Thursday, October 31, 2019

Rona Mentari, Sang Juru Dongeng Keliling Yang Membantu Mencerdaskan Generasi Bangsa



M
ungkin seiring berjalannya waktu, niat membaca generasi penerus bangsa memang sudah mulai melemah. Namun, salah seorang aktivis muda bernama Rona Mentari berusaha menyongsong putra dan putri bangsa untuk tidak berhenti mencari ilmu. Perempuan berusia 27 tahun ini, merupakan seorang juru dongeng asal Yogyakarta yang pernah menjadi satu-satunya pendongeng asal Indonesia yang hadir di Sydney International Storytelling Conference pada tahun 2014 silam.
Wanita yang akrab dipanggil Rona itu mengaku, bahwa dirinya sama sekali tak menyangka menjadi sosok ‘jagoan ngomong di mana-mana dan dihadapan orang banyak pula. “Dulu aku itu penakut. Saking takutnya aku pernah ngompol karena digertak atau dibentak,” ujar rona sembari terbahak. Saat berada di Taman Kanak-Kanak pun, ia juga tak memiliki banyak teman. Hanya saja ketika sang guru mulai bercerita di depan kelas, Rona bisa berubah menjadi sangat antusias. Setelah mendengar cerita dongeng dari bibir gurunya, Wanita kelahiran Yogyakarta, 23 September 1992 ini kerap menceritakan ulang dongeng yang disampaikan ibu guru kepada orang tuanya lengkap dengan mimik atau ekspresi wajahnya. “ Orang tuaku melihat potensi kemampuan bercerita yang aku punya, mereka pendengar yang baik,” tutur Rona.
Orang tua Rona pun lantas melibatkan Rona untuk bercerita di berbagai kesempatan yang selaras dengan bakat yang dimiliki oleh anaknya tersebut. Wanita itu mengaku, awalnya sempat merasakan grogi  bahkan hingga sempat pura-pura tidur karena takut untuk tampil. “Cara yang dilakukan papa jadi melahirkan kepercayaan diri tanpa membuatku merasa kehilangan masa kecil,” aku Rona. Bahkan Rona kecil pernah diajak sang ayah untuk mendongeng di hadapan puluhan anak jalanan.
Salah satu pengalaman yang tak dapat dilupakan oleh sosok Rona adalah ketika SMA, ia pernah diminta untuk mendongeng dihadapan anak-anak yang berkebutuhan khusus. “Waktu itu aku bingung apakah mereka bisa mengerti,karena ada yang nggak bisa melihat, keterbelakangan mental, tapi pas aku mulai memainkan gitar semua memperhatikan.” Ucapnya sambil berbinar matanya.
Seiring berjalannya waktu, Rona pun semakin gencar untuk terlibat dalam acara-acara berdongeng. Sehingga secara perlahan, rasa percaya diri pun mulai terbentuk. Mendongeng pun menjadi aktivitasnya hingga kini. Tak ada lagi Rona si gadis kecil yang hanya memiliki satu teman bermain, pendiam, serta pemalu. Mendongeng membantu dirinya menjadi perempuan yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan berani mengeksplorasi hal-hal baru.
Telah lebih dari 10 tahun ia berkeliling untuk mendongeng di beberapa tempat di Indonesia, untuk mendongeng kepada anak-anak serta mengajar dongeng kepada mereka. Tak luput, ia pun turut membantu ‘belajar’ orang tua di banyak kalangan usia. Menurut gadis berhijab tersebut, mendidik dan merawat anak hari ini sama seperti menanam benih untuk masa depan kita.
Dari sekian tahun pengalaman yang ia miliki dalam hal mendongeng, ada cerita menyentuh dari sosok juru dongeng keliling ini selain pengalamannya ketika SMA. Kala itu, ia mendapatkan kesempatan untuk mendongeng di salah satu pulau kecil di utara Pulau Jawa. Rona bertanya kepada seorang anak laki-laki mengenai apa yang ingin ia capai ketika dewasa. Lalu si anak kecil menjawab dengan lantang, “Aku ingin menjadi seorang koruptor!.” Lantas, ia pun kaget dengan jawaban tersebut. Tak lama kemudian, jawaban itu membangunkan si juru dongeng itu sebagai seorang pendongeng untuk melakukan sesuatu.
Rona mulai mengimajinasikan masa depan yang indah melalui sebuah cerita. Karena cerita atau dongeng dapat menjadi penggerak perubahan. Korupsi serta berbagai macam permasalahan bangsa kita tentu berbeda menurutnya, namun itu semua termasuk bencana. Dengan menciptakan serta menyebarkan cerita dan dongeng dongeng yang baik mulai hari ini, ia berharap  dapat menyelamatkan masa depan bangsa kita menjadi bangsa yang lebih baik lagi.


Meiske Nadia Damayanti
A15.2018.01104

No comments:

Post a Comment