Monday, November 4, 2019

DARI HOBI MENJADI BISNIS




Model dalam berbusana terus mengalami perubahan. Pola recycling mulai dikembangkan pula dalam dunia fashion. Begitu pula yang dilakukan oleh Ade Nurma, atau yang lebih akrab disapa Ads, yang membuka usaha bisnis online thrift store. Usaha ini dilatarbelakangi dari kegemarannya dalam membeli pakaian bekas.

Mahasiswi Universitas Lampung ini bercerita, awal mula ia thrifting bersama temannya pada tahun lalu. Mereka berencana untuk mendirikan thrift store bersama-sama, tetapi temannya tersebut terlalu lama berpikir untuk mendirikan sebuah usaha.

Meski begitu, gadis berumur 21 tahun ini mengaku senang mendirikan thrift store-nya sendiri yang berbasis di Instagram, @localthriftstores. Dari situ ia belajar, bahwa mengenakan pakaian recycled dapat membantu menjaga lingkungan. “Dengan buka bisnis thrift store, permintaan akan pakaian baru menjadi tidak terlalu tinggi lagi. Pabrik juga bakal ngurangin produksinya karena permintaanya berkurang,” terangnya.

“Walaupun ini berefek negatif ke ekonomi negeri, tapi bandingin aja dari keadaan bumi kita sekarang. Mana, sih, yang lebih gawat? Setidaknya, ini yang bisa aku lakukan untuk menjaga lingkunganku.”

Sebelum menjual produknya, perempuan berbehel ini mengatakan bahwa ia telah melakukan riset pasar. “Selain thrifting di pasar, aku juga pernah belanja di online thrift stores. Dan aku baru sadar kalau itu mahal semenjak aku tau ada tempat thrifting yang ada di kotaku. Dari situ aku berniat, andai aku buka online thrift store, aku nggak bakal jual semahal yang pernah aku dapat dulu,” kenangnya.

“Lalu aku riset harga barang di pasar, riset biaya laundry, biaya packaging, biaya transportasi, dan biaya lelahku menghabiskan waktu untuk mencari barang di pasar. Alhamdulillah, sampai sekarang aku belum menjual barang di atas Rp. 100.000.”

Saat ditanya modal yang diperoleh untuk memulai bisnisnya, Ads mengatakan bahwa modal yang ia gunakan berasal dari tabungannya. "Modal yang aku gunakan untuk bisnis thrift ini berasal dari tabunganku sendiri. Orang tua hanya menyediakan listrik dan air untuk aku laundry. Biasanya sebelum aku laundry, aku rendam dulu pakai air panas agar bakteri dan kuman yang menempel mati.”

Ads memang berpakaian unik daripada orang lain, karena ia gemar memadupadakan pakaian-pakaian hasil thrift-nya. "Suka aja, sih, pakai pakaian kaya gini. Vintage. Nggak ada yang nyamain," ujarnya. "Kalau di thrift shopping, barang yang kita dapetin itu jarang ditemukan orang lain karena super limited.”

Ads juga memiliki tips tersendiri dalam thrift shopping. “Kuncinya teliti dan sabar. Aku menghabiskan waktu dua jam untuk memilih barang yang bagus. Aku selalu masuk ke dalam toko dan memilih barang satu-satu, karena biasanya barang-barang bagus itu terselip. Alhasil nggak kelihatan sama orang yang cuma lihat dari luar saja. Kemudian baru dicek, deh, kondisinya gimana.”

Ads tidak mengambil semua barang yang bagus, karena prinsipnya, barang yang dijual harus yang ia inginkan dan berpotensial untuk pasar. Namun, Ads mengaku sering kalap saat berbelanja, sehingga dia bingung untuk memadupadakan pakaian tersebut. “Aku selalu usaha agar barang yang aku ambil akan dipakai terus sama costumer-ku.”

Namun, usaha milik Ads ini memiliki poin plus tersendiri. Ia menggunakan Polybag sebagai pembungkus untuk produk-produknya. “Our recent packaging is using Avani Eco’s Polybag! Alias polybag berbahan dasar pati singkong. Bungkusnya bisa jadi kompos karena terbuat dari bahan-bahan organik dan bisa hancur ketika ditimbun di dalam tanah,” ujarnya menjelaskan kelebihan polybag.

Perjuangan Ads dalam menjalani bisnisnya membuahkan hasil yang memuaskan. Ia dapat melunasi ponselnya dengan menggunakan uang hasil jualan dan pergi tanpa meminta uang orang tuanya. Uang dari bisnisnya juga ia gunakan untuk membayar wifi keluarga di rumah. Selain itu, Ads mengaku bangga telah berperan sebagai eco-hero. “Bangga banget sama diri sendiri. Walaupun sederhana, tapi nyatanya belum banyak yang melakukannya,” ucapnya terharu.

Recycled clothes and compostable packaging? Perfect matchhh!”


Kania Intan Rahadiani
A15.2018.01273
Ujian Praktik Creative Writing

No comments:

Post a Comment