Thursday, October 31, 2019

SUKSES AKADEMIK

SUKSES DALAM AKADEMIK 

Belajar adalah tugas utama seorang siswa didunia, mimpi mendapatkan nilai yang sempurna itulah mimpi setiap siswa. Banyak cara akan dilakukan untuk mendapat nilai yang maksimal tentunya cara tersebut sudah dipikirkan oleh setiap siswa. Namun kadang dalam menikmati proses siswa merasa tidak percaya diri dengan adanya persaingan yang terjadi dikelas. Inilah dia seorang siswa yang mempunyai tujuan menjadi lulusan terbaik UN ( Ujian Nasinal ).
siswa kelahiran 11 Oktober 2001 dengan nama Ananda Hafidh Rifai asal SMAN 4 Solo yang mendapatkan hasil UN sempurna. Perjuangan yang tidak sia-sia dari saudara hafidh untuk mencapai hasil yang diinginkan banyak siswa yaitu menjadi lulusan terbiak. Tidak ada cara khusus yang dilakukan siswa ini, seperti layaknya banyak siswa ia belajar dan mengingat setiap apa yang dia peroleh didalam kelas, banyak orang bertanya apakah dia mengikuti kegiatan seperti les prifat dirumah, ia menjawab tidak. Hasil yang dia dapat adlah karena belajar dengan tekun dan mengingat setiap apa yang dia dapat didalam kelas, tidak ada cara khusus, saat waktu luang dia hanya mengulas kembali soal-soal ujian yang akan dikerjakan membuat catatan kecil untuk mengingat pelajaran dan latihan mengerjakan soal latihan UN. 
siswa yang biasa disapa hafidh ini juga menceritakan kepada banyak orang bahwa keberuntungan juga tidak bisa dipungkiri dari hasil yang dia raih,  membuat orang tua bangga itu adalah kewajibannya sebagai seorang siswa, karena dengan adanya restu dari orang tua kita akan menikmati proses dengan sabar dan penuh tanggung jawab agar tidak mengecewakan orang tua yang sudah berusaha untuk membiayain sekolah kita, jika kita mempunyai keinginan raihlah keinginan itu dengan melihat perjuangan orang yang kita sayang demi terwujudnya tujuan kita. 
Dari hafidh yang mempunyai sosok pendiam dan bersuara halus ini kita belajar sesuatu yaitu dengan ketekunan kita untuk belajar, dan keseriusan untuk mendapat nilai yang sempurna adalah proses yang harus kita kerjakan demi meraih tujuan kita. Inilah dia Hafidh yang dari segi fisik anak dengan tinggi 160 cm ini mengaku hanya memiliki bobot 35 kilogram. Namun siapa sangka siswa kelas XII A6 itu mampu meraih nilai 100 untuk masing-masing mata pelajaran Matematika, Fisika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Jangan pernah merasa puas dengan apa yang kita lakukan karena setiap apa yang kita kerjakan adalah perwujudan apa yang akan kita peroleh dihari kelak, manusia mempunyai kelebihan masing-masing tapi dari kelebihan itu apa yang akan kita lakukan, itulah yang harus kita pikirkan. Itulah inspirasi dari banyak orang siswa berkacamata dengan kelebihannya. 


nama : RIVAL MUNDOW 
nim    : A15.2018.01294

SURGA DI BALIK KERUPUK





Kesadaran kita terhadap lingkup luar sudah mulai tergerus oleh indahnya media sosial dan gadget yang ada digenggaman. Hal tersebut seringkali membuat kita lupa menggenggam kesadaran terhadap semua yang ada disekitar. Membuat kita menjadi manusia yang hina akan cueknya kita terhadap dunia luar. Rezeki dari Tuhan pun ikut kita acuhkan bahwa sebenarnya sebagian rezeki kita adalah rejeki mereka juga. Tanpa kita sadar entah kebaikan apa yang akan memasukan kita kedalam kebaikan-Nya. Sering kita lupa sebelum kita ditanpar langsung didepan muka. Semesta memang luar biasa. Mempunyai cara yang indah untuk menyadarkan kita dari hal yang tak terduga. Bahkan sebuah konten youtube misalnya, merupakan jalan kesadaran kita terhadap nikmat yang sudah diberikan oleh-Nya.
            Sebuah konten dari teman saya Martha Alfin di YouTube tentang seorang pedagang kerupuk keliling bernama Marwanto ini sangat menyentuh hati. Bapak dua orang anak ini berhasil mengumpulkan dana untuk membangun mushola dari sebagian kecil hasil jualannya. Memulai menyiapkan dagangan sebelum subuh dirumahnya yang beralamat di Lemah Gempal. Sebelum subuh tiba, bapak dua orang anak ini menyiapkan dagangannya terlebih dahulu. Lalu membersihkan mushola sebelum sholat subuh. Setelah semua beres, dimulailah petualangan pak Marwanto menyusuri kota Semarang. Dimulai dari Lemah gempal menyusuri tugu muda hingga sampai di sampangan dagangan pak Marwanto tidak sepenuhnya terjual habis setiap harinya. Bermodalkan sepeda tua yang dikayuhnya, dengan niat karena Allah beliau ikhlas menjalankan pekerjaan mulia ini.
            Tentunya kita malu dengan beliau. Dari penjualan kerupuknya ini. Beliau bercita – cita ingin berangkat umroh ke Tanah Suci bersama isterinya. Tiga puluh enam juta sudah terkumpul selama ini. Namun keikhlasan beliau karena suatu hal menyebabkan pak Marwanto mengurungkan niatnya untuk berangkat ke tanah suci. Karena ada hal yang lebih mulia yang ingin pak Marwanto kerjakan. Yaitu membangun mushola yang sudah kurang layak.
            Kepekaan pak Marwanto tehadap lingkungannya menyadarkan bahwa ia merasa berdosa ketika melihat sebuah mushola yang sudah retak - retak itu masih berdiri. Keselamat anak – anak TPQ yang sedang menimba ilmu agama dan orang tua yang berkegiatan di musola menjadi salah satu alasan beliau berinisiatif membangun mushola. Bapak berusia 63 tahun ini tidak ingin mushola yang ada di kampungnya terbengkalai. Alhamdulillah dengan segala bantuan dari masyarakat dan tentunya di bantu oleh pak camat Semrang Barat. Dengan modal tabungannya tiga puluh enam juta, beliau berhasil mengumpulkan dan mendapatkan sumbangan hingga seratus delapan puluh juta rupiah untuk membangun mushola yang kini menjadi dua lantai.
            Banyak sekali orang yang meragukan beliau. Tidaklah mungkin seorang pedagang krupuk mampu membangun mushola.. Tanpa disadari pak Marwanto percaya bahwa sebagian hasil dari penjualannya adalah pahala untuk orang – orang yang membelinya. Namun pak Marwanto membuktikannya. Tidak mudah memang menjadi orang baik.
            Ini bukan hanya soal rasa. Tentang bagaimana kita saling membantu dan peka di luar gadget kita di lingkungan sekitar kita. Sesederhana itu. Toh juga kita tidak akan kekurangan apapun jika kita mau menyisihkan sebagian rezeqi kita kepada orang lain. Kita juga tidak akan mungkin sengsara dengan sebuah kerupuk seharga dua ribu rupiah. Sebuah perubahan kecil yang dimulai dari diri kita sendiri jika banyak orang yang ikut serta bisa membawa kita disebuah perubahan yang luar biasa. Dan kini masjid yang di inisiatifi oleh pak Marwanto sudah bisa dibilang makmur. Di era yang serba media sosial ini. Sebuah keberhasilan yang tidak dimulai dari sosila media merubakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Dekapan hangat dan rangkulan optimisme masih bisa dirasakan oleh beliau yang tidak bisa mengikuti arusnya jaman. Sebuah tamparan keras terhadap kita yang mempunyai segala kecukupan. Sesederhana itu memulai kebaikan,. Dari sebuah kerupuk seharga dua ribu kita bisa ikut bergerak membantu. Tidak tahu kebaikan apa yang akan membawa kita ke Surga-Mu.


