Friday, November 8, 2019

INDAH PUSPITASARI A15.2018.01255 BERBAGAIKREATIFITAS MUNCUL TETAPI MASIH BERMASALAH


Nama   : Indah Puspitasari
NIM    :  A15.2018.01255
Kelp.   A15.9310

BERBAGAI KREATIFITAS MUNCUL TETAPI MASIH BERMASALAH
Aktifitas manuasi tiap harinya tidak lepas dari keberadaan tanpa sampah. Baik itu sampah organik maupun non organik. Indonesia akhir-akhir ini diresahkan dengan masalah sampah, terutama berbahan non organik yaitu plastik. Universitas Dian Nuswantoro menjadi salah satu universitas yang ada di Semarang telah menerapkan kepedulian sampah plastik. Universitas tersebut telah mengajak para mahasiswa/i untuk menanamkan rasa kepedulian lingkungan. Dengan cara mengumpulkan sampah plastik. Sampah –sampah plastik tersebut akhirnya dijadikan aspal. Pada dasarnya aspal berbahan campuran plastik menjadikan upaya untuk mengaktifkan dan memberdayakan bank sampah yang ada. Dan menjadikan nilai guna terhadap permasalah yang timbul. Semua plastik yang telah dikumpulkan nantinya dicacah kecil untuk jadi campuran bahan pembuat aspal. Nantinya partikel sampah tersebut akan diproses pembetulan jalan. Hal ini sudah menjadi salah satu langkah mengurangi sampah plastik dengan baik. Dengan mendapatkan ide-ide yang dapat menjadi nilai ekonomis.
Selain dijadikan pembuatan bahan aspal, ada masyarakat Kudus yang menjadikan sampah plastik menjadi paving block. Limbah plastik tersebut dijadikan material untuk sasaran utama pembuatan. Sebab keberadaan yang dianggap menggangu. Proses pembuatan ini memerlukan banyak sampah. System mendapatkan dengan membuka bank sampah. Dengan berbagai pihak yang membantu.  Untuk membuat satu biji paving block saja memerlukan sekitar satu kg sampah plastik. Paving block yang dibuat ini telah di uji atas kekuatan bahan, hasil yang diberikan tahan lama di badingkan dengan paving block biasa. Selain kekuatan umur, harga yang diberikan cukup murah yaitu Rp. 70.000 hingga Rp. 125.000. Cukup relatif murah pastinya. Dengan harga yang di berikan itupun tergantung ketebalan yang diinginkan.
 Bahan yang bersifat tidak mudah patah ini terciptanya berawal dari sekedar coba-coba. Ini bisa dikatakan kreativitas merupakan kemampuan menciptakan ide yang baru. Kreatif itu timbul dengan adanya melihat permasalahan yang ada. Meraka mencoba mencari dan memecahkan permasalahan dengan berbagai cara. Kreatifitas memiliki keberagaman tergantung kita peka terhadap permasalahan yang muncul. Ada juga masyarakat yang membuat kreatifitas dengan cara membuat kerajian. Sampah botol plastik misalnya yang diolah menjadi tas, dompet, wadah asesoris, tirai, bahkan bisa menjadi rak buku wah kalau gini gak usah meli meja yaa.
Dengan muncul berbagai kreatifitasan disetiap daerah-daerah permasalahan sampah belum bisa diartikan selesai atau dikatakan aman. Untuk mengatasi hal tersebut masyarakat didorong untuk ikut serta dalam aksi global mengatasi sampah plastik. Walaupun berbagai upaya pikah dari pemerintah bahkan kementrian lingkungan telah mencari solusi penangan ini. Pada dasarnya aksi ini dilakukan agar masyarakat kita bisa mengurangi penggunaan plastik. Sadar akan membedakan jenis kemudian dimanfaatkan dengan kreatifitas maupun proses daur ulang.
