Sabian Ray Dhista
Almayda
A15.2018.01244
Ujian Praktik Creative
Writing (Susulan)
Kerja
Keras Tukang Siomay Demi Sang Anak
Siomay adalah makanan pengganjal perut yang terbuat dari
tepung dan berisi daging ikan. Meskipun makanan ini bukan berasal dari negeri
ini tetapi para pedagang biasanya dari pedesaan dan kota kota kecil. Kebanyakan
para penduduk Ngijo, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang mengenal pedagang
siomay yang jadi favorit mereka. Sebut saja Pak Eko, ia sebetulnya tidak ingin
kisahnya saya tulis disini tetapi setelah saya bujuk akhirnya dia mau. Pak Eko
adalah pedagang yang bersifat baik dan ia sangat ramah dengan pambelinya. Ia mulai
memasak siomay dari pukul lima pagi dan mulai berjualan keliling pukul sepuluh.
Penjualan siomay beliau hampir setiap hari berakhir pada pukul tujuh malam.
Sebelum
menjadi pedagang siomay, awalnya pak Eko bekerja serabutan di kota Brebes dia
berpenghasilan lebih kecil daripada sekarang. Beliau diajak merantau ke
Semarang dengan teman sekampungnya dan bekerja sebagai tukang bangunan disebuah
perumahan. Energi dan tenaganya terkuras habis menjadi tukang diperumahan itu. Akhirnya
beliau pertama kali belajar membuat siomay dengan seorang pedagang yang dikenal
pada saat naik bis menuju Brebes. Pak eko pun berteman dengan pedagang siomay
tersebut yang bernama Mas Arie dan tinggal bersama disebuah kontrakan yang
sederhana di daerah Gunungpati.
Dengan
semangat Pak Eko mulai berjualan dari daerah Ngijo hingga ke sekitaran kampus
Unnes dengan berjalan kaki. Belasan kilometer ia hadapi demi mencari uang untuk
dia dan anaknya yang berada di kota asalnya, Brebes. Apabila siomaynya terjual
sampai habis beliau bisa mendapatkan keuntungan tiga ratus ribu per hari, jika
tidak habis beliau hanya mendapatkan keuntungan seratus ribu. Beliau memiliki kesulitan
berjualan siomay dikarenakan belum mempunyai benda benda untuk melindungi
dirinya dan dagangannya. Jika terjadi hujan ia tidak mempunyai payung beliau cuma
bisa berteduh diberbagai tempat. Ia pun pernah terpeleset dan luka luka ketika
ingin kembali ke kontrakan, dikarenakan licinnya jalan yang beraspal jelek
dibeberapa daerah Gunungpati.
Hebatnya
beliau tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur atas berapa pun uang yang
didapat. Pak Eko juga merasa beruntung beliau masih diberikan umur yang panjang
oleh Tuhan Yang Maha Esa dan masih bisa bertemu dengan anaknya. Beliau mempunyai
mimpi dengan berjualan siomay ini dia bisa meluluskan anaknya dan membeli motor
untuk berjualan. Ia berkata “Syukur syukur aku bisa Umrah, pingin banget ke
Mekkah” itulah keinginan dari pak Eko yang terakhir. Beliau mengaku sangat
mengutamakan anaknya daripada dirinya.
Di
kampung halamannya Pak Eko hidup berdua dengan putranya yang masih duduk di
Sekolah Menengah Atas. Ia sudah berpisah dengan istrinya karena sang istri
sudah tidak kuat merasakan kekurangan ekonomi yang mereka derita. Akibat
perpisahan itu putranya sekarang hidup dengan nenek dan keluarga pak Eko yang
tinggal disalah satu desa di kota Brebes. Walaupun begitu ia masih tetap ceria
dan berdagang dengan sepenuh hati demi membiayai kehidupan dirinya dan anaknya.
Saya sempat bertanya kepada beliau, “Bapak sering pulang ke Brebes?” terus pak
Eko menjawab “Ndak sih jarang banget, aku sampe kangen sama anakku. Dia satu
satunya yang aku punya”. Pada saat itu walaupun beliau tersenyum tetapi rautnya
berisi kesedihan dan sinaran yang mendalam. Pak Eko mengajarkan banyak hal yang
menjadi inspirasi bagi saya. Kerja kerasnya menggambarkan seorang ayah
melakukan apa saja demi anaknya, walaupun dia terjatuh dan menghabiskan tenaga
yang ia punya. Tetap saja semua itu demi anak yang ia sayang satu satunya.









