang ayah melakukan apa saja demi anaknya, walaupun dia terjatuh dan menghabiskan tenaga yang ia punya. Tetap saja semua itu demi anak yang ia sayang satu satunya.  
         

No comments:

Post a Comment