Fikri Maulana Haikal
A15.2019.01643

Perjuangan Seorang Cleaning Service


Perjuangan Seorang Cleaning Service
IBU ASIATON “bu aton”
Beberapa orang melihat perkerjaan ini adalah perkerjaan yang kurang bersih dan sangat kotor tapi seseorang ini melakukan perkejaan ini dengan keikhlasan hatinya dan tidak pernah melihat apapun perkejaannya. Asal apa yang dia kerjaan adalah sesuatu yang halal dan baik dilakukan tanpa ada alasan itu kotor atau tidak baik dengan kesehatan.
Seseorang ibu dengan semangat muda yang masih berusaha untuk berkerja dengan usianya yang sudah tidak muda lagi, inilah beliau kelahiran Bantul,Jogyakarta tahun 72 ini adalah ibu Asiaton yang biasa disapa dengan bu aton yang berkeja sebagai cleaning service di universitas dian nuswantoro semarang digedung H sejak 3 tahun yang lalu, perkejaan yang tidak mudah dan membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, berkerja sebagai cleaning service yang ditekuni ibu aton dimulai pukul 05.30 wib sampai dengan pukul 13.30 wib. Seperti nama perkerjaannya tugas dari ibu aton ini adalah bersih-bersih digedung H untuk mengurangi adanya sampah yang berserakan debu yang setiap hari  masuk dalam gedung dan melakukan pembersihan lainnya. Selama berkeja menjadi cleaning service di universitas ibu aton tidak pernah mengalami hal negative yang terjadi dalam kinerjanya entah kesalahan dari diri sendiri maupun perlakuan dari mahasiswa dan dosen pengampu yang ada digedung tersebut.
Semua bersikap baik dengan beliau, alasan ibu aton berkerja sebagai cleaning service adalah ajak oleh tetangga dan tuntutan keluarga. “ sebelumnya saya dipabrik dan ternyata dipabrik ada pengurangan saya mengikuti ajakan tetangga saya untuk berkerja disini, dan juga karena tuntutan keluarga saya” ujar ibu aton.
Beliau mempunyai keluarga yang lengkap yaitu adanya suami dan 3 anaknya yang alhadmulillah bisa tercukupi dengan adanya perkerjaan ini. Anak pertama ibu aton adalah lulusan SMA, anak kedua menginjak di bangku sekolah SMK, dan yang terakhir dibangku SD. Itulah sedikit cerita tentang seorang ibu yang berkerja sebagai cleaning service.
Jika kita tahu hal yang benar dilakukan kenapa kita tidak melakukannya dengan rasa senang dan keikhlasan hati kita, apapun itu ibu aton mengajarkaan kita untuk selalu mempunyai semangat yang harus berkerja keras agar kita bisa mengahrgai apa itu namanya usaha.

