Monday, November 4, 2019

KERASNYA BEKERJA DI PERANTAUAN


Nama : Annisa Nur Azizah
Nim : A15.2018.01277
CREATIF WRITING


KERASNYA BEKERJA DI PERANTAUAN

            Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman yang modern ini membuat orang-orang semakin kesusahan dalam hal mencari pekerjaan, meskipun pekerjaan kini tidak menuntut adanya jurusan apapun yang terpenting adalah minimal lulusan dari SMA/SMK. Seperti contohnya Chusaini biasa di panggil dengan nama Seni. Dia merupakan lulusan S1 jurusan pertanian yang kini bekerja di pabrik PT. INDUKTOR INDO yang terletak di kota Boyolali. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang memproduksi trafo listrik.
Dia bekerja pada bagian pengawasan, dia memiliki tanggung jawab yang besar di umurnya yang masih terbilang muda yaitu 28 tahun. Di umurnya yang masih muda ini dia harus mengawasi anak buahnya yang sejumlah 35 orang dan dia pun hanya mengawasi mereka sendirian. Anak buah Chusaini ini rata-rata mereka adalah anak-anak muda yang berumur sekitar 25 tahun dan mereka merupakan lulusan dari Sma dan Smk. Pekerjaan bagian produksi yang di awasi oleh Chusaini ini tidak menuntut jurusan apapun yang terpenting adalah memiliki ijazah Sma/Smk.
Bekerja di pabrik ini di tentukan dengan jadwal yaitu sift. Sift ini ada 3 sesi yaitu pada sift petama dari jam 6 pagi hingga jam 2 siang, sift kedua dari jam 2 siang hingga jam 10 malam, dan sift ke tiga dari jam 10 malam hingga jam 6 pagi. Setiap seminggu sekali akan berganti-gantian sift. Contohnya minggu ini Chusaini bekerja pada sift petama maka pada minggu besok dia akan bekerja pada sift kedua dan seterusnya seperti itu. Karena setiap minggu berganti-ganti sift tetapi anak buah dari Chusaini ini tidak pernah ganti-ganti jadi sampai kapanpun anak buahnya tetaplah mereka dan yang selalu mengawasi setiap pekerjaan mereka adalah Chusaini.
Dia tinggal di Boyolali hidup sendiri di kos yang berjarak 5 menit dari tempatnya bekerja. Sertiap harinya ia berjalan kaki sendiri karena jaraknya yang cukup dekat sehingga memudahkannya untuk berangkat tanpa takut terlambat sampai di tempatnnya dia bekerja. Di pabrik dia bekerja setiap bulannya mendapatkan gaji sebesar 3 juta rupiah perbulannya. Karena dia hidup sendiri di Boyolali gaji 3 juta yang ia dapatkan perbulannya sudah merupakan cukup baginya.
Dia merupakan seorang rantauan dari Wonosobo, biasanya jika dia pulang ke kampung halamannya hanya menaiki motor sendiri yang menempuh waktu 3 jam. Dia jarang sekali pulang kampong karena tempat tinggalnya yang cukup jauh, sehingga membuatnya untuk pulang ke kampong halaman menjadi jarang sehingga susah untuk bisa sering-sering bertemu dengan keluarga di rumah.
Setiap pekerjaan pasti akan ada susah senangnya. Seperti Chusaini yang berkeja di pabrik trafo ini ada susah dan senangnya. Senangnya dia dalam menjalankan pekerjaan ini adalah dia bisa mempelajari hal baru sebab dia merupakan dari lulusan dari jurusan pertanian yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal listrik dan dia juga merupakan lulusan dari sma yang berada di jurusan Ips yang pastinya tidak ada pelajarannya yang menyangkut pekerjaannya tersebut. Dan susahnya dalam menjalankan pekerjaan ini merupakan adanya sift-siftfan dalam bekerja di pabrik. Tetapi, memang sift-siftfan itu memang sudah konsekuensi dalam bekerjanya ia di pabrik tersebut.
Dari kerja kerasnya mas Chusaini ini yang bekerja di pabrik tersebut dapat kita tiru dari kerja kerasnya sehari-hari dan tanggung jawabnya. Karena bekerja di perantauan itu memang harus menerima apapun resikonya yang akan di tanggungnya entah itu buruk atau baiknya karena itu memang sudah konsekuensinya.

No comments:

Post a Comment