Mayarakat Indonesia harus mengetahui bagaimana mengelola lingkungan, khususnya di darat. Mengapa masyarakat harus sadar akan kehidupan lingkungan di darat. Keberadaan mencangkup kondisi fisik dengan sumber daya alam berupa tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan. Penanganan secara menyeluruh diperlukan agar jumlah sampah dapat ditekan.  Tak beres dikelola di darat, banyak sampah plastik yang pada akhirnya lari ke lautan. Bisa kita lihat penduduk yang ada di Indonesia. Pada saat ini jumlah keberadaan kurang lebih mencapai 267 juta jiwa, yang pada setiap harinya mengeluarkan sediktnya satu jenis sampah plastik perorang. Bisa kita bayangkan berapa banyak sampah yang tertumpuk perhari. Sampah sendiri merupakan bagian dari sisa akhir proses atau bisa kita sebut barang buangan yang sudah tak diinginkan karena tidak punya harga dan nilai.
Ibu Susi Padjiastuti dari Menteri kelautan dan perikanan menyatakan Indonesia menduduki peringkat ke dua di dunia mengenai sampah plastik yang berakhir ke laut. Wakil Presiden jusuf Kalla menghadiri acara Sidang Umum Ke-74. Pertemuan Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terjadi di New York, Amerika Serikat, pada Senin (23/9/2019). Acara ini membahas mengenai persoalan sampah yang tidak bisa selesai di berbagai Negara. Dalam pertemuan kali ini Wakil Presiden Jusuf Kalla mempunyai satu dari tiga yang isu di prioritaskan dalam strategi kelautan global. Jusuf Kalla tidak sendiri, ia didampingi oleh Ibu Susi Padjiastuti dari Menteri kelautan dan perikanan. Sebagai langkah yang lebih baik dan maju untuk kedepanya, dari Indonesia ingin menekankan tiga prioritas dalam sidang umun tersebut.
Pertama, mendorong aksi global dalam mengatasi sampah plastik laut. Data yang diambil dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistic (BPS),  sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton pertahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Hal ini di jadikan prioritas oleh Jusuf Kalla yang terjadi dan ini perlu penanganan yang tepat. Keberadaan sampah plastik yang tersebar di laut Indonesia naik mencapai titik 20% di tahun 2019. Dari target yang ditetapkan untuk masalah pengurangan sebesar 75% pada tahun 2025. Prioritas kedua, Pemerintah Indonesia akan menjamin terkait pengelolaan perikanan. Pokok dalam berkelanjutan ini akan melalui pengurangan kejahatan laut. Pemerintah Indonesia akan bekerja sama dengan negara kawasan- kawasan Indonesia dalam memerangi pencarian ikan secara ilegal. Ketiga, Pemerintah Indonesia harus mengutamakan pembahasan mengenai pengelolaan isu laut dalam bernegosiasi perubahan iklim, termasuk dalam Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB (UNFCCC). Dari tiga prioritas yang di sampaikan jusuf kalla dalam sidang PBB dapat menjadi langkah baik dalam memperbaiki kehidupan di laut.
Bahaya sampah plastik yang terbawa hingga ke laut.  Masyarakat harus mengerti sifat yang dimiliki plastik. Dapat kita lihat ia memiliki bahan tidak mudah pecah, ringan, tidak tembus air, tembus pandang, tekstur lentur. Plastik yang kita gunakan ternyata memiliki dampak bahaya berupa ancaman besar bagi kehidupan. Maksudnya ketika sampah plastik dibuang ke laut, akan memengaruhi perkembangan ikan. Selain itu berdampak negative juga pada kadar oksigen yang dihasilkan. Sebab akan terjadinya pertumbuhan bakteri di laut. Sampah itu butuh waktu ratusan tahun sebelum terurai sempurna. Dalam prosesnya sampah hancur menjadi partikel-partikel kecil. Kemudian menyebar diperairan dan tanpa sadar dikonsumsi oleh hewan-hewan di lautan. membuat akan kerusakan ekosistem laut musnah dan hancur dengan tidak semestinya.

No comments:

Post a Comment