Nama   : Rendhy Oktiansyah
Nim     : A15.2018.01067
     









Anak Usia Sekolah Menjual Koran di Lampu Merah
   Traffic light atau lampu lalu lintas di Indonesia tidak sebersih dan serapi di negara lain, seperti Singapura, Australia dan negara maju yang lain. Pedagang mainan, pedagang makanan, pengamen, pengemis, anak jalanan, dan penjual koran banyak kita dijumpai ketika sedang berhenti di lampu lalu lintas. Ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, pengendara kendaraan kemudian berhenti sebelum garis zebra cross. Pada saat itulah pedagang menjual dagangannya kepada para pengendara. Apabila pengendara tertarik, maka mereka selanjutnya melakukan transaksi jual beli. Lampu merah menjadi arena untuk transaksi jual beli seperti pasar.
   Menurut kamus besar bahasa Indonesia penjual adalah orang yang menawarkan barang dagangannya,sedangkan koran adalah lembaran kertas yang bertuliskan kabar berita. Dari pengertian ini penjual koran adalah orang yang menjual lembaran kertas yang bertuliskan kabar berita.
Sering kita jumpai bahwa penjual koran itu merupakan anak usia sekolah. Menurut UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun dan belum pernah nikah. Hal ini disesuaikan dengan kelompok usia sekolah anak yaitu Sekolah Dasar 7-12 tahun, Sekolah Menengah Pertama 13-15 tahun, Sekolah Menengah Atas 15-18 tahun.
   Anak usia sekolah seharusnya mendapat hak pendidikan hak dengan baik, tanpa harus melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan orang dewasa. Tapi pada kenyataannya masih banyak anak usia sekolah yang bekerja sebagai penjual koran di Kota Bandar Lampung, dan kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandng dan sebagainya. Anak usia sekolah berjualan koran terjadi karena ingin membantu perekonomian keluarga yang berpendapatan rendah,dan juga karena lingkungan sosial anak. Di samping itu, faktor lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang dimaksud adalah keadaan sosial yang ada di sekitar anak yang dilihat dari teman sepermainannya, seperti teman yang tidak sekolah dan sudah bekerja, teman yang masih sekolah dan tidak bekerja yang mengajak subjek untuk bekerja.
   Anak yang masih bersekolah mulai berjualan pada siang hari berkisar pukul 13.00 – 17.00 WIB. Sedangkan anak yang tidak bersekolah mulai berjualan pada pagi hari. Penjualan koran relatif banyak pada pagi hari dikarenakan pembeli koran lebih banyak membeli koran pada saat pagi hari. Anak sekolah yang berjualan tetap melakukan kewajibannya sebagai pelajar, yaitu belajar dan mengerjakan tugas. Waktu belajarnya pada saat malam hari berkisar pukul 19.00 – 20.00 WIB. Terkadang mereka belajar dengan didampingi oleh orang tua atau saudara mereka. Waktu belajar yang dilakukan antara 30 menit sampai kurang lebih 1 jam.
   Berdasarkan hasil penelitian dibeberapa lampu lalu lintas Kota Bandar Lampung, sebagian besar anak usia sekolah yang berjualan koran di lampu lalu lintas Kota Bandar Lampung, memiliki pendidikan pada tingkat Sekolah Dasar sebanyak 22 anak dan tingkat Sekolah Menengah Pertama sebanyak 18 anak. Anak usia sekolah pada tingkat Sekolah Menengah Pertama berjualan koran dikarenakan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk kepentingan pendidikannya dan juga untuk menambah uang saku.
   Anak mengambil koran dari agen banyak 10 buah koran sampai dengan 20 buah koran. Koran yang diambil terdapat dari penerbit koran yang berbeda, yaitu Radar Lampung dan Tribun Lampung. Pada setiap penjualan satu koran, anak mendapatkan untung sebesar Rp.1.000,00. dan pendapatan ini tidak menentu, karena sesuai dengan kemampuan kerjanya pada setiap hari.
   Pada umumnya anak berjualan tidak jauh dari tempat tinggal mereka, Sehingga waktu perjalanan yang digunakan juga tidak terbuang-buang. Biasanya mereka berjalan kaki sampai dengan tempat berjualan, sesampainya di lokasi penjualan, mereka menawarkan kepada pengendara motor, mobil ataupun truck. Merekapun kadang juga lupa untuk makan siang, dikarenakan untuk kejar setoran kepada bosnya, kadang juga mereka dimintai uang oleh para preman disaat mereka sedang berjualan koran ataupun waktu mau pulang. Kadang fenomena tersebut menyedihkan karena anak anak tersebut disuruh oleh orang tuanya karena faktor ekonomi, tapi kadang pas waktu pulang juga dirampas, dan lantas anak anak penjual koran tersebut sesampainya waktu pada setoran sering dimarahin, bahkan di pukulin gara gara tidak bisa bayar setoran uang koran tersebut.
   Jika kita melihat kondisi anak seperti ini memang sungguh memprihatinkan, Tetapi jika anak anak ini dilarang berjualan koran, maka akan berdampak pada putus sekolah. Karena mereka tidak mampu lagi untuk membiayai pendidikan dan juga untuk uang sakunya.

BERAWAL DARI MIMPI MIMPI KECIL

BERAWAL DARI MIMPI MIMPI KECIL


            FX.Anggarda Tri Adi Nugraha (24) seorang konduktor tepatnya di paduan suara SMA SEDES dan Universitas Unika. Berawal dari merintisnya di dunia musisi saat itu pada saat ia masuk pada Sekolah Menengah Pertama ia menjadi salah satu gitaris dari band Hardcore Scream Of Mordor. Hari demi hari ia lalui namun dunia berkehendak lain, band itu telah usai. Tapi ia ta patah semangat, pada saat ia masuk ke jenjang masa Sekolah Menengah Akhir ia banting stir di dunia musik dan sekarang merambah di dunia paduan suara.
            Dan berawal dari paduan suara ia berlatih terus menerus dan sesampainya memasuki bangku perkuliahan ia pun memilih memasuki Ekstrakulikuler Paduan Suara Di Universitas Unika, waktu demi waktupun ia lalui sesampainya itu perlombaan pun datang, berawal mula dan pertama kali ia harus berlomba di Vatican, Roma. Dan semua sudah terlalui ia dan teamnya mendapatkan juara dan memperoleh mendali.
            Dari pengalaman tersebut ia mejadi konduktor di suatu gereja yang bertempat di BSB SEMARANG, ia melatih anak – anak kecil disana dan memperkenalkan apa itu paduan suara oleh karna itu disaat negara Singapore membuat suatu festival pada tahun 2019 ini ia dan anak – anak dari SD Marsudirini Bsb itu mengikuti festival tersebut di Singapore perjalanan panjang ia sampai bisa seperti ini dan setelah festival itu usai mereka pun juga mendapatkan mendali dan tidak di pungkiri ia pun memperoleh mendali The Best Conductor pada festival tersebut.
            “Memang tidak mudah untuk merintis karir dengan cepat, karena harus ada mental yang kokoh dan semangat yang tinggi untuk mendapatkan mimpi mimpi yang di cita citakan” ujar FX.Anggarda pria berumur 24 tahun tersebut.
            Saat ini ia dan teamnya dari Universitas  Unika Semarang tersebut mengikuti Festival Coral Internacional 2019 di Barcelona dan Republik Ceko, dan di Barcelona pun telah mereka lalui dan mendapatkan mendali juara pertama. Dari situpun mereka juga harus tetap semangat dan selalu berlatih untuk menghadapi festival yang di ikuti di Republik Ceko. Ia selalu meminta doa restu orang orang dan meminta support lebih untuk mendaptkan hasil terbaik.

