Monday, November 4, 2019

SEBUAH HARAPAN KECIL






Ketekunan akan membuahkan hasil dari apa yang di impikan, meski menggapai itu merupakan hal yang tidak mudah dan melalui proses yang Panjang.
Seperti yang di rasakan komariyah. Nenek berusia 67 tahun, kelahiran Bulakamba, Brebes, 25 Mei 1947. lahir sebagai anak ke 4 dari 5 bersaudara yang memiliki 3 anak dan 2 cucu. Nenek yang berusia 67 tahun itu merawat 2 cucunya yang bernama Nur dan Haikal yang telah di tinggal merantau oleh orang tuanya saat Nur berumur 7 tahun dan Haiklal berumur 10 tahun, saat ini Haikal duduk di kelas 1 SMA dan Nur duduk di kelas 2 SMP. Di mata cucunya, Beliau adalah pahlawan karena telah menjaga, menghidupi, merawat dan menyekolahkan kedua cucunya hanya seorang diri tanpa mengandalkan orang lain.
Beliau sekarang tinggal di sebuah  gubuk kecil yang di tempati bersama  kedua cucunya di desa Cipelem kecamatan Bulakamba kabupaten Brebes, gubuk yang kecil ini terdapat lubang di mana-mana . tak ada barang berharga di dalam gubuk miliknya. Namun beliau tetap bersyukur dengan keadaan yang di di rasakannya saat ini dan tidak pernah ada kata mengeluh yang keluar dari perkataan  beliau.
Menjadi seorang petani sudah di tekuni nenek komariyah selama 40 tahun, bekerja sebagai seorang petani bukan sekedar untuk mencari nafkah saja namun juga beliau bekerja untuk menyekolahkan kedua cucunya,  nenek Komariyah dengan sabar dan tanpa mengenal lelah setiap pagi saat orang-orang masih tertidur beliau sudah berangkat berkerja di sawah, hal itu di lakukan hampir setiap hari. Beliau berhasil mengumpulkan uang sedikit demi sedikit selama 40 tahun untuk membiayai cucunya sekolah, bahkan beliau tidak hanya mengandalkan tanaman bawangnya saja, namun ada bibit cabai yang tumbuh di pekarangannya, tentu untuk menambah penghasilannya.
“yang membuat saya senang berkerja sebagai petani dan tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan petani ini karena teman-teman saya yang kerja di sawah ini orangnya ramah dan sangat baik terhadap saya” ucapannya dengan logat jawa yang kental.
Bukan hanya nenek komariyah saja, rupanya petani bawang lain bernama mbah Leni pun merasakan nasib yang sama, mereka berusaha mengumpulkan uang dari hasil bawangnya untuk menghidupi dan menyekolahkan cucunya. Mbah Leni adalah teman nenek Komariyah yang juga berkerja sebagai petani bawang, menurut beliau nenek komariyah seorang yang sangar penyabar dan tidak pernah putus semangat dalam menjalani pekerjaannya,”walaupun ujian hidupnya sangat banyak tapi beliau orang yang tidak pernah merasa memiliki beban hidup karena dalam hidupnya hanya ada kata bersyukur dan tidak pernah mengeluh” ujar mbah Leni dengan senyuman hangat.
Di saat harga bawang dan cabai murah, beliau membuat inovasi di mana bawang-bawangnya di olah menjadi bawang goreng yang lezat yang memiliki harga nilai yang tinggi,meski menambah modal namun itu salah satu cara beliau agar bawang laku terjual di pasaran dan menimalisir kerugian, jika modal tidak memungkinkan dengan terpaksa nenek komariyah mencari pekerjaan sampingan, dari mulai memasak di warung-warung atau catering, mencari pekerjaan tambahan untuk tetap memenui kebutuhan hidup beliau dan cucunya.
“Pekerjaan apapun akan saya lakukan untuk menghidupi  dan  menyekolahkan kedua cucu saya sampai sarjana agar bisa menjadi orang yang pintar dan berguna bagi Negara, tudak seperti saya yang hanya tamat SD , selain itu  saat melakukan suatu pekerjaan  yang terpenting adalah  halal dan di ridhoi oleh allah agar hidup selalu berkah” tutur beliau.
Meskipun orang tua dari cucu-cucunya mengirimkan sepeser uang untuk nenek Komariyah, beliau mempergunakannya hanya untuk kebutuhan sekolahnya saja, dan hanya sesekali saja mendapat kiriman dari anaknya, itupun jika ada. Pernah ketika cucunya sakit terkena DBD dan nenek kKmariyah tidak mempunyai biaya yang cukup untuk membayar puskesmas dan beliau menghubungi anaknya agar secepatnya mengirimkan uang untuk biaya pengobatan cucunya, namun suara isak tangis terdengar jelas dari suara nenek komariyah, ”Saya cuman dengar tangisnya saja mbak, kata anak saya di sana mereka tidak punya uang untuk di kirim, untuk makan sehari-hari pun taka ada, saya bingung akhirnya saya pinjam uang ke tetanga dulu, untung saja tetangga saya mau bantu.”
Banyak sekali pelajaran penting yang bisa kita petik dari nenek komariyah ini, beliau telah mengajarkan arti dan nilai kehidupan yang sesungguhnya kepada kita untuk senantiasa selalu rendah hati dan bersyukur bagaimanapun keadannnya.

Nama:              Jazila Chaerun Nisa
Nim:                A15.2018.01264
Mata kuliah:    Creative writing


No comments:

Post a Comment