M
|
ungkin seiring berjalannya waktu, niat
membaca generasi penerus bangsa memang sudah mulai melemah. Namun, salah
seorang aktivis muda bernama Rona Mentari berusaha menyongsong putra dan putri
bangsa untuk tidak berhenti mencari ilmu. Perempuan berusia 27 tahun ini,
merupakan seorang juru dongeng asal
Yogyakarta yang pernah menjadi satu-satunya pendongeng asal Indonesia yang
hadir di Sydney International
Storytelling Conference pada tahun 2014 silam.
Wanita yang akrab
dipanggil Rona itu mengaku, bahwa dirinya sama sekali tak menyangka menjadi
sosok ‘jagoan ngomong di mana-mana dan dihadapan orang banyak pula. “Dulu aku
itu penakut. Saking takutnya aku pernah ngompol karena digertak atau dibentak,”
ujar rona sembari terbahak. Saat berada di Taman Kanak-Kanak pun, ia juga tak
memiliki banyak teman. Hanya saja ketika sang guru mulai bercerita di depan
kelas, Rona bisa berubah menjadi sangat antusias. Setelah mendengar cerita
dongeng dari bibir gurunya, Wanita kelahiran Yogyakarta, 23 September 1992 ini
kerap menceritakan ulang dongeng yang disampaikan ibu guru kepada orang tuanya
lengkap dengan mimik atau ekspresi wajahnya. “ Orang tuaku melihat potensi
kemampuan bercerita yang aku punya, mereka pendengar yang baik,” tutur Rona.
Orang tua Rona pun
lantas melibatkan Rona untuk bercerita di berbagai kesempatan yang selaras
dengan bakat yang dimiliki oleh anaknya tersebut. Wanita itu mengaku, awalnya
sempat merasakan grogi bahkan hingga
sempat pura-pura tidur karena takut untuk tampil. “Cara yang dilakukan papa
jadi melahirkan kepercayaan diri tanpa membuatku merasa kehilangan masa kecil,”
aku Rona. Bahkan Rona kecil pernah diajak sang ayah untuk mendongeng di hadapan
puluhan anak jalanan.
Salah satu pengalaman
yang tak dapat dilupakan oleh sosok Rona adalah ketika SMA, ia pernah diminta
untuk mendongeng dihadapan anak-anak yang berkebutuhan khusus. “Waktu itu aku
bingung apakah mereka bisa mengerti,karena ada yang nggak bisa melihat,
keterbelakangan mental, tapi pas aku mulai memainkan gitar semua
memperhatikan.” Ucapnya sambil berbinar matanya.
Seiring berjalannya
waktu, Rona pun semakin gencar untuk terlibat dalam acara-acara berdongeng.
Sehingga secara perlahan, rasa percaya diri pun mulai terbentuk. Mendongeng pun
menjadi aktivitasnya hingga kini. Tak ada lagi Rona si gadis kecil yang hanya
memiliki satu teman bermain, pendiam, serta pemalu. Mendongeng membantu dirinya
menjadi perempuan yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan berani
mengeksplorasi hal-hal baru.
Telah lebih dari 10
tahun ia berkeliling untuk mendongeng di beberapa tempat di Indonesia, untuk
mendongeng kepada anak-anak serta mengajar dongeng kepada mereka. Tak luput, ia
pun turut membantu ‘belajar’ orang tua di banyak kalangan usia. Menurut gadis
berhijab tersebut, mendidik dan merawat anak hari ini sama seperti menanam
benih untuk masa depan kita.
Dari sekian tahun
pengalaman yang ia miliki dalam hal mendongeng, ada cerita menyentuh dari sosok
juru dongeng keliling ini selain pengalamannya ketika SMA. Kala itu, ia
mendapatkan kesempatan untuk mendongeng di salah satu pulau kecil di utara
Pulau Jawa. Rona bertanya kepada seorang anak laki-laki mengenai apa yang ingin
ia capai ketika dewasa. Lalu si anak kecil menjawab dengan lantang, “Aku ingin
menjadi seorang koruptor!.” Lantas, ia pun kaget dengan jawaban tersebut. Tak
lama kemudian, jawaban itu membangunkan si juru dongeng itu sebagai seorang
pendongeng untuk melakukan sesuatu.
Rona mulai
mengimajinasikan masa depan yang indah melalui sebuah cerita. Karena cerita
atau dongeng dapat menjadi penggerak perubahan. Korupsi serta berbagai macam
permasalahan bangsa kita tentu berbeda menurutnya, namun itu semua termasuk
bencana. Dengan menciptakan serta menyebarkan cerita dan dongeng dongeng yang baik
mulai hari ini, ia berharap dapat
menyelamatkan masa depan bangsa kita menjadi bangsa yang lebih baik lagi.
Meiske Nadia Damayanti
A15.2018.01104

No comments:
Post a Comment