BRYAN ESTA SAMBORA A15.2018.01032

Festival sam poo kong perkenalkan budaya dari negeri matahari terbit

Sam poo kong festival menggelar acara tahunan 2019 yang ber tagline feel the japanese atmosphere, yang berlokasi di klenteng sam poo kong,acara berlangsung pada tanggal 18-20 oktober tersebut telah dihadiri oleh 10000 wisatawan yang berasal dari berbagai macam daerah di jawa tengah 

Antusias wisatawan datang tahun ini lebih banyak dari tahun sebelumnya bahkan ramai dikunjungi oleh anak-anak remaja dan mahasiswa.di sana mereka bisa mempunyai relasi dan menyambung tali silaturahmi serta melakukan kegiatan yang bermanfaat,dan bisa berbelanja ole- oleh yang berasal dari negeri sakura

 Acara yang di mulai pukul 09.00 pada tanggal 18 oktober 2019 ini di buka dengan sambutan oleh pengurus yayasan wisata klenteng sam poo kong semarang oleh beliau bpk candra selaku ketua yayasan,dan di lanjutkan serang kangkaian pembacaan informasi tentang wisata sam poo kong dan pentas seni yang akan di tampilkan

 Sam poo kong festival ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2017 lalu bernama samfest 1.0 dengan berbagai macam kegiatan seperti lomba menyanyi,lomba menggambar,peragaan costum tokoh anime,dan pentas seni barongsai dan juga meet & greet dengan guest star

Festival sam poo kong juga mendirikan stand-stand di setiap lokasi yang ada di wilayah sam poo kong seperti stand makanan jepang,stand jual beli aksesoris dan juga stand free sablon baju di samping itu kita juga bisa menikmati pemandangan bangunan unik yang ada di sana seperti patung cheng ho,pintu gerbang selatan,tempat pemujaan tho tee koong,kiyai djangkar dan masih banyak lagi

 sementara itu festival sam poo kong akan di meriah kan dengan berbagai acara dan berbagai guest star seperti Barongsai, Traditional Japanese Dance Show, Singing & Band Competition, Cosplay & Coswalk Competition, Band & Dance Performances, Lomba Mewarnai & Menggambar utk anak-anak, Meet n' Greet, VR Games Show, Workshop Sablon, Cosplay Make Up Tutorial, Free Sablon Kaos, Circle GO! (Circle Gathering Expo), Cosmaker Expo, Community Booth, Food & non Food Bazaar dan masih banyak lainnya. Guest Judge : Mayumi Reena, Ola Aphrodite, Gerard & Gilbert Guest Star : Luna Gravity, Dejikai, Blackpearl Crusader, Valiente, Kyouki Hikari, Wink'O, Kakuseiki, Tsukiiihime & Noyushimi

