USANG NAMUN MEMBARA
Pagi itu dikala
semua orang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing, tak terkecuali Bu
Dwi yang telah membuka toko miliknya. Ya, beginilah aktivitas sehari-hari
seorang ibu berusia 48 tahun tersebut. Mengelola toko kelontong yang telah ia
dirikan sejak tahun 2013, ibu beranak dua ini hampir semua waktunya ia curahkan
untuk usahanya.
Sejak
ditinggal oleh suaminya pada tahun 2012 karena terkena penyakit kanker, kini
Ibu Dwi mau tidak mau menjadi tulang punggung keluarga. Selain harus mengurus
tokonya, beliau juga menyempatkan waktu untuk bersama anaknya. Bukan hal yang
mudah menjadi single parent. Bahkan, beliau harus memikirkan biaya kuliah putranya.
Namun,
itu semua tak begitu menjadi beban Ibu Dwi. Baginya bisa mengurus dan melihat
kedua anaknya berhasil adalah kebahagiaan bagi beliau. Putrinya sekarang
bekerja di Jakarta. Setidaknya, hal ini dapat meringankan beban biaya kuliah
anak kedua yang ditanggung beliau.
Butuh
modal yang tidak sedikit dalam menjalankan usaha toko kelontong. Terkadang Ibu
Dwi harus pintar-pintar memutar uang agar semua kebutuhannya
terpenuhi. Dari kepenuhan pribadi sampai perputaran modal semua beliau kelola.
Betapa sosok yang enggan untuk bermalas-malasan. Hal ini beliau terapkan kepada
anak-anaknya. Ibu setengah baya ini selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa
siapa yang suka bermalas-malasan akan tidak mendapat rejeki di kemudian waktu.
Ketika
stok barang habis, Ibu Dwi harus membelinya di pasar. Kadang waktu istirahat ia
pergunakan untuk membeli persediaan barang di pasar. Ya, dikarenakan putranya
sibuk kuliah hal ini yang membuat Ibu Dwi harus pontang-panting ke pasar untuk
memenuhi stok barang di toko. Memang ada sales yang datang ke toko, namun tidak
semua barang memiliki sales. Ada sebagian merk rokok, snack, maupun minuman
serbuk yang harus beliau beli di pasar.
Toko
kelontong milik Ibu Dwi ini dibuka tepat di garasi rumahnya. Dulunya garasi
tersebut merupakan tempat untuk menyimpan mobil milik mendiang suami Ibu Dwi.
Namun, beberapa bulan setelah almarhum meninggal Ibu Dwi memutuskan untuk
menjual mobil tersebut dan uangnya dijadikan modal usaha toko kelontong ini.
Setiap
hari toko ini buka dari jam delapan pagi sampai jam 12 siang. Setelah itu, jam
istirahat sampai jam setengah empat sore. Disinalah Ibu Dwi memanfaatkan
waktunya dengan menyetok barang maupun sekedar mengistirahatkan badan ataupun
juga memasak. Kemudian jam empat sore toko kembali dibuka sampai menjelang
maghrib. Ya, aktivitas tiada henti ketika hari silih berganti. Namun, beliau
tidak ada bosannya menjalani ini semua. Seakan ini semua ia lakukan demi
mencari nafkah untuk keluarganya.
Dalam
melayani para pembeli di tokonya, ibu Dwi sangatlah ramah. Beliau percaya bahwa
semakin ramah seseorang akan memberikan banyak kebaikan. Dan ia yakin bahwa
keramahannya akan membuat siapa saja yang datang ke tokonya akan merasa senang.
Banyak kalangan yang datang ke toko milik Ibu Dwi. Mulai dari kalangan menengah
sampai atas. Dan Ibu Dwi tidak pernah menilai dari kalangan mana pembelinya
datang. Yang pasti mereka merasa senang dan puas atas harga maupun keramahan
yang beliau berikan.
Walaupun
senang dan duka mengahmpiri Ibu Dwi dalam menjalani usahanya, Beliau percaya
bahwa duka yang ia alaminya bahwa suatu saat Allah SWT telah menyiapkan sesuatu
yang menyenangkan. Hal yang menyenangkan tersebut tidaklah harus besar, namun
hal sekecil apapun itu asal bisa membuat hati senang bagi beliau adalah suatu
nikmat tersendiri. Bertemu dengan putrinya dirumah merupakan suatu kegembiraan
bagi Ibu Dwi dan keluarga. Bisa becanda bersama dan meluangkan waktu bersama
keluarga di hari libur merupakan hiburan tersendiri baginya.
Sempat bingung di benak Ibu Dwi kala
ditinggal oleh suaminya. Putrinya yang masih di bangku kuliah dan putranya di
bangku SMP. Hal ini yang terkadang membuat beliau pusing lantaran harus
memikirkan biaya pendidikan kedua anaknya, Namun, seiring berjalannya waktu,
seakan ia mendapat jalannya sendiri. Bagai misteri yang terpecahkan, kini Ibu
Dwi hanya perlu memikirkan biaya kuliah putranya. Walaupun sudah ditanggung
oleh putrinya, namun Ibu Dwi tidak mau menaruh harapan kepada putrinya tersebut
karena beliau merasa kasihan. Jadi, dengan tekad bulat, Ibu Dwi membantu
sedikit biaya kuliah putranya.
Usaha yang beliau jalani kini sudah
genap berusia 4 tahun. Tentunya banyak rintangan yang ia hadapi. Untung maupun
rugi sudah menjadi teman bagi Ibu Dwi. Dan beliau tidak begitu mempermasalahkan
hal tersebut. Selain untuk mencari nafkah, usaha ini tercetus dari ide beliau
sendiri lantaran ingin mengisi kegiatan dirumah. Berdasarkan latar belakang
sebagai ibu rumah tangga, Ibu Dwi memberanikan diri untuk membuka usaha ini.
Dari modal awal yang beliau gunakan untuk membeli estalase, lemari, maupun
barang dagangan yang pada akhirnya Bulan Mei 2013 Ibu Dwi membuka usaha ini.
Masih teringat di benaknya kala itu di hari pertama pembukaan tokonya sama
sekali tidak ada pembeli yang masuk. Barulah di hari berikutnya ada seorang
pembeli dalam satu hari jualan. Itu saja sudah membuat senang dan optimis
usahanya akan dikenal.
Memang pada akhirnya Ibu Dwi hanyalah
seorang manusia biasa. Namun ijinkanlah kita untuk melihatnya lebih jauh ke
dalam tiap usahanya. Beliau banyak mencurahkan tenaga, keringat, bahkan emosi
yang dia luapkan untuk menjalani hidupnya sebagai single parent. Apresiasi?
Sangat pantas jika kita berikan kepada Ibu Dwi, sang Kartini dalam
perjuangannya. Yakinilah, bahwa setiap usahamu pasti tidak akan ada yang
sia-sia.

No comments:
Post a Comment