Thursday, October 31, 2019

Wanita Asal Malang, Cerita Sekarsari Jadi Kuli Angkut Pasir Sungai


Wanita Asal Malang, Cerita Sekarsari Jadi Kuli Angkut Pasir Sungai




Malang – Sekarsari (38), warga Dusun Sedawun, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang adalah sesosok wanita yang kuat. Kuat dalam istilah yang sebenarnya. Sekarsari bekerja sebagai kuli angkut pasir yang membutuhkan stamina dan fisik yang kuat. Wajah berseri serta senyuman tampak pada Sekarsari, Selasa (9/8/2016).

Ketika bertemu tim detik.com, dia sedang mengangkut pasir hasil pertambangan ke atas mobil pikap. Sekarsari mengangkut pasir yang berasal dari Aliran Sungai Sambong yang memutari wilayah desanya. Sungai ini berada di sebelah selatan Bendungan Selorejo dan bermuara di lereng Gunung Kelud.

Sekarsari tidak mengerjakan tugas ini sendirian ia dibantu oleh anak pertamanya yang bernama Rajit yang berusia 12 tahun. Rajit putus sekolah, ia gagal lulus SD. Dan juga ditemani putri bungsunya yang bernama Aurelia yang masih menempuh pendidikan taman kanak-kanak. Menurut Sekarsari, Aurelia terkadang menghampirinya di lokasi dimana dirinya mengangkut pasir. Jarak tempat kerjanya dari rumahnya kurang lebih 1 kilometer.

Hasil yang diperoleh Sekarsari dari mengisir pasir satu pikap yaitu sebesar Rp 10 ribu. Hasilnya lumayan. Sehari dia bisa mengangkut pasir dalam 10 pikap. Hasilnya lumayan, katanya, bisa menambah pendapatan suami yang hanya bekerja sebagai buruh tani. “ Maksimal saya bisa sepuluh kali,” kata ibu dari tiga anak ini.

Sekarsari mengatakan aliran Sungai Sambong membawa berkah. Sekarsari sempat menjadi korban erupsi letusan Gunung Kelud. Abu vulkanik menghantam kediamannya sehingga ia harus mengungsi bersama masyarakat-masyarakat Dusun Sedawun. “Waktu itu meletus ya ikut ngungsi. Pagi-pagi suami pergi kerja, anak-anak ke sekolah, saya ke sini (lokasi tambang pasir), “ tuturnya.

Menurut Sekarsari, ini suatu perkerjaan yang menyenangkan. Oleh karena itu, secara tidak langsung mengurangi rasa lelahnya saat mengangkut pasir keatas pick up atau truck. “Waktu dulu buruh tani. Diberi kesempatan mengangkut, saya terima. Waktu pertama capek, tapi lama-lama udah biasa, “ ujarnya.

Ia sesosok wanit muda dengan wajah yang cantik, namun kesehariannya bekerja sebagai Kuli Angkut Pasir. Meski bekerja sebagai Kuli Angkut Pasir ia tidak malu dan tetap semangat dalam mencari upah untuk menghidupi keluarganya. Orang-orang memberinya pujian karena sikap kerja kerasnya dan tidak pernah putus asa.

Setiap harinya ia harus mengangkut pasir hasil penambangan ke 10 mobil pick up yang berada di lokasi tersebut. Memberi nafkah pada keluarga menjadi tanggung jawabnya. Sekarsari tidak masalah dengan pekerjaannya untuk pria, asalkan dia mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menafkahi keluarga dan melanjutkan sekolah anaknya. Sekarsari menggunakan jiwa wanitanya untuk membuat rekan-rekan kerjanya memberinya pekerjaan yang tidak begitu berat.

Sekarsari menjadi inspirasi bagi masyarakat-masyarakat Dusun Sedawun karena perannya sebagai seorang wanita yang begitu hebat. Meski ia seorang wanita, ia membuktikan bahwa pekerjaan seperti ini bukan semata-mata untuk seorang pria, apalagi jika anda memiliki sebuah impian untuk membuatnya menjadi motivasi.

Dalam kasus Sekarsari ini, salah satu impiannya adalah untuk melanjutkan pendidikan anaknya yang tertunda dan tentu untuk menghidupi keluarganya dengan hasil jerih payahnya. Hingga kapan Sekarsari bekerja sebagai pengangkut pasir, Sekarsari tidak dapat menerka. Menurutnya, semasih ada permintaan jasa mengangkut pasir ia akan tetap melakukan pekerjaan tersebut demi membantu kebutuhan keluarganya.
           
Muhammad Farhan Firmansyah
A15.2018.01330
Sumber: detik.com

No comments:

Post a Comment