 Oleh Sekha bima wijaya NIM  A15.2018.01091




Indramayu heboh sungai berisi uang jutaan

Nama : Arinda Maesa Pujannah Nim : A15.2018.01268​ Indramyu Heboh Sungai Berisi Uang Jutaan Jumat, 18 januari 2019 di Desa Tanjungsari, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, heboh karena banyak uang disungai. Tak tanggung-tangguang uang yang di buangnya sebnayak Rp 4 juta. Ternyata, ada seorang wanita yang bernama Safiah yang membuang uang tersebut dalam sungai yang tadinya kotor dan kumuh jadi banyak warga yang menyemplung ke sungai tersebut untuk mengambil uang-uang, setelah ada tetangga yang melapor ke pak Uswan (suami Safiah) karena pak uswan ini orang nya ramah dan rukun kepada tetangga-tengganya dan setelah pak Usman bercerita penyebab safiah membuang uang kesungai karena sedang ada konflik rumah tangga antara pak Usman dan istrinya, dan kata pak usman memang istrinya kalau sedang ada konflik rumah tangga selalu membuang-buang barang yang ada disekitarnya tetapi sebelumnya hanya membuangnya di dalam rumah saja tidak sampai keluar rumah, karena itu tetangga tidak pernah mengetahui jika istri pak usman seperti itu. Setelah pak usman bercerita panjang lebar ke tentangganya ternyata, istrinya tersebut mempunyai gangguuan jiwa setelah pulang menjadi TKI. Menurut pak Agus (tetangganya tersebut) pak Usman dalam kesehariannya dikenal sebagai pengusaha ayam potong. Bisnis ayam potong Uswan tersebut sudah digeluti sekitar 10 tahun. Sebelumnya, Kapolres Indramayu AKBP M Yoris Marzuki mengatakan istri Usman, Safiah mengalami gangguan kejiwaan setelah menjadi TKI. Safiah membuang uang senilai Rp 4 juta milik suaminya dan uang tersebut sebenarnya untuk pak usman dibelanjakan ke pasar. Setalah warga mengetahui penyebab nya warga membantu pak usman untuk mencari nya uang tersebut ke sungai dan warga setempat berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp 1 juta dari total uang yang dibuang, yakni Rp 4 juta. Uang yang berhasil dikumpulkan warga itu, lalun dikembalikan ke Usman. Dan lebih menarik nya, ada beberapa warga menilai uang yang tiba-tiba dibuang ke sungai merupakan sebuah ritual gaib. Nyatanya, setelah ditelusuri uang yang dibuang Safiah milik suaminya. Hebohnya kabar Safiah membuang uang Rp 4 juta ke sungai Indramayu pertamakali dikabarkan akun Facebook bernama Yuni Rusmini. Uanggahan Yuni yang memperlihatkan video warga mengais uang yang dibuang Safiah mencapai 19 ribu viewers. Sungai yang mengalir di Desa Tanjungsari, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ramai didatangi warga sekitar pada, Jumat, 19 Januari 2019. Mereka beramai-ramai turun ke dalam sungai. Ini jadi pemandangan berbeda bagi warga. Sebab, sungai itu tak pernah menjadi perhatian lantaran airnya yang kotor dan berbau. Warga sedang memburu uang yang nilai totalnya mencapai Rp4 juta. Mereka rela masuk sungai dan pakaian jadi kotor. Kapolres Indramayu, AKBP M. Yoris M. Y. Marzuki, membenarkan hal itu. Pihaknya juga mendapat laporan mengenai sejumlah warga yang masuk ke sungai kotor. " Begitu mendapatkan informasi dari warga, petugas dari Polres Indramayu bersama Polesek Karangampel mendatangi lokasi kejadian, mengamankan situasi Kamtibmas," ujar Yoris, dikutip dari Pojoksatu. Ini Penyebabnya... Perburuan warga rupanya untuk membantu Usman, 40 tahun. Pria tersebut adalah pemilik uang Rp4 juta yang ternyata dibuang ke sungai oleh istrinya, Sarifah. Menurut Yoris, uang tersebut rencananya digunakan Usman untuk belanja di pasar. Usman meletakkan uang itu di dalam laci meja. Pada Jumat, 18 Januari 2019, Sarifah mengambil uang itu dan langsung membuangnya ke sungai. Sarifah sendiri diketahui mengalami gangguan kejiwaan usai menjadi TKW. Akhir Pencarian Kabar pembuangan uang tersebut segera menyebar. Sejumlah warga akhirnya turun ke sungai untuk membantu Usman dua hari kemudian. Uang yang berhasil ditemukan lalu dikumpulkan. Warga kemudian menyerahkan uang tersebut kepada Usman. " Hingga pukul 18.30 WIB, warga telah berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp1 juta dan langsung dikembalikan kepada Usman," kata dia. Sebelumnya, beredar video sejumlah warga masuk sungai mencari uang tersebut. Video tersebut diunggah oleh akun Facebook Yuni Rusmini. (ism, Sumber: Pojoksatu.id) Ini Penyebabnya... Perburuan warga rupanya untuk membantu Usman, 40 tahun. Pria tersebut adalah pemilik uang Rp4 juta yang ternyata dibuang ke sungai oleh istrinya, Sarifah. Menurut Yoris, uang tersebut rencananya digunakan Usman untuk belanja di pasar. Usman meletakkan uang itu di dalam laci meja. Pada Jumat, 18 Januari 2019, Sarifah mengambil uang itu dan langsung membuangnya ke sungai. Sarifah sendiri diketahui mengalami gangguan kejiwaan usai menjadi TKW Akhir Pencarian Kabar pembuangan uang tersebut segera menyebar. Sejumlah warga akhirnya turun ke sungai untuk membantu Usman dua hari kemudian. Uang yang berhasil ditemukan lalu dikumpulkan. Warga kemudian menyerahkan uang tersebut kepada Usman. " Hingga pukul 18.30 WIB, warga telah berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp1 juta dan langsung dikembalikan kepada Usman," kata dia. Sebelumnya, beredar video sejumlah warga masuk sungai mencari uang tersebut. Video tersebut diunggah oleh akun Facebook Yuni Rusmini.

AKSI DRIVER OJEK ONLINE YANG RELA MASUK KE SELOKAN DEMI MENYELAMATKAN KUCING

Nashih Sholachuddin
NIM A15.2018.01214

                AKSI DRIVER OJEK ONLINE YANG RELA MASUK KE SELOKAN DEMI
                                                          MENYELAMATKAN KUCING

        Baru-baru ini aksi ojek online mendapat perhatian oleh publik, karena aksinya
menyelamatkan anak kucing yang sangat heroik. Pada akhirnya aksi seorang driver ojek online
tersebut banjir pujian. Cerita tersebut dibagikan oleh seorang pengguna akun twitter bernama
@imamsarodjo.

        Imam membagikan postingan tersebut berisi foto driver ojek online membawa kardus
berisikan dua anak kucing setelah nyebur ke got. Imam menceritakan sang driver belepotan
bukan karena kecelakaan. Sebaliknya , bahwa dia rela turun langsung ke got yang kotor dan bau
demi menyelamatkan anak kucing yang mungkin ditelantarkan oleh pemiliknya, kejadian
tersebut terjadi di Lemahabang, Jawa Barat pada hari sabtu (13/4/2019).
Berawal ketika driver ojek online sedang jalan naik motor untung menunggu panggilan
penumpang. Namun, setelah berjalan beberapa kilo meter dari perjalanan driver tersebut
mendengar suara kucing, hal tersebut membuat driver ojek online mencari keberadaan kucing
tersebut, beberapa menit kemudian driver tersebut menemukan keberadaan kucing tersebut lalu
mencari wadah untuk menampung kucing. Driver tersebut rela turun ke got untung mengambil 2
kucing yang ternyata sudah kumuh keadaanya.

        Dalam kardus tersebut terlihat dua ekor anak kucing yang sudah lemat berlumuran air got
yang kotor. Namun, untungnya si driver ojek online sudah membawa kardus untuk menampung
kedua anak kucing tersebut. Meski ia hanya mampu menyelamatkan 2 dari 3 anak kucing saja,
namun tindakannya sudah memberi perubahan untuk si kucing dan orang-orang disekitat untuk
lebih peduli terhadap sesama makhluk hidup, pasalnya ada 3 anak kucing namun hanya 2 yang
berhasil ditemukan oleh si driver ojek online, ternyata salah satu dari kucing tersebut keadaan
matanya sudah tidak sehat. Alhasil driver tersebut akhirnya membawa pulang kedua anak kucing
yang ia temukan itu.

       “Harusnya ada 3 kucing tapi yang 1 gak ketemu. Salah satu kucingnya matanya ada yang
luka. Kata abangnya mau di bawa pulang kalau gak dikasih sama manusia yang mau adopsi”.
Tulis Iman.

