Laki-laki tua mantan pembersih sungai
Semarang
- Pak Aziz (60), satu orang yang tidak banyak orang kenal ia adalah seorang
warga Purwadinata Rt.02/ Rw.01 Semarang, Aziz bekerja sebagai pembersih sungai,
ia membersihkan sampah yang ada di sungai dari sungai Tugu Muda sampai daerah
Layur di Semarang, Aziz selama sepuluh tahun ia bekerja sendirian untuk
membersihkan sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat Semarang, Pekerjaan itu
dia lakukan dari tahun 2003 sampai 2013, pekerjaan ini terbilang menjijikan
tapi ia menekuni pekerjaanya selama sepuluh tahun lamanya ia tetap senang dan
tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Hanya
bekal karung dan cangkul dia menyusuri sungai yang ada di kota Semarang ini
dengan gaji limaratus ribu rupiah (Rp. 500.000)/ perbulan pada tahun itu.
Walaupu terbilang dengan gaji yang sangat kecil, Sutikno melakukan denga senang
hati, karena dia berprinsip yang penting pekerjaan ini halal dan dia senang
kalau melihat sungai yang ada di Semarang bersih.
Tetatpi Aziz sekarang sudah tidak lagi bekerja sebagai pembersih sampah
di sungai Semarang karena faktor usia dan terlalu banyak menghirup udara dari
sungai yang kotor itu tidak baik untuk kesehatanya terkadang Aziz merasa sesak
nafas saat melakukan pembersihan karena bau sampah yang ia bersihkan, maka dari
itu ia memilih untuk tidak lagi bekerja membersihkan Sungai di Semarang. Tetapi
untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya
sekarang ini ia melakukan pekerjaan lain secara serabutan dan juga di bantu
istrinya.
Saat
ini Aziz bekerja sebagai kuli bangunan di tetangganya, ia digaji tidak bulanan
tapi mingguan itupun penghasilanya tidak tetap kadang seminggu 200.000-300.000
walaupun dirasa kurang tapi Aziz tetap bersyukur dan itu dilakukan Sutikno sampai
sekarang setelah tidak bekerja lagi sebagai pembersih sungai. Aziz memiliki 14
anak, dimana mereka sekarang yang tinggal di Purwadinata sebanyak 10 anak,
sedangkan yang lain sudah berkeluarga sendiri. Dan 10 anak ini sekarang semua
bersekolah, dia ingin anaknya sekolah semua biar tidak seperti dia nasibnya dan
sekarang ini Aziz hanya tinggal di rumah berukuran 4 m2.
Tak
bisa di bayangkan bahwa rumah yang hanya berkuran 4 m2 dihuni oleh 12 orang
dalam satu keluarga. Dengan luas seperti itu, memang dulunya rumah Aziz dibuat
3 lantai tapi karena terkena angin kencang hingga atapnya beterbangan dan
sekarang rumah Sutikno hanya dibuat menjadi 2 lantai saja. Keluarga ini hanya
membangun apa adanya saja dan perlengkapan yang ada juga seadanya saja. Tapi
kalau urusan mandi dan buang hajat keluarga Aziz terpaksa harus menggunakan
kamar mandi umum atau wc umum dan harus membayar setiap harinya hal itu juga
agak memberatkan Aziz, tapi ia cuma pasrah karena tidak memiliki lahan untuk
membuat kamar mandi.
Istri
Aziz yang bernama ibu Sri (51), ia juga bekerja serabutan seperti suaminya ia
bekerja sebagai asisten rumah tangga yang pekerjaanya seperti mencuci pakaian,
menyapu mengepel dll, hasil uang yang didapat sebagai asisten rumah tangga
tidak seberapa, gaji perbulanya kisaran 500.000 itupun tidak pasti. Selain
bekerja sebagai asisten rumah tangga Sri bekerja lagi di warung makan dekat
rumahnya ia bekerja sebagai pelayan biasanya Sri bekerja hingga malam hari, Sri juga menerima
pekerjaan jasa apa saja yang terpenting halal dan dia mampu melakukanya.
Walaupun keluarga ini hidup serba kekurangan tetapi Aziz dan Sri selalu
bersyukur oleh apa yang dia miliki karena itu semua pemberian oleh Tuhan dan
yang terpenting adalah halal.
Aziz
tidak berharap belas kasihan kepada orang lain ataupun tetangganya sendiri
karena ia berprinsip selama dia masih bisa bekerja dan menghidupi anak-anaknya
ia tidak akan meminta belas kasihan kepada orang lain, apalagi ia harus
meminta-minta di pinggir jalan karena ia masih memiliki anggota tubuh yang
masih ia gunakan untuk bekerja apapun pekerjaanya yang terpenting halal.
Aziz
hanya berharap kepada pemerintah agar ia dibantu untuk dibuatkan kamar mandi
karena itu sangat penting baginya dan keluarganya ia merasa sedih ketika
anak-anaknya harus mandi bergantian di kamar mandi umum atau wc umum dekat rumahnya.
Dan itu harus membayar setiap ke kamar mandi hal itu akan mengganggu keuangan
Aziz, yang uangnya harus ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari tapi harus
digunakan untuk membayar sewa kamar mandi umum.
Untuk
listrik Aziz hanya memanfaatkan gardu tiang listrik dan sewaktu-waktu itu bisa
membuat Aziz dimarahi oleh pihak PLN karena ia menyalahi aturan pemerintah,
tapi Aziz hanya bisa pasrah karena kebutuhan yang membuatnya harus menyalahi
aturan yang di tetapkan oleh PLN. Tetapi Aziz merasa beruntung karena ia masih
mempunyai keluarga yang tidak pernah merasa mengeluh dengan kodisi keluarganya
saat ini yang serba kekurangan.
NAMA : Dwiki Johan Ardianto
NIM : A15.2018.01207

No comments:
Post a Comment