Penulis : Syilvia Bayu Diana
A15.2018.01116
“Kerja keras, perjuangan, ketekunan, kesungguhan ternyata bukan slogan mustahil” Kutipan Merry Riana menjadi patokan motto hidup Ludang, pedagang molen di samping utara gerbang Udinus tepatnya di .
Udara
hangat Kota Semarang disiang hari dan panasnya asap penggorengan molen membuat
Ludang berkali-kali menyeka keringatnya. Dibalik gerobak molen mini yang jadi
tameng perekonomiannya, Ludang selalu tersenyum cerah bersamaan dengan terik surya.
Ludang, sapaan pedagang molen di Udinus sudah menggerai jajanan kulinernya
sejak 10 tahun yang lalu, baginya lingkungan Udinus adalah tempat yang tepat
untuknya mengais rezeki.
Siang
itu, jalanan begitu sepi namun Ludang tetap membuat adonan dan menggoreng
molennya. Sikap optimis yang tinggi membuat Ludang percaya diri dagangannya
akan laku terjual. Dari senin hingga jum’at ia menyetok adonan 12 kilogram dan
5 sisir pisang setiap harinya. Sambil memilin adonan, ia bercerita tentang
bisnis lainnya yang bergerak dibidang cathering
kue kering,
“Saya kalau hari sabtu sama minggu
terima orderan kue kering. Dan kalau puasa kan saya ngga jualan molen, jadi
saya tiap hari terima orderan nastar dan kawan-kawannya sampai gong nya di Hari
Raya..” Ungkap Ludang dengan nada bersemangat mengingat
momen hari raya kemarin. Ludang Snack
and Catering’ kedepannya akan bekerjasama dengan Go-jek untuk mempermudah pengantaran
pesanan.
Tak
sampai disitu, wanita yang sering disapa Ludang pun ikut berkontribusi dalam komunitasi
Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI), yang menjual berbagai produk
minuman herbal dan produk kecantikan herbal. Kelincahannya dalam berbisnis
membuat ia dijuluki wanita tangguh. Membantu perekonomian keluarga dan tidak
memberatkan suaminya yag bekerja menjadi buruh merupakan cikal bakal ia menjadi
gesit dalam berbisnis.
Memikul
kehidupan ketiga anaknya bukanlah perihal yang mudah bagi seorang ibu, tapi
berkat kolaborasi sempurna dari Ludang dan Suaminya, ketiga anaknya kini telah menjadi
“orang”. Anak pertamanya yang berusia 28 tahun telah menuntaskan studi S1 Ekonomi
di Universitas Semarang, anak keduanya masih menempuh pendidikan di Universitas
Semarang sambil nyambi di JNE, dan si bungsu mengikuti jejak kakaknya di JNE.
“Anak saya yang dua berkerja dan yang satu
masih sekolah, jadi dua laki-laki dan satu perempuan. Yang dua sama sama kuliah
di Universitas Semarang dan kerja di JNE” jelas wanita yang disapa Ludang itu.
Walaupun
ketiga anaknya sudah sukses dan memiliki penghasilan sendiri. Ludang tidak
pernah lepas tangan untuk memnuhi kebutuhan hidup anaknya. Menurutnya itulah kewajiban orang tua untuk
membiayai kehidupan anaknya. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang dan bahkan
hanya dengan berjualan molen ia bisa menyekolahkan kedua anaknya di bangku
kuliah. Hal itulah yang membuatnya semangat berkeja hingga saat ini. Dirinya
juga sudah terbiasa menjadi seoarang yang pekerja keras sejak kecil. “Jadi
karena dulu anak masih sekolah, ya mau tidak mau saya harus memenuhi biaya
mereka sekolah ya dengan jualan molen ini. Alhamdulillah sekarang anak sudah
besar ya jadi bisa membantu memenuhi kebutuhan juga sebenarnya” ungkap Ludang
sambil tertawa.
“Sebenarnya
itu mudah ya, apapun pekerjaannya kita semua harus bekerja keras untuk
mengembangkan potensi apa yang ada dalam diri. Kalau kita senang melakukannya
insyaaallah nanti kedepannya bakal sukses” pungkas Ludang meyakinkan.
Etos
kerja dari Ludang adalah bukti nyata bahwa manusia yang selalu berusaha akan
selalu diberi kemudahan dan kecukupan bagi rezekinya. Tuhan tidak tidur,
melaikan ia memantau umatnya dari dekat. Kebersyukuran dari keluarga bu Ludang
membawa kemakmuran dihidup mereka.
No comments:
Post a Comment