         Tak ayal aksi driver ojol tersebut menuai perhatian para pengguna Twitter yang salut
akan tindakannya. Sontak cuitan Imam hingga kini telah memperoleh retweet sebanyak 73 ribu
kali dan disukai lebih dari 67 ribu orang.
Cerita yang dibagikan Imam juga mengundang berbagai komentar netizen.
Salah satunya akun @KinghotS yang meninggalkan komentar, “Rejeki mu pasti banyak
bang....binatang aja di perhatikan apalagi ke manusia... sukses bang”
Namun, tak disangka driver ojol yang awalnya tidak diketahui identitasnya itu justru
menampakkan diri di Twitter. Lantas dirinya memperkenalkan diri kepada warga Twitter.
Yaitu Mail Ismail yang menjelaskan bahwa dirinya belum lama bergabung menjadi driver ojek
online. Dalam cuitannya, Mail ingat persis ketika Ia menyelamatkan anak kucing yang terlantar
tersebut. Dirinya bahkan merekam aksinya saat turun ke got.
Setelah mengetahui postingan tersebut driver ojek online menambahkan kondisi dari
kedua kucing, driver ojek tersebut bercerita setelah kedua kucing tersebut dibawa pulang ia
membersihkam kucing dari air got lalu membawa kucing-kucing tersebut ke pet shop dan ditiip
kan, karena si driver ojek online tersebut sibuk jadi lebih milih di titipkan dari pada di bawa
pulang. Karena mungkin si driver tidak banyak waktu untuk merawat kucing-kucing yang ia
temukan.

           Kutipanyang di tulis oleh Mail Ismail “saya hanya ingin mengucapkan terimakasih atas
apresiasi dari warga twitter dan ingin warga twitter mendoakan agar kucing-kucing itu segera
sehat” dia juga mengungkapkan sebelumnya dia tidak mengetahui bahwa dirinya akan viral
seperti yang diberitakan. Yang terakhir dia ingin berpesan bahwa sesama makhluk hidup itu
harus saling tolong menolong, jika kucing tersebut tidak diselamatkan mungkin akan mati, toh
siapa lagi kalo bukan manusia yang membantu. Karena hewan-hewan di sekitar juga mempunyai
hak untuk hidup.

          Kesimpulanya bahwa kita sebagai makhluk hidup juga saling membantu dan juga
melestatikan kehidupan yang hidup berdampingan disekitar kita. Semoga jika kita saling
membantu kehidpuan akan diberikan kebaikan lebih oleh yang diatas.

Laki-laki tua mantan pembersih sungai



            Semarang - Pak Aziz (60), satu orang yang tidak banyak orang kenal ia adalah seorang warga Purwadinata Rt.02/ Rw.01 Semarang, Aziz bekerja sebagai pembersih sungai, ia membersihkan sampah yang ada di sungai dari sungai Tugu Muda sampai daerah Layur di Semarang, Aziz selama sepuluh tahun ia bekerja sendirian untuk membersihkan sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat Semarang, Pekerjaan itu dia lakukan dari tahun 2003 sampai 2013, pekerjaan ini terbilang menjijikan tapi ia menekuni pekerjaanya selama sepuluh tahun lamanya ia tetap senang dan tidak pernah mengeluh sedikitpun.

           Hanya bekal karung dan cangkul dia menyusuri sungai yang ada di kota Semarang ini dengan gaji limaratus ribu rupiah (Rp. 500.000)/ perbulan pada tahun itu. Walaupu terbilang dengan gaji yang sangat kecil, Sutikno melakukan denga senang hati, karena dia berprinsip yang penting pekerjaan ini halal dan dia senang kalau melihat sungai yang ada di Semarang bersih.

           Tetatpi Aziz sekarang sudah tidak lagi bekerja sebagai pembersih sampah di sungai Semarang karena faktor usia dan terlalu banyak menghirup udara dari sungai yang kotor itu tidak baik untuk kesehatanya terkadang Aziz merasa sesak nafas saat melakukan pembersihan karena bau sampah yang ia bersihkan, maka dari itu ia memilih untuk tidak lagi bekerja membersihkan Sungai di Semarang. Tetapi untuk  mencukupi kehidupan sehari-harinya sekarang ini ia melakukan pekerjaan lain secara serabutan dan juga di bantu istrinya.

              Saat ini Aziz bekerja sebagai kuli bangunan di tetangganya, ia digaji tidak bulanan tapi mingguan itupun penghasilanya tidak tetap kadang seminggu 200.000-300.000 walaupun dirasa kurang tapi Aziz tetap bersyukur dan itu dilakukan Sutikno sampai sekarang setelah tidak bekerja lagi sebagai pembersih sungai. Aziz memiliki 14 anak, dimana mereka sekarang yang tinggal di Purwadinata sebanyak 10 anak, sedangkan yang lain sudah berkeluarga sendiri. Dan 10 anak ini sekarang semua bersekolah, dia ingin anaknya sekolah semua biar tidak seperti dia nasibnya dan sekarang ini Aziz hanya tinggal di rumah berukuran 4 m2.

          Tak bisa di bayangkan bahwa rumah yang hanya berkuran 4 m2 dihuni oleh 12 orang dalam satu keluarga. Dengan luas seperti itu, memang dulunya rumah Aziz dibuat 3 lantai tapi karena terkena angin kencang hingga atapnya beterbangan dan sekarang rumah Sutikno hanya dibuat menjadi 2 lantai saja. Keluarga ini hanya membangun apa adanya saja dan perlengkapan yang ada juga seadanya saja. Tapi kalau urusan mandi dan buang hajat keluarga Aziz terpaksa harus menggunakan kamar mandi umum atau wc umum dan harus membayar setiap harinya hal itu juga agak memberatkan Aziz, tapi ia cuma pasrah karena tidak memiliki lahan untuk membuat kamar mandi.
         Istri Aziz yang bernama ibu Sri (51), ia juga bekerja serabutan seperti suaminya ia bekerja sebagai asisten rumah tangga yang pekerjaanya seperti mencuci pakaian, menyapu mengepel dll, hasil uang yang didapat sebagai asisten rumah tangga tidak seberapa, gaji perbulanya kisaran 500.000 itupun tidak pasti. Selain bekerja sebagai asisten rumah tangga Sri bekerja lagi di warung makan dekat rumahnya ia bekerja sebagai pelayan biasanya Sri  bekerja hingga malam hari, Sri juga menerima pekerjaan jasa apa saja yang terpenting halal dan dia mampu melakukanya. Walaupun keluarga ini hidup serba kekurangan tetapi Aziz dan Sri selalu bersyukur oleh apa yang dia miliki karena itu semua pemberian oleh Tuhan dan yang terpenting adalah halal.

