Tuesday, November 5, 2019


Muhammad Aan Khunayfi
A15.2018.01274




Mas Duwik adalah seseorang yang berprofesi sebagai tukang parkir di kampus UDINUS, Mas Duwik berprofesi sebagai tukang parker di UDINUS kurang lebih sudah 3 tahun, usia Mas Duwik terbilang cukup muda, yaitu 24 tahun, di usianya yang cukup muda itu Mas Duwik lebih memilih bekerja keras di banding hahahehe layaknya orang seumurannya.

Mas Duwik merasa betah dan nyaman menjalani profesi tersebut, dan alasan Mas Duwik tentang itu ialah karena mahasiswa/I UDINUS cukup tertib dalam pinataan parkir, namun ternyata ada juga sesekali yang membuat Mas Duwik gasuka, yaitu mahasiswa/I terkadang sangat sulit untuk menunjukkan STNK, “padahal menunjukkan STNK tidak sesusah itu kan mas.” Ujar Mas Duwik.
Mas Duwik mensyukuri apa yang dia dapat dari profesinya saat ini untuk melengkapi kebutuhannya sehari-hari,meskipun ia belum menikah tetapi ia merasa kebutuhannya semakin hari semakin banyak, Mas Duwik merasa cukup akan pekerjaan yang ia jalani saat ini hal itu meski di usianya saat ini bisa dibilang titik terboros dalam hidupnya, godaan ini itu agar keinginannya terpenuhi, namun Mas Duwik bisa mengontrol hal itu, pada  saat melamar pekerjaan mas Duwik merasa malu dan khawatir kalau ia tidak diterima karena ia hanya lulusan smp dan belum punya pengalaman bekerja sama sekali, meskipun saingannya banyak pada waktu melamar pekerjaan namun ia tidak pernah berhenti berdoa dan berusaha untuk mencari pekerjaan ditempat lainnya. Pada waktu diundang untuk interview dia pun hanya bias jujur kalau dia belum pernah bekerja dan belum mempunyai pengalaman bekerja yang cukup, hanya bermodalkan nekat ia pun tidak pantang menyerah dan akhirnya dia diterima bekerja di Udinus. Selama bekerja ia mengalami banyak permasalahan, ia pernah dikucilkan oleh teman bekejanya karena ia selalu dipuji oleh para karyawan kampus karena kegigihannya dalam bekerja. Ia sangat rajin untuk menata motor yang pakirnya kurang teratur agar bisa ditempati  oleh orang lain. Pada waktu dikucilkan teman kerjanya ia hanya bisa diam dan sabar dan ia menyadari kalau semua pekerjaan pasti ada resikonya entah itu dari factor internal maupun dari factor eksternalnya. Terkadang ia juga merasa jengkel pada mahasiswa karena parkirnya tidak teratur dan sembarangan, pada saat meminta mahasiswa untyuk melihatkan stnk, banyak mahasiswa yang menolak dan ngeyel untuk  di berhentikan karena tidak membawa stnk. Namun ia menghadang jalan keluarnya menyuruh mahasiswa tersebut untuk meninggal kartu identitasnya.

No comments:

Post a Comment