Thursday, November 7, 2019

Perjuangan Ibu dibaris Terdepan


Penulis : Syilvia Bayu Diana
A15.2018.01116

 “Kerja keras, perjuangan, ketekunan, kesungguhan ternyata bukan slogan mustahil” Kutipan Merry Riana menjadi patokan motto hidup Ludang, pedagang molen di samping utara gerbang Udinus tepatnya di Jl. Yudistira, Pendrikan Kidul, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang.
Udara hangat Kota Semarang disiang hari dan panasnya asap penggorengan molen membuat Ludang berkali-kali menyeka keringatnya. Dibalik gerobak molen mini yang jadi tameng perekonomiannya, Ludang selalu tersenyum cerah bersamaan dengan terik surya. Ludang, sapaan pedagang molen di Udinus sudah menggerai jajanan kulinernya sejak 10 tahun yang lalu, baginya lingkungan Udinus adalah tempat yang tepat untuknya mengais rezeki.
Siang itu, jalanan begitu sepi namun Ludang tetap membuat adonan dan menggoreng molennya. Sikap optimis yang tinggi membuat Ludang percaya diri dagangannya akan laku terjual. Dari senin hingga jum’at ia menyetok adonan 12 kilogram dan 5 sisir pisang setiap harinya. Sambil memilin adonan, ia bercerita tentang bisnis lainnya yang bergerak dibidang cathering kue kering,
“Saya kalau hari sabtu sama minggu terima orderan kue kering. Dan kalau puasa kan saya ngga jualan molen, jadi saya tiap hari terima orderan nastar dan kawan-kawannya sampai gong nya di Hari Raya..” Ungkap Ludang dengan nada bersemangat mengingat momen hari raya kemarin. Ludang Snack and Catering’ kedepannya akan  bekerjasama dengan Go-jek untuk mempermudah pengantaran pesanan.
Tak sampai disitu, wanita yang sering disapa Ludang pun ikut berkontribusi dalam komunitasi Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI), yang menjual berbagai produk minuman herbal dan produk kecantikan herbal. Kelincahannya dalam berbisnis membuat ia dijuluki wanita tangguh. Membantu perekonomian keluarga dan tidak memberatkan suaminya yag bekerja menjadi buruh merupakan cikal bakal ia menjadi gesit dalam berbisnis.
Memikul kehidupan ketiga anaknya bukanlah perihal yang mudah bagi seorang ibu, tapi berkat kolaborasi sempurna dari Ludang dan Suaminya, ketiga anaknya kini telah menjadi “orang”. Anak pertamanya yang berusia 28 tahun telah menuntaskan studi S1 Ekonomi di Universitas Semarang, anak keduanya masih menempuh pendidikan di Universitas Semarang sambil nyambi di JNE, dan si bungsu mengikuti jejak kakaknya di JNE.
 “Anak saya yang dua berkerja dan yang satu masih sekolah, jadi dua laki-laki dan satu perempuan. Yang dua sama sama kuliah di Universitas Semarang dan kerja di JNE” jelas wanita yang disapa Ludang itu.
Walaupun ketiga anaknya sudah sukses dan memiliki penghasilan sendiri. Ludang tidak pernah lepas tangan untuk memnuhi kebutuhan hidup anaknya.  Menurutnya itulah kewajiban orang tua untuk membiayai kehidupan anaknya. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang dan bahkan hanya dengan berjualan molen ia bisa menyekolahkan kedua anaknya di bangku kuliah. Hal itulah yang membuatnya semangat berkeja hingga saat ini. Dirinya juga sudah terbiasa menjadi seoarang yang pekerja keras sejak kecil. “Jadi karena dulu anak masih sekolah, ya mau tidak mau saya harus memenuhi biaya mereka sekolah ya dengan jualan molen ini. Alhamdulillah sekarang anak sudah besar ya jadi bisa membantu memenuhi kebutuhan juga sebenarnya” ungkap Ludang sambil tertawa.
“Sebenarnya itu mudah ya, apapun pekerjaannya kita semua harus bekerja keras untuk mengembangkan potensi apa yang ada dalam diri. Kalau kita senang melakukannya insyaaallah nanti kedepannya bakal sukses” pungkas Ludang meyakinkan.
Etos kerja dari Ludang adalah bukti nyata bahwa manusia yang selalu berusaha akan selalu diberi kemudahan dan kecukupan bagi rezekinya. Tuhan tidak tidur, melaikan ia memantau umatnya dari dekat. Kebersyukuran dari keluarga bu Ludang membawa kemakmuran dihidup mereka.

No comments:

Post a Comment