         Aziz tidak berharap belas kasihan kepada orang lain ataupun tetangganya sendiri karena ia berprinsip selama dia masih bisa bekerja dan menghidupi anak-anaknya ia tidak akan meminta belas kasihan kepada orang lain, apalagi ia harus meminta-minta di pinggir jalan karena ia masih memiliki anggota tubuh yang masih ia gunakan untuk bekerja apapun pekerjaanya yang terpenting halal.

         Aziz hanya berharap kepada pemerintah agar ia dibantu untuk dibuatkan kamar mandi karena itu sangat penting baginya dan keluarganya ia merasa sedih ketika anak-anaknya harus mandi bergantian di kamar mandi umum atau wc umum dekat rumahnya. Dan itu harus membayar setiap ke kamar mandi hal itu akan mengganggu keuangan Aziz, yang uangnya harus ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari tapi harus digunakan untuk membayar sewa kamar mandi umum.

        Untuk listrik Aziz hanya memanfaatkan gardu tiang listrik dan sewaktu-waktu itu bisa membuat Aziz dimarahi oleh pihak PLN karena ia menyalahi aturan pemerintah, tapi Aziz hanya bisa pasrah karena kebutuhan yang membuatnya harus menyalahi aturan yang di tetapkan oleh PLN. Tetapi Aziz merasa beruntung karena ia masih mempunyai keluarga yang tidak pernah merasa mengeluh dengan kodisi keluarganya saat ini yang serba kekurangan.
        
NAMA : Dwiki Johan Ardianto
NIM      : A15.2018.01207

Wanita Asal Malang, Cerita Sekarsari Jadi Kuli Angkut Pasir Sungai


Wanita Asal Malang, Cerita Sekarsari Jadi Kuli Angkut Pasir Sungai




Malang – Sekarsari (38), warga Dusun Sedawun, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang adalah sesosok wanita yang kuat. Kuat dalam istilah yang sebenarnya. Sekarsari bekerja sebagai kuli angkut pasir yang membutuhkan stamina dan fisik yang kuat. Wajah berseri serta senyuman tampak pada Sekarsari, Selasa (9/8/2016).

Ketika bertemu tim detik.com, dia sedang mengangkut pasir hasil pertambangan ke atas mobil pikap. Sekarsari mengangkut pasir yang berasal dari Aliran Sungai Sambong yang memutari wilayah desanya. Sungai ini berada di sebelah selatan Bendungan Selorejo dan bermuara di lereng Gunung Kelud.

Sekarsari tidak mengerjakan tugas ini sendirian ia dibantu oleh anak pertamanya yang bernama Rajit yang berusia 12 tahun. Rajit putus sekolah, ia gagal lulus SD. Dan juga ditemani putri bungsunya yang bernama Aurelia yang masih menempuh pendidikan taman kanak-kanak. Menurut Sekarsari, Aurelia terkadang menghampirinya di lokasi dimana dirinya mengangkut pasir. Jarak tempat kerjanya dari rumahnya kurang lebih 1 kilometer.

Hasil yang diperoleh Sekarsari dari mengisir pasir satu pikap yaitu sebesar Rp 10 ribu. Hasilnya lumayan. Sehari dia bisa mengangkut pasir dalam 10 pikap. Hasilnya lumayan, katanya, bisa menambah pendapatan suami yang hanya bekerja sebagai buruh tani. “ Maksimal saya bisa sepuluh kali,” kata ibu dari tiga anak ini.

Sekarsari mengatakan aliran Sungai Sambong membawa berkah. Sekarsari sempat menjadi korban erupsi letusan Gunung Kelud. Abu vulkanik menghantam kediamannya sehingga ia harus mengungsi bersama masyarakat-masyarakat Dusun Sedawun. “Waktu itu meletus ya ikut ngungsi. Pagi-pagi suami pergi kerja, anak-anak ke sekolah, saya ke sini (lokasi tambang pasir), “ tuturnya.

Menurut Sekarsari, ini suatu perkerjaan yang menyenangkan. Oleh karena itu, secara tidak langsung mengurangi rasa lelahnya saat mengangkut pasir keatas pick up atau truck. “Waktu dulu buruh tani. Diberi kesempatan mengangkut, saya terima. Waktu pertama capek, tapi lama-lama udah biasa, “ ujarnya.

Ia sesosok wanit muda dengan wajah yang cantik, namun kesehariannya bekerja sebagai Kuli Angkut Pasir. Meski bekerja sebagai Kuli Angkut Pasir ia tidak malu dan tetap semangat dalam mencari upah untuk menghidupi keluarganya. Orang-orang memberinya pujian karena sikap kerja kerasnya dan tidak pernah putus asa.

Setiap harinya ia harus mengangkut pasir hasil penambangan ke 10 mobil pick up yang berada di lokasi tersebut. Memberi nafkah pada keluarga menjadi tanggung jawabnya. Sekarsari tidak masalah dengan pekerjaannya untuk pria, asalkan dia mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menafkahi keluarga dan melanjutkan sekolah anaknya. Sekarsari menggunakan jiwa wanitanya untuk membuat rekan-rekan kerjanya memberinya pekerjaan yang tidak begitu berat.

Sekarsari menjadi inspirasi bagi masyarakat-masyarakat Dusun Sedawun karena perannya sebagai seorang wanita yang begitu hebat. Meski ia seorang wanita, ia membuktikan bahwa pekerjaan seperti ini bukan semata-mata untuk seorang pria, apalagi jika anda memiliki sebuah impian untuk membuatnya menjadi motivasi.

Dalam kasus Sekarsari ini, salah satu impiannya adalah untuk melanjutkan pendidikan anaknya yang tertunda dan tentu untuk menghidupi keluarganya dengan hasil jerih payahnya. Hingga kapan Sekarsari bekerja sebagai pengangkut pasir, Sekarsari tidak dapat menerka. Menurutnya, semasih ada permintaan jasa mengangkut pasir ia akan tetap melakukan pekerjaan tersebut demi membantu kebutuhan keluarganya.
           
Muhammad Farhan Firmansyah
A15.2018.01330
Sumber: detik.com

HIRUK PIKUK AKTIVITAS PEMULUNG IBU KOTA


HIRUK PIKUK AKTIVITAS PEMULUNG IBU KOTA



Malam hari di sudut Ibu Kota, Slamet Prihatin (68) bersama istri tengah duduk santai bersama gerobaknya yang berisikan barang-barang bekas di depan gereja kecil Kampung Kali. Pria yang berprofesi sebagai pemulung ini setiap hari mengelilingi jalanan di Kota Semarang demi mencari sesuap nasi. Bekerja mulai pukul 5 pagi sampai pukul 8 malam yang selalu ditemani istrinya, Slamet juga menjelaskan rute yang di tempuh bersama istrinya mulai dari jalan gajah mada, jalan pemuda, jalan dr soetomo, simpang lima, tugu muda dan terakhir ke klenteng sam poo kong hingga kembali lagi ke depan gereja kecil Kampung Kali karena disitulah mereka tinggal dengan beralaskan kardus-kardus.

Sempat bapak mengenyam Pendidikan hingga STM dengan jurusan Teknik Mesin di Jakarta. Setelah lulus, merantaulah 1 tahun ke Kota Pekalongan bekerja sebagai bengkel mobil dan bekerja sebagai supir truk pasir. Bekerja sebagai nelayan ikan sampai negara Singapore, Brunei, Bangkok, Jepang dengan kontrak kerja 4 tahun dan mendapat gaji 400 juta juga pernah ia coba. “tadinya saya juga seorang supir bis di Comal, karena mata saya yang sebelah katarak bingung mau kerja apa karena saya sudah tua akhirnya jadi pemulung, yang penting buat makan dan halal sudah cukup bagi saya dan istri” - ucap bapak Slamet.

Pada tahun 1974 suami dari ibu Sri Hastuti memutuskan untuk merantau ke Semarang dan mulai bekerja sebagai pemulung menggunakan karung. Barang-barang bekas yang dicari mereka kumpulkan lalu dibawalah ke pengepul Kota Lama Semarang tepatnya di pasar johar. Pendapatan yang mereka hasilkan setiap harinya sekitar 25.000-30.000 per hari dan hanya cukup untuk 2 kali makan. Ibu dan Bapak merasa senang jika ada orang-orang yang memberikan mereka makanan di jalan sewaktu sedang mencari barang-barang bekas. Bapak juga menjelaskan pada tahun 1976 sewaktu lebaran, mereka diberi uang orang-orang sampai terkumpul 600 ribu dan langsung ia belikan gerobak seharga 300 ribu untuk barang-barang bekasnya. Lalu sisanya mereka tabung.

Istri dari bapak Slamet Prihatin ini asli orang Comal, mereka bercerita sering pulang ke rumah mertua dari Semarang ke Comal menggunakan gerobaknya. Perjalanan 4 hari 4 malam mereka tempuh,  biasanya ibu dan bapak menginap selama 10 hari karena mencari barang-barang bekas untuk dikumpulkan ke pengepul. Bapak Slamet juga bercerita bahwa sebenarnya ia mempunyai satu anak dari istri pertamanya yang sudah lama bercerai. Namanya Firmansyah, sekarang berusia 32 tahun yang bekerja sebagai Ketua Mekanik di Kota Bandung dan sudah mempunyai 2 anak. Jika firman bertanya kepada ibunya dimana bapak, pasti ibu akan menjawab “tidak tahu”, karena mereka tidak ingin melihat firman bersedih jika tau bapaknya seorang pemulung.

Ibu Hastuti (43) menjelaskan pernah operasi penyakit kista, dan jika ibu berjalan jauh perutnya akan terasa sakit dan terkena penyakit tipes. Akhirnya bapak menyuruh untuk duduk dan tidur di dalam gerobak dengan berat 3 kwintal tersebut. “kalau ibu sakit pasti saya pinjam uang ke bos pengepul 50 ribu untuk berobat, karena bpjs nya cuma berlaku di Comal” – ujar bapak.

Pada saat itu, pernah mereka bangun kesiangan akhirnya diusir oleh orang-orang. Tetapi tidak menjadi masalah bagi ibu dan bapak untuk semangat bekerja. Untuk masalah mandi dan mencuci pakaian ibu dan bapak selalu mandi di wc umum dengan membayar 2 ribu, dan mencuci pakaian selalu mereka cuci di kali. Bapak juga bercerita, mereka pernah di palak oleh preman-preman, hebatnya bapak melawan karena saat itu mereka belum mengumpulkan barang-barang bekas menjadikan mereka belum mempunyai uang.

Prinsip hidup bapak dan ibu sangat menjadikan hati saya terenyuh, “jika ada orang lain yang mengejek saya, saya cuma diam, saya biarkan. Yang penting saya nggak minta-minta sama dia, tetapi saya cari sendiri. Dan saya tidak menggambil barang-barang orang, tetapi saya menggambil barang-barang yang mereka buang lalu saya ambil, kalau tidak dibuang ya saya tidak akan ambil” -ucap bapak umur 68 tahun.

Pada akhir perbincangan, bapak Slamet mengaku bahagia menjadi pemulung, walaupun untuk makan saja kurang, tetapi mereka tidak mempunyai niatan untuk berbuat jahat di kerasnya Ibu Kota Jawa Tengah ini. Jika sedang mencari barang-barang bekas dan bertemu pak polisi, kadang membantu bapak dan ibu untuk mendorong gerobaknya, dan ia menuturkan bahwa kalian lebih berharga daripada maling. “kita semua di mata Allah sama, cuma lainnya dari harta” -ujar bapak Slamet Prihatin.

Nama : Devara Berlianti
NIM    : A15.2018.01102